Metrobatam, Jakarta – Terdakwa kasus merintangi penyelidikan kasus korupsi e-KTP, Fredrich Yunadi memerintahkan satpam Rumah Sakit Medika Permata Hijau untuk mengusir penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang hendak menangkap kliennya saat itu, Setya Novanto.

Hal itu terungkap dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum di persidangan Frerich di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (8/2).

“Terdakwa juga meminta Mansur, satpam RS Medika Permata Hijau agar menyampaikan kepada penyidik KPK untuk meninggalkan ruang VIP di lantai 3 yang sebagian kamarnya sudah disewa keluarga Setya Novanto,” kata Jaksa saat membacakan dakwaan.

Menurut jaksa, Fredrich meminta stapam mengusir penyidik KPK dengan alasan, kedatangan penyidik KPK mengganggu pasien yang sedang beristirahat.

Kejadian itu terjadi pada 16 November 2017 sekitar pukul 21.00 WIB, ketika Setya Novanto yang baru ditetapkan tersangka kasus korupsi e-KTP, dibawa ke rumah sakit usai mengalami kecelakaan.

Setya Novanto tiba di RS Medika Permata Hijau sekitar pukul 18.45 WIB dan langsung dibawa ke kamar VIP 323. Setelah Setnov dirawat, Fredrich sempat memberikan keterangan kepada wartawan, seolah-olah dia tidak mengetahui peristiwa kecelakaan yang dialami mantan kliennya itu.

“Padahal sebelumnya Fredrich lebih dulu datang ke RS Medika Permata Hijau dan meminta agar Setya Novanto dirawat inap dengan permintaan yang terakhir dirawat karena kecelakaan,” kata jaksa.

Fredrich, kala itu, juga memberikan keterangan kepada wartawan bahwa Setya Novanto mengalami luka parah dengan beberapa bagian tubuh berdarah serta terdapat benjolan pada dahi sebesar ‘bakpao’.

“Padahal Setya Novanto hanya mengalami beberapa luka ringan pada bagian dahi, pelipis kiri dan leher sebelah kiri,” katanya.

Mendegar Setya Novanto mengalami kecelakaan, penyidik KPK kemudian mendatangi rumah sakit. Namun, diusir oleh satpam rumah sakit. Keesokan harinya, tanggal 17 November 2017, penyidik KPK hendak menahan Setya Novanto, namun lagi-lagi, Fredrich menolak penahanan.

“Alasannya penahan tidak sah karena Setya Novanto sedang dalam kondisi rawat inap,” kata jaksa.

Tak Perlu Diseriusi

Fredrich Yunadi menyebut isi surat dakwaannya palsu dan rekayasa. KPK pun tidak ambil pusing dengan tudingan itu.

“Sesuai dengan perintah pengadilan, tadi kami sudah membawa terdakwa Fredrich Yunadi ke sidang. KPK tentu akan fokus ke substansi pembuktian. Hal-hal yang tidak substansial atau omongan-omongan saya kira tidak perlu terlalu diseriusi,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat diminta konfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (8/2).

Tudingan semacam itu, menurut Febri, jika memang diyakini maka buktikan saja dalam proses sidang berikutnya. Tidak hanya soal merekayasa dakwaan, KPK juga dituduh Fredrich memaksa Setya Novanto–ketika masih menjadi kliennya–untuk mencabut 12 kuasa yang diberikan kepada dia.

Buntutnya, kasus Novanto memang akhirnya ditangani oleh kuasa hukum lain. Menurut Febri, soal pencabutan kuasa adalah kewenangan Novanto sebagai klien.

“Tentang pencabutan kuasa, saya kira itu hubungan antara pemberi dan penerima kuasa. Jadi itu urusan Setya Novanto kalau memang ingin memperpanjang atau memutus kuasa utntuk pengacara. Siapapun yang ditunjuk itu juga hak tersangka/terdakwa,” ucap Febri.

Dalam perkara tersebut, Fredrich didakwa merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Fredrich diduga bekerja sama dengan dr Bimanesh Sutarjo merekayasa sakitnya Novanto.

Namun setelah mendengar dakwaan itu, Fredrich menuding KPK membuat dakwaan palsu dan rekayasa. Dia juga menuduh penyidik KPK melakukan berbagai cara untuk memaksa Novanto mencabut kuasa yang diberikan kepada pengacara itu.

“Yang perlu harus tahu di sini, Setya Novanto dipaksa oleh penyidik supaya mencabut 12 kuasa saya yang pernah beliau berikan ke saya,” ujar Fredrich usai menjalani persidangan.

Setnov Sempat Kabur ke Bogor

Dalam sidang kemarin juga terungkap, Setya Novanto sempat melarikan diri ke Bogor, Jawa Barat, menghindari kejaran penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Setnov kabur ke Bogor sesaat sebelum KPK mendatangi rumahnya pada Rabu, 15 November 2017.

Hal itu terungkap dalam surat dakwaan terhadap mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi yang kini berstatus terdakwa kasus merintangi penyidikan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum.

“Saat penyidik KPK datang Setya Novanto terlebih dahulu telah pergi meninggalkan rumahnya bersama dengan Azis Samual dan Reza Pahlevi menuju Bogor,” kata jaksa penuntut umum saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (7/2).

Azis dan Reza adalah ajudan Setnov. Sesampainya di Bogor, Setnov menginap di Hotel Sentul sambil memantau perkembangan situasi melalui televisi. Keesokan harinya Setnov kembali ke Jakarta menuju Gedung DPR.

Surat dakwaan juga menyebut bahwa Fredrich menghubungi dokter Rumah Sakit Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo pada 16 November 2017 sekitar pukul 11.00 WIB.

Fredrich saat itu meminta bantuan dokter Bimanesh agar kliennya, Setya Novanto dapat dirawat inap di RS Medika Permata Hijau dengan diagnosa menderita beberapa penyakit, salah satunya hipertensi.

Atas perannya itu, Fredrich didakwa merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP bersama-sama dokter Bimanesh Sutarjo. Fredrich disebut merekayasa agar Setnov dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, pada pertengahan November 2017.

“Melakukan rekayasa agar Setya Novanto dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau dalam rangka menghindari pemeriksaan penyidik oleh penyidik KPK,” kata jaksa penuntut umum KPK Fitroh Rohcahyanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (8/2).

Fredrich pun disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...