Terciduk, CPNS Bawa Jimat Demi Lulus Tes

Metrobatam, Jakarta – Pendaftaran seleksi CPNS gelombang pertama telah melewati tahap tes kompetensi dasar (TKD) secara computer assisted test (CAT) atau tes kompetensi menggunakan komputer. Sepanjang pelaksanaan, tes ini ternyata menyimpan banyak cerita unik.

Salah satunya adalah peserta ujian yang membawa jimat. Hal itu terungkap dari akun twitter Badan Kepegawaian Negara (BKN). Dalam postingan tanggal 26 September lalu, BKN mengunggah sejumlah foto jimat yang berhasil disita dari tangan para peserta ujian.

Read More

Bentuknya pun beragam, mulai dari yang berupa benda kecil mirip batu yang dibungkus uang kertas Rp 10 ribu. Kemudian peniti yang ditusuk di benda kecil menyerupai buah, cincin, hingga kain putih yang mirip kain kafan.

Dengan jimat tersebut, tentu peserta berharap agar bisa diloloskan dalam seleksi tes tersebut. Mereka percaya benda-benda tersebut bisa membantu mereka untuk lolos tes.

Kenapa dilarang?

Kepala Biro Hubungan Masyarakat BKN, Mohammad Ridwan, menjelaskan, dalam pelaksanaan ujian CPNS para peserta memang dilarang untuk membawa barang-barang selain yang berhubungan dengan kegiatan tes. Adapun, barang-barang yang diperbolehkan hanya KTP dan kartu peserta ujian.

“Pokoknya yang tidak ada hubungannya dengan tes itu tidak kita perbolehkan masuk ke ruangan tes. Jadi kita sudah sediakan loker penyimpanan, sebelum masuk ruangan tes barang yang tidak dibutuhkan harus dilepas semua,” kata Ridwan kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (28/9).

Dirinya mengatakan, petugas akan melakukan pemeriksaan terhadap peserta sebelum masuk ke ruangan ujian. Selain itu, peserta juga harus melalui mesin metal detector yang ada. Hal itu dilakukan untuk mencegah potensi kecurangan-kecurangan yang bisa terjadi saat ujian berlangsung.

“Jadi yang dibawa masuk ruangan itu hanya KTP dan kartu peserta tes. Barang-barang sisanya akan disimpan di loker, nanti bisa diambil lagi setelah ujian,” tukasnya.

Pada dasarnya peserta dinilai kurang percaya terhadap kemampuan diri masing-masing. Sehingga menggunakan berbagai cara termasuk membawa jimat.

Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian PAN-RB, Herman Suryatman, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Kamis (28/9/2017), mengatakan, hal itu normal terjadi mengingat kultur sosial yang ada saat ini, masih ada sebagian kecil yang percaya dengan hal-hal berbau klenik tersebut.

“Normal dalam kultur masyarakat kita seperti ini, masih ada antara lain orang yang percaya hal-hal itu. Tapi saya kira itu enggak banyak, hanya beberapa kejadian saja, jangan digeneralisasi. Jadi jangan dibesar-besarkan, berarti sebagian besar sudah rasional. Kalau masih ada ya itu realitas sosial,” terangnya.

“Kepada para peserta, terutama generasi milenial yang sekarang menjadi peserta seleksi agar percaya diri, kemudian belajar yang baik untuk meningkatkan kompetensi,” kata Herman.

“Sehingga, kompetensi dasar baik menyangkut wawasan kebangsaan, intelektual umum, maupun karakter pribadi itu bisa dikuasi. Itu yang harus dipersiapkan oleh peserta,” sambungnya.

Dia pun mengingatkan bahwa proses seleksi CPNS dilakukan dengan cara yang rasional. Oleh sebab itu, peserta seleksi CPNS diimbau tidak menggunakan hal-hal yang berbau klenik atau tidak rasional.

“Karena proses seleksi CPNS sangat rasional, sangat terukur, dan sangat obyektif. Jadi dengan cara-cara yang rasional, bukan dengan yang tidak rasional, antara lain seperti membawa jimat. Kalau ikhtiar spiritual silakan berdoa kepada Allah, itu memang harus dilakukan,” tuturnya. (mb/detik)

Loading...

Related posts