‘Kasus Skimming Jakarta Tak Terkait Kasus BRI Ngadiluwih’

Metrobatam, Jakarta – Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Pol Polisi Machfud Arifin memastikan, pengungkapan kasus skimming Bank Rakyak Indonesia (BRI) oleh Polda Metro Jaya tidak berhubungan dengan kasus hilang saldo puluhan nasabah BRI Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

“Itu kasusnya beda, beda dengan yang di Kediri,” tepisnya, usai dialog kerukunan antarumat beragama, di Gedung Tribrata Polda Jatim, Surabaya, Jumat (16/3).

Read More

Hal senada disampaikan Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Hanif Fatih Wicaksono, yang mengaku belum menerima laporan keterkaitan antara kasus di Polda Metro Jaya dengan kasus nasabah BRI di Ngadiluwih.

“Belum ada laporan,” ucapnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler.

Dia mengatakan, hingga kini belum bisa disimpulkan apakah yang menimpa puluhan nasabah BRI Ngadiluwih uang di rekeningnya berkurang karena aksi skimming oleh oknum tidak bertanggungjawab atau faktor lain.

“Kami masih menunggu hasil investigasi dari tim BRI,” ujarnya.

Sebelumnya, kejahatan perbankan menimpa puluhan nasabah BRI di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Uang mereka tiba-tiba berkurang masing-masing antara Rp500 ribu hingga Rp10 juta.

Korban menerima laporan transaksi melalui pesan singkat, padahal tidak melakukan transaksi apapun. Transaksi misterius itu terjadi dalam rentang 10-11 Maret 2018. Korban dan nasabah yang khawatir lantas mengajukan pemblokiran ke bank terkait.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera membenarkan soal bertambahnya jumlah korban nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang saldonya berkurang secara misterius di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

“Semula hanya 33 nasabah, kini menjadi 87. Dan sangat mungkin bertambah lagi. Bisa ratusan korbannya, karena kasus ini, sistem BRI yang diganggu,” tuturnya, Rabu (14/3).

Diberitakan, Polda Metro Jaya mengungkap kasus hilangnya saldo nasabah BRI dengan modus skimming. Kepolisian menangkap tiga warga Rumania, seorang warga Hungaria, dan seorang WNI, Kamis (15/3).

Sindikat itu telah beroperasi sejak Juli 2017. Para tersangka menyasar nasabah bank dengan modus menyimpan alat skimmer pada mesin ATM di Jakarta, Bandung, Tangerang, Yogyakarta dan Denpasar Bali. (mb/cnn indonesia)

   
Loading...

Related posts