Metrobatam, Jakarta – Empat lembaga survei memetakan elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto sebagai kandidat capres di Pilpres 2019. Seperti apa hasilnya?

Berdasarkan data yang dikumpulkan detikcom, Jumat (4/58), empat lembaga survei yang dimaksud adalah Indikator, Litbang Kompas, Cyrus Network, dan Poltracking. Secara elektabilitas Jokowi unggul di empat lembaga survei tersebut.

Survei Poltracking

Poltracking melakukan survei terkait Pilpres 2019 pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018 lalu. Jokowi dan Prabowo menjadi calon presiden terkuat pilihan responden.

Di survei yang menggunakan metode stratified multistage random sampling ini, elektabilitas Jokowi berada di puncak dengan raihan 51,1 persen. Prabowo di posisi kedua dengan 26,1 persen.

Survei Litbang Kompas

Survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 21 Maret hingga 1 April 2018 dan melibatkan 1.200 responden menghasilkan nilai elektabilitas Jokowi di atas Prabowo.

Menurut survei ini, elektabilitas Jokowi ada pada angka 55,9 persen. Ada peningkatan elektabilitas Jokowi dibanding angka yang terekam pada satu semester lalu sebesar 46,3 persen. Elektabilitas Prabowo berada pada angka 14,1 persen pada survei teranyar ini. Pada enam bulan lalu, elektabiltas Prabowo sebesar 18,2 persen.

Survei Cyrus Network

Survei Cyrus dilakukan pada 27 Maret hingga 3 April. Survei Cyrus memaparkan elektabilitas capres berdasarkan top of mind saat ini. Elektabilitas Jokowi berada di angka 58,5 persen, sedangkan Prabowo di angka 21,8 persen.

Survei Indikator

Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terhadap elektabilitas bakal calon presiden 2019. Hasilnya, elektabilitas masih mengungguli sejumlah nama, termasuk Prabowo Subianto.

Dalam survei tersebut dilakukan pada 25-31 Maret 2018 itu elektabilitas Jokowi berada di angka 51,9 persen, sedangkan Prabowo di urutan kedua dengan 19,2 persen.

71,3 Persen Responden Puas Kinerja Jokowi

Hasil survei nasional Indikator Politik Indonesia (Indikator) menunjukkan lebih dari 70 persen responden merasa puas terhadap kinerja Joko Widodo (Jokowi) selama menjabat sebagai presiden.

Rinciannya, sebanyak 14,8 persen menyatakan sangat puas dan 56,5 persen merasa cukup puas. Sedangkan 25,4 persen merasa kurang puas dan yang merasa tidak puas sama sekali sebanyak 1,9 persen. Sementara itu, sebanyak 1,5 persen tidak menjawab.

“Jadi secara keseluruhan (yang merasa sangat puas dan cukup puas atas kinerja) Pak Jokowi 71,3 persen. kalau yang tidak puas 27,3 persen,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei di kantor Indikator, Cikini, Jakarta, Kamis (3/5).

Survei Indikator dilakukan pada 25-31 Maret 2018 terhadap 1.200 responden yang dipilih dengan metode multistage random sampling. Responden dalam survei ini adalah warga negara Indonesia (WNI) yang telah memiliki hak pilih, yakni minimal usia 17 tahun atau sudah menikah. Margin of error plus minus 2,9 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasil survei juga menunjukkan 17 persen responden sangat yakin Jokowi mampu memimpin Indonesia ke depan menjadi lebih baik dari sekarang. Sedangkan 55,5 persen menyatakan cukup yakin.

Selain itu, sebanyak 18,2 persen merasa kurang yakin, dan 2,7 persen mengaku sama sekali tidak yakin. Sementara itu, 6,6 persen menjawab tidak tahu. “Jadi 73 persen yakin akan kemampuan Jokowi. Pernah di bulan Juni 2015 keyakinan terhadap Jokowi drop (merosot), tapi setelah itu tingkat keyakinan publik meningkat,” kata Burhanuddin.

Sementara survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 7-14 Januari 2018 menyimpulkan isu primordial dalam bentuk Islam politik, isu ekonomi, dan isu buruh asing berpotensi menjegal Jokowi di Pilpres 2019.

Responden terbelah soal isu agama dalam politik. Survei LSI Denny JA mencatat 40,7 persen atau mayoritas responden menyatakan tidak setuju ada pemisahan politik dengan agama.

Di kubu lainnya, terdapat 32,5 persen menilai agama dan politik harus dipisahkan. “Artinya kita lihat bahwa Jokowi belum terlihat ramah dalam isu agama dan politik. Ini akan mengancam secara elektoral,” ujar Peneliti LSI Adjie Alfaraby pada jumpa pers di Jakarta, Jumat (2/1).

Isu ekonomi dan masuknya tenaga kerja asing juga berpotensi menghambat laju Jokowi. Kata Adjie, dalam masalah ekonomi masyarakat memiliki suasana psikologis yang kurang baik.

Lebih dari setengah responden menyatakan harga kebutuhan pokok meningkat dan memberatkan, lapangan kerja sulit didapatkan, serta jumlah pengangguran semakin meningkat.

Di sisi lain, responden menyatakan kekhawatiran akan isu masuknya tenaga kerja asing, terutama dari China. “Jika ketiga isu dikelola dengan baik, maka Jokowi akan semakin kuat dan sulit ditandingi. Namun kalau tidak, akan melemahkan Jokowi dan menguatkan capres lain,” imbuhnya.

Hasil survei LSI tersebut diambil dari 1.200 responden yang menjadi sampel dan diwawancara tatap muka menggunakan kuesioner pada 7-14 Januari 2018.

LSI menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9 persen. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Real Count KPU 20%: Jokowi-Amin 55,1% Prabowo-Sandi 44,9%

Metrobatam, Jakarta - Data masuk di Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU sudah mencapai 20,1%. Situng yang juga kerap disebut sebagai 'Real Count KPU'...

KPU Rekomendasikan Pemilu Serentak Dipisah

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan riset evaluasi pelaksanaan pemilu serentak. Salah satu rekomendasinya yaitu dilakukannya pemilu serentak dengan dua jenis. "Salah satu...

Kompolnas Tolak Gabung bila TPF Kecurangan Pilpres Dibuat

Metrobatam, Jakarta - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menolak bergabung andai kedua paslon peserta Pilpres 2019 sepakat membentuk komisi atau tim independen pencari fakta kecurangan....

Brimob Nusantara Ditarik ke DKI, KSP: Jakarta Barometer, Harus Diperkuat

Metrobatam, Bogor - Brimob Polda-polda di Indonesia dikerahkan Ibu Kota Jakarta terkait pengamanan tahapan Pemilu 2019. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan sebagai ibu...

Pencarian Terus Dilakukan, Korban Tewas Gempa Filipina Jadi 11 Orang

Manila - Upaya pencarian para korban gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,1 di Filipina terus dilakukan. Sejauh ini korban tewas bertambah menjadi 11 orang. Gempa bumi...

Wiranto Tegaskan Aparat Siap Hadapi Aksi yang Melanggar Hukum

Metrobatam, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamana (Menko Polhukam) Wiranto mewanti-wanti kepada semua pihak tidak membuat gerakan massa yang mengganggu ketertiban...

NU Minta Masyarakat Bersabar Tunggu Hasil Perhitungan KPU

Metrobatam, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj meminta semua pihak menahan diri dan bersabar menunggu perhitungan resmi pemilihan...

TKN Minta Kubu Prabowo Lapor Bawaslu jika Temukan Kecurangan

Metrobatam, Jakarta - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga meyakini pelaksanaan Pilpres 2019 telah berjalan sesuai dengan mekanisme...

Bawaslu Sebut Situs Jurdil 2019 Diblokir karena Tak Netral

Metrobatam, Jakarta - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin menyebut penutupan situs pemantau jurdil2019.org atau Jurdil 2019 dilakukan lantaran terdapat indikasi tidak netral...

18% Data TPS Sudah Masuk, Ini Hasil Real Count KPU

Metrobatam, Jakarta - Data yang masuk di Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU sudah mencapai 18,8%. Situng, yang juga kerap disebut sebagai 'Real Count...

JK: Pertemuan Jokowi dengan Prabowo Makin Cepat, Makin Baik

Metrobatam, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) Calon Presiden (Capres) nomor urut 01 dan 02, Joko Widodo dan Prabowo Subianto segera melakukan pertemuan...

Stiker KPU Jadi Dasar Curiga Kecurangan, Ternyata untuk Hindari Preman

Metrobatam, Jakarta - Video mobil boks berstiker KPU parkir di depan ruko digital print di Kawasan Condet, Jakarta Timur, bikin geger. Banyak yang menaruh...