Surat Cinta Fidelis Arie, Suami yang Tanam Ganja Demi Kesembuhan Istri Ini Bikin Terenyuh

Metrobatam, Jakarta – Nota pembelaan (pledoi) Fidelis Arie Sudewarto atau Nduk bikin netizen terenyuh. Dalam pledoi itulah Arie menuliskan bagaimana dia akhirnya memilih menanam ganja secara organik di rumahnya demi kesembuhan sang istri yang mengidap penyakit syringomyelia.

Yeni Riawati, istri Arie, warga Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, mengidap penyakit Syringomyelia, tak lama setelah melahirkan anak kedua pada 2014. Penyakit yang tergolong langka, di mana tulang sumsum belakangnya tumbuh kista yang terdapat syrinx atau cairan di dalam sumsum tulang belakang.

Read More

Berbagai upaya medis dan pengobatan alternatif coba diupayakan Ari, pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Kabupatan Sanggau itu buat istrinya. Mulai dari Sanggau, Singkawang, hingga ke Pontianak tanpa hasil.

Kondisi istrinya kian memburuk. Wanita yang sebelumnya berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Mukok itu susah makan, minum, hingga tidur. Buang air kecil pun sakitnya minta ampun. Kadang bisa kencing dengan sendirinya, kadang tak dapat keluar.

Hampir setiap makanan yang coba dimasukkan ke mulut, dimuntahkan lagi. Ditambah, di beberapa bagian tubuh mulai dipenuhi luka. Yeni juga sulit tidur dan pernah suatu ketika tiga malam berturut-turut tak tidur saking merasakan sakitnya.

Medio 2016 setelah kembali dipastikan terdiagnosa menderita Syringomyelia di RSUP Soedarso, Pontianak, pasien disarankan dioperasi. Tapi karena kondisinya yang sudah terlampau lemah, operasi urung dilakukan dan disarankan pasien dirawat di rumah.

Ari belum menyerah. Usaha menyembuhkan sang terkasih terus dialihkan dengan berselancar di internet dan berbagai buku. Suatu ketika, dia menemukan kasus penyakit yang sama di Kanada dan bisa bertahan dengan ekstrak ganja.

Bagaimana surat cinta Arie untuk istrinya, simak pledoi yan ditulis Arie berikut ini, seperti yang diunggah oleh Dominikus Okbertus Srikujam di akun Facebook-nya, seperti dikutip Okezone, Selasa (25/7).

“Pertama-tama, saya menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim yang saya Muliakan atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan nota pembelaan pribadi saya. Sejak saya ditahan, saya tidak lagi memiliki kebebasan untuk selalu berada di samping istri saya yang sakit hingga akhirnya istri saya meninggal dunia.

Padahal, selama ini sayalah yang paling mengerti dan memahami tentang keadaan dan kondisi istri saya. Penahanan terhadap saya membuat saya tidak punya kesempatan untuk menjelaskan banyak hal kepada istri saya. Saya hanya bisa mencurahkan perasaan saya dalam bentuk tulisan-tulisan pada sebuah buku.

Tulisan-tulisan itu kemudian saya rangkum menjadi surat yang saya tujukan kepada istri saya. Surat tersebut menjadi bagian terpenting dalam nota pembelaan saya yang akan saya bacakan dalam persidangan kali ini.

Siang itu tanggal 19 Februari 2017, setelah saya diajak ke kantor BNNK Sanggau dan akhirnya mereka menahan saya, sekitar pukul 14.00 atau 2 siang, petugas dari BNNK Sanggau, anggota kepolisian, dan satu unit ambulans membawa saya kembali ke rumah. Mereka akan mengevakuasi istri saya, Yeni Riawati. Dengan pengawalan ketat para petugas, saya dikawal menuju ke dalam rumah saya. Saya langsung menuju ke kamar tempat istri saya terbaring sakit.

Saya mencium kedua pipinya dan merapikan rambutnya dengan tangan saya. Istri saya yang sudah terbangun pun bertanya, “Kenapa Papa menangis?” Saya berusaha tersenyum. Sambil menahan air mata, saya berkata kepada istri saya, “Kawan-kawan Papa dari BNN akan merawat Mama dan mencarikan obat untuk kesembuhan Mama.” Saya kemudian mengusap air mata di pipi istri saya agar dia lebih tenang dan tidak khawatir, akan tetapi yang terjadi di dalam hati saya sebenarnya kacau luar biasa.”(mb/detik)

   
Loading...

Related posts