Metrobatam, Jakarta – Krisis kemanusiaan warga minoritas Muslim Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar, mengundang keprihatinan internasional.

Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU, Anggia Ermarini mengatakan bahwa pihaknya akan bertemu dengan tokoh lintas agama untuk menggalang kepedulian.

“Fatayat bulan September ini akan bertemu dengan (tokoh) lintas agama untuk menggalang kepedulian ini,” kata Anggia kepada Okezone, Rabu (6/9).

Selain itu, lanjut Anggia, Fatayat NU juga akan kirim surat ke PBB terkait krisis kemanusiaan warga Rohingya. “Fatayat NU dengan 8 juta anggota ini akan mengirim surat ke PBB, dan lebih menyoroti pada korban perempuan dan anak di Rohingya,” imbuhnya.

Diketahui sebelumnya, krisis yang terjadi di Myanmar sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu. Etnis Rohingya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari kaum mayoritas.

Hingga saat ini Presiden Joko Widodo tengah berupaya membangun komunikasi dengan otoritas Myanmar dengan mengirimkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Aksi solidaritas untuk Rohingya juga meluas di Indonesia. Beberapa pihak menggelar aksi demo di depan Kedubes Myanmar di Jakarta menyerukan agar Dubes Myanmar untuk Indonesia segera di usir. Hal serupa juga menggaung di wilayah Bandung.

Isu terkini. Ada sejumlah pihak yang akan menggelar aksi solidaritas di Candi Borobudur. Sejumlah ormas dengan mengerahkan jutaan orang di Candi Borobudur, Jumat 8 September. Aksi itu digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap umat muslim Rohingya yang saat ini tengah dilanda krisis kemanusiaan di Myanmar.

Hal itu membuat Polda Jateng menetapkan Siaga 1 selama tiga hari menanggapi isu pengepungan Candi Borobudur yang akan digunakan sebagai tempat aksi solidaritas untuk muslim Rohingya. Polisi menetapkan Siaga 1 pertanggal 7-9 Septmber 2017, atau dari Kamis sampai Sabtu.

GP Ansor Galang Dana Bantuan

Sementara itu Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) menggalang dana bantuan untuk membantu warga Rakhine, Myanmar. Penggalangan dana tersebut dilakukan sejak beberapa hari lalu.

Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qousman mengatakan, penggalangan dana tersebut tidak hanya untuk minoritas muslim Rohingya tetapi untuk semua masyarakat yang tinggal di daerah konflik, Rakhine State.

“Yang menjadi korban di sana tidak hanya muslim, di Rakhine tempat Rohingya tinggal ada umat Buddha di sana yang juga menjadi korban jadi kami tidak memandang agama, kami memandang sisi kemanusiaan,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com kemarin.

Yaqut mengatakan, GP Ansor tidak perlu mengirimkan relawan ke lokasi tersebut karena adanya sejumlah peraturan di Myanmar yang bisa saja menolak kedatangan relawan.

Selain itu, dia juga tidak melihat urgensi yang harus dilakukan dengan mengirimkan relawan.

Sejauh ini, Yaqut mengatakan, penggalangan dana sudah dilakukan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Namun, dia belum mengetahui seberapa besar jumlah dana yang sudah terkumpul hingga saat ini.

Meski demikian, pihaknya harus mencari tahu ke mana penggalangan dana tersebut akan disalurkan. Penyaluran dana itu menurut Yaqut sangat penting, karena selama ini ada kelompok yang menggalang dana di Indonesia atas nama kemanusiaan, tapi justru disalurkan ke kelompok teroris.

Yaqut enggan menjelaskan nama kelompok tersebut. “Penting ketika melakukan pengumpulan dana atas nama kemanusiaan, yang paling penting lagi bagaimana menyalurkan kepada Myanmar,” ucapnya.

Kata Yaqut, pihaknya akan menyalurkan dana yang sudah terkumpul ke PBNU supaya dapat langsung diberikan kepada masyarakat Rakhine State.(mb/okezone/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...