Metrobatam, Solo – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah menangkap Agung Rukiyanto (47) dan SYN (53) karena diduga mengedarkan sabu-sabu. Agung disebut merupakan seorang guru ngaji di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam (PPTI), Solo.

PPTI pun mengklarifikasi kabar yang beredar tersebut. Pimpinan PPTI, KH Muhammad Adhim, memastikan Agung tidak memiliki hubungan dengan ponpes yang berada di Jalan KH Samanhudi, Laweyan, Solo itu.

“Tidak ada hubungannya dengan institusi kami. Yang bersangkutan memang sering terlihat di kompleks pondok kami, karena tinggalnya tidak jauh dari sini,” kata Adhim dalam jumpa pers di Masjid Al-Kahfi kompleks PPTI, Selasa (10/4).

Dia menjelaskan bahwa Agung ialah salah satu jemaah kajian milik KH Muhammad Ali. Pria yang akrab disapa Abah Ali itu memang mengajar di PPTI, namun secara pribadi dia juga memiliki majelis di luar PPTI.

“Jadi saudara Agung itu ialah satu jemaah Abah Ali. Memang Abah Ali adalah ustaz kami, tapi kajian itu sepenuhnya di bawah tanggung jawab Abah Ali,” ujar dia.

Sementara itu, perwakilan dari majelis pimpinan Abah Ali, Dian Andrea, membenarkan Agung adalah salah satu jamaah seperti dirinya. Pihaknya mengaku kaget atas adanya kasus tersebut.

“Kita sendiri kaget. Abah Ali sampe kemarin pagi umrah masih bingung kok bisa Agung. Selama ini kesehariannya baik, ikut ngaji, nurut,” kata Dian.

Dia menceritakan, memang Abah Ali menampung dan membina orang-orang yang dahulunya kerap melanggar syariat Islam. Sebelum masuk ke majelis Abah Ali, Agung ialah seorang pemakai narkoba.

“Saya pernah dengar pengakuan dari Agung di awal masuk basecamp. Saya tidak tahu mas Agung apakah kepleset lagi. Kalau mas Agung ditangkap sebagai pengedar saya sebenarnya kurang yakin, tapi dengan barang bukti itu, ya wallahu a’lam,” tutupnya. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE