Risma: Izin Bu, Saya Jangan Dibawa ke Jakarta

Metrobatam, Jakarta – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini jadi pembicara di acara sekolah partai persiapan Pilkada serentak PDIP. Risma pun memaparkan sederet gebrakannya dalam memimpin Surabaya.

“Saya Wali Kota Surabaya. Saya ingin menyampaikan beberapa program yang ada di Surabaya yang saya coba pengin tadi Pak Hasto titip kenapa seperti politik anggaran,” kata Risma membuka paparannya di acara Sekolah Partai PDIP di Wisma Kinasih, Jalan Raya Tapos, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/9).

Read More

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan petinggi PDIP hadir di acara ini. 41 Calon kepala daerah hadir, termasuk Rano Karno dan Djarot Saiful Hidayat yang jadi peserta.

Risma memaparkan ketika ia baru menjabat Wali Kota, di Surabaya ada 163 kelurahan. Karena itu diperlukan anggaran besar untuk belanja pegawai. Risma pun mengecilkan kelurahan yang tidak efektif.

“Menurut saya itu tidak efektif. Akhirnya coba kita gabung menjadi tinggal 154 kelurahan. UPTD Dinas Pendidikan karena kita melayani pakai online maka kemudian UPTD dulu setiap kecamatan ada 1 UPTD Dinas Pendidikan tiap kecamatan. Sekarang tinggal 5. Di UPTD itu ternyata banyak guru. Yang guru saya kembalikan biar mengajar. Kemudian yang bukan guru saya masukkan di kelurahan-kelurahan yang membutuhkan,” kata Risma.

“Dampak itu semua belanja pegawai kita menjadi kecil. Dari belanja, ini sekolah. Tunjangan-tunjangan kelurahan Rp 43 miliar per tahun. Kemudian pendidikan, Rp 5,6 miliar per tahun. Itu yang dicoba. Kenapa? Karena kita butuh banyak uang yang turun untuk masyarakat. Kalau lebih banyak uang turun ke masyarakat kemudian itu kita akan menjadi pemimpin yang punya perhatian,” imbuhnya.

Ia kemudian memaparkan sekolah gratis di Surabaya. Mulai PAUD sampai SMA/SMK, negeri dan swasta diberikan fasilitas yang sama.

“Sepanjang dia ngambil BOPDA dari APBD. BOPDA lebih besar dari BOS. Maka dia punya kewajiban dia harus sekolah gratis,” kata Risma.

“Di seluruh sekolah itu free wifi. Internet gratis. Siapa pun itu. Kita berikan BPjS. Untuk lansia miskin kita berikan makanan setiap hari. Orang cacat kita berikan makanan. Lebih dari Rp 150 miliar kita berikan kepada anak-anak tadi,” imbuhnya.

Balai kota juga dibuka untuk masyarakat. Setiap minggu ketiga ada pasar pertanian. Taman di Surabaya juga free wifi, tiap hari minggu warga memancing di taman.

“Jadi kalau misal di taman mancing ikannya habis saya tambah lagi. Jadi biar bapak-bapaknya nggak ke mana-mana. Mancing saja,” kata Risma.

“Saya juga buatkan sungai, lalu buat kolam renang di Surabaya. Tapi ini masih proses. Jadi biar orang-orang yang nggak mampu bisa berenang. Ada 101 lapangan olahraga saya buat di kampung-kampung. Ada voli, basket, ” paparnya lagi.

Sepanjang sungai di Surabaya dulu penuh PKL. Lalu PKL ia tata. “Sekarang ada taman yang kalau sore anak-anak ada yang nari di sini. Ada taman ekspresi dan ada taman prestasi. Ada Festival Kalimas juga,” ujarnya menggebu-gebu.

“Kemarin waktu di Brasil 15 anak dari Indonesia, 8 anak-nya dari Surabaya. Itu anak-anak di jalan itu. Ada yang dapat perak juga. Ada anak-anak SD juga di Surabaya itu pernah ngikutin saya. Ngikutin mobil saya. Mereka kampanye bilang dukung bu Risma. Dukung Bu Risma. Mereka pasang foto saya dimana-mana,” katanya.

Risma memang dikenal dekat dengan anak-anak. Ia tak pernah lelah meladeni permintaan foto anak-anak yang menemuinya.
“Misal ada 5.000 anak-anak di Balai Kota. Ya saya ladeni foto sama 5.000 anak-anak. Saya juga salaman sama 5.000 anak-anak itu,” kata Risma.

Risma kemudian berbicara pelan meminta agar dirinya tak dibawa ke Jakarta. “Mereka kadang takut kalau saya dibawa ke Jakarta. Izin bu saya jangan dibawa ke Jakarta ya bu. Nanti mereka nggak semangat,” kata Risma sembari tersenyum disambut tepuk tangan dan gelak tawa hadirin. “Merdeka!” pungkas Risma menutup paparannya. (mb/detik)

Loading...

Related posts