Metrobatam.com, Bintan – Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sultan Abdurrahman, Provinsi Kepulauan Riau mengeluhkan kebijakan kampus yang tidak transparan terhadap biaya-biaya yang dipungut dari mahasiswa.

Bahkan mahasiswa menduga ada indikasi penyimpangan terhadap penggunaan biaya tersebut, salah satu contohnya adalah dana pelatihan Fardu Kifayah yang dipungut sebesar Rp550 ribu dari masing-masing mahasiswa semester akhir.

“Parah nih kalau begini terus bang, bayar ini bayar itu, nggak jelas semua digunakan untuk apa. Kita semester akhir harus keluarkan duit 550 ribu untuk pelatihan Fardu Kifayah (Memandikan jenazah,red). Kami kira dengan mengeluarkan dana sebanyak itu kami mendapatkan pelatihan yang maksimal. Ini cuma 1 jam saja dan alat-alat diperlukan pun kita tahu dari kepunyaan alumni sebelumnya. Jadi kami bayar duit itu untuk apa,”ujar salah seorang mahasiswa yang minta namanya dirahasiakan kepada Metrobatam.com, Sabtu, (23/7).

Selain itu, pungutan uang kemahasiswaan yang jumlahnya dinilai terlalu besar dan tidak masuk akal, yang salah satunya adalah uang buku. Padahal, lanjutnya, buku-buku yang ada diperpustakaam merupakan sumbangan dari Kementerian Agama.

“Kita diwajibkan membayar uang buku, alasannya untuk ngisi buku di perpustakaan. Tapi buku di perpustakaan semuanya buku yang sudah di cap Kementrian Agama,”ujarnya lagi.

Semua biaya yang dipungut terhadap mahasiswa tersebut dirasa sangat memberatkan karena banyak juga mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka merasa terintimidasi jika tidak membayar biaya-biaya yang diwajibkan oleh kampus.

“Kita dipaksa bayar apa-apa yang di minta dari kampus, kita takut nanti akan dipersulit waktu kuliah jika tidak membayarnya,”ucapnya.

Menurut para mahasiswa, pihak kampus harus tranparan terhadap penggunaan dana yang dipungut kepada mahasiswa agar diketahui point-point biayanya. “Pihak kampus perlu menjelaskan penggunaan uang yang kami bayar. Begitu juga penjelasan tentang pemakaian dana bantuan dari pihak luar kampus seperti dana bansos dan hibah dari Provinsi Kepri. Kami cuma minta hak, kami keluarkan duit banyak-banyak, tapi tak tahu digunakan untuk apa,” harapnya.

Menananggapi keluhan mahasiswa ini, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sultan Abdurrahman Kepri, Drs. Razali Jaya, M.Sy ketika dikonfirmasikan mengaku belum mengetahui secara rincian mengenai pungutan dana Fardhu Kifayah tersebut.

“Tentang boneka bekas, itu masih awet, saya tidak taulah rinciannya apa saja, karena saya tidak ngurus sampai rincian seperti itu,”ujar Razali Jaya saat ditemui metrobatam.com, Senin, (25/7).

Razali menjelaskan, penggunaan dana Fardhu Kifayah hanya bagian keuangan yang tahu bagaimana penggunaannya. “Saya tidak tahu, kalau saya tak adalah korupsi-korupsi, saya ini mantan kanwil Kemenag lo,”katanya.

Meskipun demikian, Razali berjanji akan menindaklanjuti adanya keluhan dari mahasiswa ini. Dia berencana akan mengadakan pertemuan dengan seluruh mahasiswa akhir untuk melakukan musyawarah bersama.

“Kita akan kumpulkan seluruh mahasiswa akhir, kita akan cari solusi bersama,”katanya. (Budi Arifin)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...