Kongres PSSI Memanas, Djohar Arifin dkk Diusir dari Ruangan

Metrobatam, Jakarta – Suasana Kongres PSSI mulai memanas. Para voter menolak salah satu agenda kongres nomor 7 tentang penghapusan pengenaan sanksi kepada perorangan. Kejadian bermula ketika Plt Ketum PSSI, Hinca Pandjaitan, membacakan agenda-agenda kongres, salah satunya nomor 7 tersebut.

Hinca mencoba menjelaskan bahwa agenda ini sudah sesuai keputusan Rapat Komite Eksekutif PSSI di Solo beberapa waktu lalu, sehingga di kongres hari ini tinggal pengesahan saja.

Read More

Namun tiba-tiba ada penolakan dari salah satu voter, Haruna Soemitro. Dia meminta agar agenda tersebut tidak dibahas di kongres kali ini, dan ditunda sampai kepengurusan baru. “Kami memang menjunjung tinggi prinsip sportivitas dan persatuan. Tapi lebih baik, penghapusan sanksi dilakukan ketika di pengurus baru,” kata Haruna.

Hinca pun akhirnya memutuskan melakukan voting terhadap 105 voter. Dengan menggunakan kartu merah (tidak setuju) dan kartu hijau (setuju), hasilnya, 84 peserta tidak setuju dan 14 setuju.

Keputusan tersebut membuat orang-orang yang (pernah) berstatus terhukum yang datang ke dalam arena kongres harus dikeluarkan dari ruangan. Mereka adalah Djohar Arifin, Sihar Sitorus, dan Bob Hippy serta beberapa anggota Exco terhukum di era kepengurusan lama.

“Maka ada konsekuensinya, karena peserta tidak setuju. Klub/orang yang terhukum tidak berhak berada di dalam di sini,” katanya.

Ada Usaha-usaha Dendam
Di luar ballroom kongres, Djohar pun memberikan penjelasan mengenai hal ini. “Sebenarnya kami sudah diputihkan sejak kongres sebelumnya pada 3 Agustus lalu. Ini tak perlu lagi dibicarakan lagi di sini. Saya tidak tahu kesalahan saya apa. Pada bulan Juni saya mendekati pemerintah untuk menyelamatkan kepengurusan baru PSSI yang baru terbentuk,” kata Djohar dengan mata berkacata-kaca kepada pewarta.

“Saya tidak tahu salah apa, karena itu saya heran kenapa ada sanksi. Tapi, mereka disadari oleh Pak Nyalla cs. bahwa itu sudah dicabut Agustus lalu. Ini dimunculkan lagi, saya melihat ada usaha-usaha dendam, usaha-usaha tidak baik.

“Pada masa kami, PSSI sudah menunjukkan bunga-bunganya. Prestasi pemain remaja sudah menunjukkan prestasi, kita sudah rujuk dengan Eropa. Mereka sudah 20 tahun lebih tak mau datang ke Indonesia, setelah saya bertemu Platini ada banyak tim Eropa datang ke Indonesia.

“Ini banyak konsekuensinya. Jadi komite pemilihan yang sudah membuat keputusan itu bisa ditinjau. Secara hukum kongres ini menjadi tanda tanya,” tambahnya.(mb/detik)

Loading...

Related posts