Polda Metro Jaya Sita 20,4 Kilogram Sabu Siap Edar

Metrobatam, Jakarta – Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya meringkus lima tersangka yang berusaha menyelundupkan sabu seberat 20,4 kilogram. Nilai dari sabu tersebut diperkirakan mencapai Rp20 miliar.

Kelima tersangka ditangkap secara bertahap. Operasi bermula dari penangkapan Safrizal alias Rizal di kawasan Koja, Jakarta Utara, dengan barang bukti sabu seberat 3 kilogram. Penelusuran berlanjut hingga ke Pangandaran, Jakarta Barat, sampai memperoleh semua sabu.

Read More

“Jadi pada Rabu (6/10) kemarin, tim khusus yang dipimpin AKBP Doni mendapat informasi dari masyarakat ada transaksi narkoba, dilakukan penangkapan, penggeledahan ke tersangka RZ dengan barang bukti 3 kilogram,” ucap Direktur Narkoba Kombes Pol Suwondo Nainggolan, Minggu (8/10) sore.

Pada Rabu yang sama itu, polisi menangkap tiga tersangka lainnya yaitu Razali, Mulyadi, dan Muzakkir, yang juga bertempat di kawasan Koja. Saat itu polisi tak menemukan sabu lainnya. Hanya saja mereka mendapat informasi bahwa ada barang haram lain di Pangandaran.

Di Pangandaran, polisi menangkap tersangka Jajang. Dari penangkapan itu juga didapatkan barang bukti sabu seberat 17,4 kilogram yang sebagian siap edar dalam paket kecil tiga ukuran berbeda. Selain itu, sebagian masih dalam paket besar yang berada di dalam bungkusan teh cina guanyinwang, sehingga total sabu yang diungkap mencapai 20,4 kilogram.

Selain sabu, polisi memperoleh barang bukti lainnya berupa sepuluh ponsel, buku rekening dan kartu ATM, dan satu unit mobil Honda CR-V.

Polisi meyakini sabu yang berasal dari Aceh ini belum berhasil didistribusikan ke masyarakat.

Suwondo menyebut, modus yang dipakai para pelaku adalah menyamar sebagai pedagang toko obat. Ia menduga operasi jahat ini tergabung ke dalam suatu sindikat.

Hal itu ia katakan mengingat jumlah sabu yang mereka sita berjumlah besar. “Menghadirkan barang-barang ini masuk ke wilayah ini saja itu tentunya kegiatan yang perlu dilakukan sindikasi,” ucap Suwondo.

Suwondo menambahkan, sindikat itu ada kemungkinan digerakkan dari luar negeri. Namun ia menolak menyebut negara mana yang ia curigai.

“Dari pengalaman dan referensi kita yang seperti ini dari luar Indonesia. Tapi kami belum bisa mengatakan itu karena belum ada temuan fakta yang membenarkannya,” pungkasnya.

Dijerat Pasal Pencucian Uang

Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran uang kelompok pengedar sabu 20,4 kilogram yang baru mereka bekuk di Koja, Jakarta Utara, Minggu (8/10). Diharapkan, dalang peredaran narkoba bisa terlacak.

“Karena selain tindak pidana narkoba kami juga akan melakukan penyelidikan tindak pidana hukum dengan pencucian uang,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Suwondo Nainggolan, Minggu (8/10).

Ia menambahkan, penyelidikan dugaan pencucian uang akan dimulai dari barang bukti yang mereka peroleh, yakni dari tiga unit mobil. Selain itu mereka juga akan menelusuri arus uang kelompok ini dari buku tabungan dan kartu ATM yang disita.

Insiatif itu dilakukan setelah tim dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengungkap jaringan peredaran narkotika jenis sabu seberat 20,419 kilogram dengan perkiraan nilai sekitar Rp20 miliar.

Pengungkapan ini bermula dari tertangkapnya salah satu pelaku bernama Safrizal alias Rizal di kawasan Koja, Jakarta Utara, pada Rabu (6/10) lalu dengan barang bukti 3 kilogram sabu. Dari sana penyelidikan berlanjut hingga ke Pangandaran sampai ditemukannya 17 kilogram sabu lain yang sebagian dibungkus kemasan besar teh cina dan sebagian sudah dipecah ke paket-paket berukuran kecil siap edar.

Suwondo berharap dengan menelusuri arus keuangan kelompok ini, mereka bisa menemukan dalang peredaran barang haram tersebut. Ia meyakini soal adanya pihak yang lebih kuat yang menggerakkan pengiriman sabu sebanyak itu.

“Menghadirkan barang-barang ini masuk ke wilayah sini saja itu tentunya kegiatan yang perlu dilakukan sindikasi,” ucap Suwondo.

Untuk sementara, pihaknya menduga sindikat semacam ini berasal dari luar negeri. “Dari pengalaman dan referensi kita yang seperti ini dari luar Indonesia. Tapi kami belum bisa mengatakan itu karena belum ada temuan fakta yang membenarkannya,” katanya menegaskan. (mb/detik)

Loading...

Related posts