Peneliti LIPI: Gempa Lombok 6,9 SR Berasal dari Segmen Timur

oleh

Metrobatam, Jakarta – Rentetan gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menimbulkan banyak korban jiwa. Pada Minggu 19 Agustus 2019, gempa berkekuatan 6,9 skala richter (SR) mengguncang daerah tersebut.

Berdasarkan data dari BNPB, dampak gempa Lombok dan sekitarnya sejak gempa pertama 6,4 SR pada 29 Juli 2018 yang kemudian disusul gempa 7 SR pada 5 Agustus 2018, 6,5 SR pada 19 Agustus 2018 siang dan 6,9 SR pada 19 Agustus 2018 malam menyebabkan 506 orang meninggal dunia.

Selain itu, 431.416 orang lainnya mengungsi, 74.361 unit rumah rusak dan kerusakan lainnya. Diperkirakan kerusakan dan kerugian mencapai Rp7,7 triliun.

Terhadap gempa teranyar berkekuatan 6,9 SR pada 19 Agustus 2018 kemarin, BMKG menyimpulkan itu merupakan aktivitas gempa baru yang berbeda dari gempa berkekuatan 7 SR yang terjadi pada 5 Agustus 2018.

Terkait hal itu, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, gempa 6,9 SR yang terjadi kemarin disebabkan terpicunya segmen sebelah timur dari gempa-gempa sebelumnya.

“Tiga gempa pertama yang besar, 6,4, 7,0, 6,5 SR itu di segmen tengah. Yang kemarin itu (6,9 SR) di segmen timur akhirnya terpicu juga dengan segmen tengah,” kata Danny saat dihubungi Okezone, Selasa (21/8).

Danny menerangkan, sumber gempa yang bersebelahan akan memicu wilayah lainnya sehingga menimbulkan gempa baru. Misalnya saja ketika gempa di Aceh pada 2004. Kala itu, gempa yang berawal dari daerah Serambi Makkah merembet ke daerah lainnya, seperti Nias, Bengkulu hingga kembali lagi ke utara, yakni Mentawai.

“Jadi sama. Cuma skalanya (gempa Sumatera dan Lombok) berbeda,” imbuhnya. (mb/okezone)