Bupati Rita dan Walikota Tubagus Ikut Jejak Ayah Terjerat KPK

Metrobatam, Jakarta – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari menjadi tersangka KPK. Dia mengikuti ‘jejak’ sang ayah, eks Bupati Kukar, Syaukani Hasan Rais, yang juga dijerat KPK.

Syaukani menjabat sebagai Bupati Kukar periode 1999-2004, kemudian terpilih kembali untuk periode selanjutnya, 2005-2006. Namun, dia kemudian terjerat kasus korupsi dan ditetapkan sebagai tersangka pada 28 Desember 2006.

Read More

Syaukani lalu terbukti dinyatakan bersalah menyalahgunakan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat. Sepanjang 2001-2005, dana perangsang yang disalahgunakan itu berjumlah Rp 93,204 miliar.

Pengadilan Tipikor dan pengadilan tingkat banding telah memvonis Syaukani dengan hukuman dua tahun enam bulan penjara. Di tingkat kasasi, hukumannya justru diperberat menjadi enam tahun penjara. Syaukani telah meninggal dunia pada tahun lalu karena sakit yang dideritanya.

Rita Widyasari melanjutkan jejak sang ayah sebagai Bupati Kutai pada 2010-2015, kemudian terpilih kembali sebagai petahana untuk periode 2016-2021. Kader Golkar ini bahkan disebut disiapkan dalam bursa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalimantan Timur (Kaltim) 2018.

Kini, seperti ayahnya pula, Rita tersandung masalah rasuah. Dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena dugaan melanggar pasal gratifikasi.

“(Bupati Kukar tersangka) gratifikasi,” ucap Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan kepada detikcom, Selasa (26/9).

Dari informasi yang dihimpun, Rita diduga menerima gratifikasi terkait izin. KPK pun menegaskan penetapan tersangka Rita bukan berasal dari operasi tangkap tangan (OTT).

“Ya (sudah tersangka), tapi itu bukan OTT, pengembangan kasus biasa,” kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di DPR, Senayan, Jakarta Pusat.

Sebelum Rita menyandang status tersangka, urusan orang tua dan anak yang dijerat KPK juga mengemuka. Adalah Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi yang dijerat KPK melalui operasi tangkap tangan (OTT). Iman merupakan anak dari Aat Syafaat (alm), mantan Wali Kota Cilegon, yang terjerat kasus korupsi.

Aat pernah menjadi terpidana kasus dugaan korupsi pembangunan trestle dermaga pelabuhan di Kubangsari, Cilegon, Banten. Aat sempat ditahan di Rutan Cipinang oleh KPK pada 2010.

Kala itu Aat selaku Wali Kota Cilegon periode 2005-2010 telah menyalahgunakan kewenangan dan memperkaya diri serta orang lain atau korporasi. KPK menemukan kerugian keuangan negara sekitar Rp 11 miliar dalam proyek yang dikerjakan oleh PT Galih Medan Perkasa (GMP) tersebut. Informasi yang dihimpun, anggaran proyek pembangunan pelabuhan Kubangsari senilai Rp 50 miliar dialokasikan dari APBD Cilegon pada 2010. Sebagian anggaran proyek itu mencaplok anggaran untuk pendidikan senilai Rp 20 miliar.

Dalam kasus Aat, KPK memanggil sejumlah pihak. Setelah berkasnya lengkap, Aat disidangkan di Pengadilan Negeri Serang. Saat itu ia divonis bersalah dan dihukum penjara 3,5 tahun karena terbukti melanggar Pasal 3 UU Pemberantasan Korupsi.

Dalam vonis yang dibacakan majelis Pengadilan Negeri Serang, pada Kamis (7/3/2013), Aat diharuskan membayar denda Rp 400 juta. Ia juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 7,5 miliar.

Pembayaran uang pengganti memang tidak dilakukan sekaligus, melainkan tiga tahap. Yang pertama, pada 28 Maret 2013 sebesar Rp 3 miliar, dan pada 1 April 2013 dengan jumlah yang sama. Sisanya baru dibayarkan pada Selasa (2/4/2013) saat itu.

Beberapa tahun berselang, Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi mengulang kesalahan serupa yang dilakukan ayahnya saat itu. Iman ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT), yang diduga terkait perizinan kawasan industri di salah satu kota di Banten pada Jumat (22/9).

“Diindikasikan ada transaksi terkait dengan proses perizinan kawasan industri di salah satu kabupaten/kota di Banten,” ujar juru bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Sabtu (23/9/2017). (mb/detik)

   
Loading...

Related posts