Metrobatam, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut potensi letusan Gunung Agung yang lebih besar segera terjadi. Potensi ini teramati dari peningkatan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas.

“Erupsi disertai erupsi eksplosif dengan suara dentuman lemah yang terdengar sampai jarak 12 km dari puncak. Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Senin ( 27/11).

Menurut Sutopo, tingkat erupsi Gunung Agung meningkat dari fase freatik ke magmatik. Hal ini terpantau sejak teramatinya sinar api di puncak pada malam hari sekitar pukul 21.00 Wita, Sabtu (25/11).

“Sampai hari ini, erupsi fase magmatik disertai kepulan abu tebal terus-menerus mencapai ketinggian 2.000-3.400 meter dari puncak,” ujar Sutopo.

Sutopo menegaskan tidak boleh ada aktivitas masyarakat dalam radius 8 km dan ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut serta tenggara-selatan-barat daya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung.

Ada 22 desa terdampak dengan jumlah penduduk 90-100 ribu jiwa. Menurut Sutopo, masih ada sebagian masyarakat yang belum mau mengungsi dengan alasan masih aman, termasuk ternak dan lahan pertanian.

Fenomena Aneh

Sementara itu lahar dingin atau lahar hujan Gunung Agung terus mengalir, di wilayah Karangsem, Senin (27/11). Dari sebuah video warga, terlihat lahar dingin seperti adukan pasir dicampur dengan semen.

Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, I Gede Suantika mengatakan, berdasarkan laporan tim PVMBG lahar dingin yang ada divideo tersebut berada di wilayah Tianyar, Karangasem tepatnya di bawah lereng Gunung Agung bagian utara.

Menurutnya, fenomena tersebut tergolong aneh, pasalnya sungainya kering dan jarang ada air.

“Fenomena itu agak aneh, sungainya kering, jarang ada air kemudian ada aliran lahar. Lahar itu materialnya bukan abu seperti adukan semen beton. Sumbernya ini dari mana? Mungkin materilanya ini baru dari dalam jadi penjelasannya ada tekananan magma dari bawah ini yang menyebabkan terperasnya air tanah di Gunung Agung,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, terperasnya magma kemudian keluar ke zona yang lemah kemudian keluar dan jadi lahar. Aliran lahar tidak hanya berada di wilayah Tianyar, namun juga ada di Sungai Yeh Sah, Rendang, Karangasem.

“Kalau yang jalur selatan ini sudah keluar lahar debitnya juga aneh. tidak ada hujan tapi debitnya bertambah. Mungkin juga seperti terkompresi dari bawah air tanah terkuras keluar,” ujarnya.

Lahar dingin tersebut kini mulai membanjiri lahan persawahan yang dekat dengan Sungai Yeh Sah, Desa Batusesa, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. “Ini merupakan lahar kecil yang berisi material letusan yang terbawa air hujan menuju sungai,” kata Gede.

Pihaknya mengimbau kepada warga agar tidak mendekati aliran sungai dan tetap waspada saat beraktifitas di pinggir sungai karena ini musim hujan. Warga juga diminta tetap mengikuti arahan dari pemerintah demi keamanan bersama.

Gede mengatakan, fenomena lahar ini berasal dari lereng selatan Gunung Agung atau bagian hulu Desa Sebudi. Dari pengamatan pihaknya sudah mengecek lahar dingin ini, karena ada tercium bau belerang dan jatuhan abu yang terjadi dua hari ini terakhir.

“Ini terlihat abu fress yang mengandung belerang tercampur air dan ada gas belerang yang tercium,” ujar dia.

Kepala Pusat Data dan Informasi da Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya kepada media membenarkan sungai tersebut dibanjiri lahar lahar dingin.

“Saya meminta warga waspadai dengan bencana lahar hujan di sepanjang sungai dengan hulu Gunung Agung. Meski volume piroklastik dari erupsi Gunung Agung belum banyak,” ujarnya.

Sementara itu, warga asal Banjar Abuan, Desa Rendang, Karangasem, Wayan Lanus, saat ditemui di Karangasem mengatakan, lahar dingin itu sudah meluber hingga ke area persawahan yang ada di dekat sungai itu.

“Saya kaget dan sempat menghubungi beberapa keluarga saya agar tetap berhati-hati, karena sungai terlihat keruh dengan air sungai yang cukup deras,” ujarnya.

Wayan mengatakan, sungai yang menghubungkan Kecamatan Rendang dengan Kecamatan Selat di Kabupaten Karangasem itu menjadi tontonan warga yang penasaran dengan fenomena alam yang terjadi sejak pukul 06.00 WITA tersebut.

“Saya datang sendiri ini, dan melihat warga sudah banyak yang menyaksikan lahar dingin ini dan mendengar kabar kabar ini dari warga dini hari tadi dan penasaran ingin melihat apakah benar sudah ada lahar dingir meluap di sungai ini,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Ketut Supardi, warga Desa Rendang, “Saya baru mendengar kabar ini tadi pagi pukul 04.00 Wita dan langsung datang Pukul 06.00 Wita dan melihat air sudah bergemuruh kencang membawa material vulkanik (Gunung Agung),” katanya. (mb/detik/okezone)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Real Count KPU 20%: Jokowi-Amin 55,1% Prabowo-Sandi 44,9%

Metrobatam, Jakarta - Data masuk di Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU sudah mencapai 20,1%. Situng yang juga kerap disebut sebagai 'Real Count KPU'...

KPU Rekomendasikan Pemilu Serentak Dipisah

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan riset evaluasi pelaksanaan pemilu serentak. Salah satu rekomendasinya yaitu dilakukannya pemilu serentak dengan dua jenis. "Salah satu...

Kompolnas Tolak Gabung bila TPF Kecurangan Pilpres Dibuat

Metrobatam, Jakarta - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menolak bergabung andai kedua paslon peserta Pilpres 2019 sepakat membentuk komisi atau tim independen pencari fakta kecurangan....

Brimob Nusantara Ditarik ke DKI, KSP: Jakarta Barometer, Harus Diperkuat

Metrobatam, Bogor - Brimob Polda-polda di Indonesia dikerahkan Ibu Kota Jakarta terkait pengamanan tahapan Pemilu 2019. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan sebagai ibu...

Pencarian Terus Dilakukan, Korban Tewas Gempa Filipina Jadi 11 Orang

Manila - Upaya pencarian para korban gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,1 di Filipina terus dilakukan. Sejauh ini korban tewas bertambah menjadi 11 orang. Gempa bumi...

Wiranto Tegaskan Aparat Siap Hadapi Aksi yang Melanggar Hukum

Metrobatam, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamana (Menko Polhukam) Wiranto mewanti-wanti kepada semua pihak tidak membuat gerakan massa yang mengganggu ketertiban...

NU Minta Masyarakat Bersabar Tunggu Hasil Perhitungan KPU

Metrobatam, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj meminta semua pihak menahan diri dan bersabar menunggu perhitungan resmi pemilihan...

TKN Minta Kubu Prabowo Lapor Bawaslu jika Temukan Kecurangan

Metrobatam, Jakarta - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga meyakini pelaksanaan Pilpres 2019 telah berjalan sesuai dengan mekanisme...

Bawaslu Sebut Situs Jurdil 2019 Diblokir karena Tak Netral

Metrobatam, Jakarta - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin menyebut penutupan situs pemantau jurdil2019.org atau Jurdil 2019 dilakukan lantaran terdapat indikasi tidak netral...

18% Data TPS Sudah Masuk, Ini Hasil Real Count KPU

Metrobatam, Jakarta - Data yang masuk di Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU sudah mencapai 18,8%. Situng, yang juga kerap disebut sebagai 'Real Count...

JK: Pertemuan Jokowi dengan Prabowo Makin Cepat, Makin Baik

Metrobatam, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) Calon Presiden (Capres) nomor urut 01 dan 02, Joko Widodo dan Prabowo Subianto segera melakukan pertemuan...

Stiker KPU Jadi Dasar Curiga Kecurangan, Ternyata untuk Hindari Preman

Metrobatam, Jakarta - Video mobil boks berstiker KPU parkir di depan ruko digital print di Kawasan Condet, Jakarta Timur, bikin geger. Banyak yang menaruh...