Kompolnas Minta Polisi Usut Tuntas Sindikat Penyebar Isu SARA

Metrobatam, Jakarta – Polri mengungkap sindikat Saracen, pelaku yang kerap menyebarkan ujaran kebencian bermuatan SARA di media sosial. Kompolotan ini memiliki ribuan akun. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta pelaku diusut tuntas.

“Berharap polisi mengusut tuntas,” kata Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, ketika dihubungi detikcom, Rabu (23/8) malam.

Read More

Ia berharap kepolisian dapat mengungkap peran para tersangka. Serta tak menutup kemungkinan juga mengungkap siapa saja yang pernah menggunakan jasa sindikat Saracen untuk menyebarkan SARA.

“Diharapkan bisa terlihat peran-peran dari para tersangka. Bisa dimungkinkan nantinya merembet sampai pada orang atau kelompok yang pernah menggunakan jasa mereka untuk menyebarkan ujaran kebencian,” ujarnya.

Ia menduga ada orang atau kelompok yang menggunakan isu SARA atau kebencian untuk mendapatkan kekuasaan. Kemudian dimanfaatkan lah oleh sindikat Saracen ini untuk meraup keuntungan sehingga menurutnya hal tersebut merupakan tindakan kriminal.

“Adalah kriminal jika mencari keuntungan dengan cara menyebarluaskan berita yang menyiarkan kebencian,” tutur Poengky.

Ia mengatakan, bangsa Indonesia merupakan penduduk yang beragam. Oleh karena itu, wajib menjaga toleransi dan menghormati pluralisme.

Selain paham radikal yang dianggap melanggar hukum, menurutnya orang yang menyebarkan ujaran kebencian juga merupakan tindak pidana. Sebab bisa memecah belah kesatuan dan persatuan, dapat mengakibatkan konflik sosial, sehingga harus diproses pidana.

“Terhadap kelompok Saracen sudah ada beberapa laporan polisi. Kita tunggu proses pemeriksaan kepada para tersangka,” imbuh Poengky.

Perangi Provokasi SARA

Anggota Komisi I DPR Charles Honoris mengapresiasi keberhasilan polisi mengungkap jaringan penyebar isu SARA ini. “Keberhasilan Polri dalam mengungkap dan menangkap para pelaku kasus penyebar konten hoax dan ujaran kebencian serta konten yang bernada provokatif dengan isu SARA di berbagai media sosial patut diacungi jempol. Ini merupakan prestasi dari penegakan hukum di Indonesia,” ujar Charles dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/8).

Keberhasilan Polri menurutnya perlu diimbangi dengan dukungan dan peran seluruh masyarakat. Sebab para pelaku yang ditangkap juga datang dari berbagai lapisan masyarakat, dengan berbagai latar belakang.

“Para pelaku yang sudah tertangkap nyatanya dari berbagai lapisan masyarakat juga. Ini yang masih perlu perhatian serius tentang pemahaman Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di seluruh lapisan masyarakat,” jelas Charles.

Politikus PDIP ini menyadari, upaya penegakan hukum terkait kasus hoax dan penyebaran kebencian memang tidak mudah karena juga harus melakukan pelacakan identitas oknum pelaku yang sebenarnya. Termasuk, kata Charles, dari keberhasilan Polri dalam membongkar masalah ini.

“Seperti halnya keberhasilan Polri dalam membongkar kejahatan siber oleh jaringan Saracen yang melakukan banyak pelanggaran hukum terkait ITE. Hal ini juga menunjukkan adanya pihak-pihak ataupun jaringan kuat yang terorganisir yang secara sengaja menyebarkan keresahan masyarakat melalui ujaran kebencian ataupun hoax,” tuturnya.

Menurut Charles, ada hal yang sangat mengkhawatirkan dari terbongkarnya sindikat Saracen ini. Hal tersebut adalah adanya motif transaksional antara sindikat penyebar kebencian dengan pihak yang memanfaatkan jasa sindikat tersebut untuk kepentingan yang sangat tidak terpuji.

“Perkembangan penyebaran ujaran kebencian menjadi sebuah komoditas yang dilakukan dengan sengaja demi mendapat keuntungan finansial tanpa memikirkan dampak pada tatanan sosial masyarakat kita,” kata Charles.

Untuk itu, langkah pemerintah dan penegak hukum dalam memerangi kejahatan cyber dinilainya perlu mendapat dukungan dari banyak pihak. Charles mengimbau masyarakat menggunakan media sosial secara bijak.

“Sosialisasi tentang UU ITE di semua lapisan, baik komunitas, lembaga, instansi dan sekolah juga perlu dilakukan secara intensif. Sehingga tercipta kondisi komunikasi dan penyebaran informasi yang sehat di media sosial,” sebutnya.

“Ujaran kebencian adalah benih dari radikalisme dan aksi-aksi intoleran yang dapat memecah belah bangsa. Oleh karena itu penyebaran hoax, informasi provokatif yang mengancam SARA, ataupun ujaran kebencian harus kita perangi bersama,” tambah Charles.

Dari hasil patroli siber ini, polisi mengamati bahwa grup Saracen kerap memposting berita hoax hingga ujaran kebencian yang bernuansa SARA. Ada tiga tersangka yang ditangkap yakni MFT (43) ditangkap di Koja, Jakarta Utara pada 21 Juli 2017, seorang perempuan berinisial SRN (32) ditangkap di Cianjur, Jawa Barat pada 5 Agustus 2017 dan JAS (32) yang ditangkap di Pekanbaru, Riau pada 7 Agustus 2017.

Saracen adalah istilah yang digunakan oleh orang Kristen Eropa, terutama pada abad pertengahan untuk merujuk kepada orang yang memeluk Islam (tanpa memperdulikan ras atau sukunya).

Fadil mengatakan kelompok Saracen itu memiliki struktur sebagaimana layaknya organisasi pada umumnya dan telah melakukan aksinya sejak November 2015. Mereka yang ditangkap memiliki peran masing-masing.(mb/detik)

Loading...

Related posts