Ini Bukti yang Seret Eks Wali Kota Depok Nur Mahmudi Tersangka Korupsi

Metrobatam, Depok – Penyidik Polresta Depok telah memiliki sejumlah alat bukti dalam penyidikan kasus dugaan korupsi Jalan Nangka, Tapos yang melibatkan mantan Wali Kota Nur Mahmudi Ismail dan mantan Sekda Depok Harry Prihanto. Apa saja?

“Sudah kurang lebih 80 saksi yang kita mintai keterangan,” kata Kapolresta Depok Kombes Didik Sugiarto kepada wartawan di kantornya, Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Rabu (29/8).

Read More

Selain itu, penyidik juga telah mendapatkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jawa Barat terkait kerugian negara. Sejumlah barang bukti juga telah disita polisi.

“Beberapa barang bukti sudah kita lakukan penyitaan dan telah juga dilakukan penghitungan kerugian negara oleh tim auditor,” katanya.

Kasus itu mulai disidik sejak November 2017 lalu. Dalam rangkaian penyidikan tersebut, penyidik menetapkan Nur Mahmudi dan Prihanto sebagai tersangka.

“Dari beberapa alat bukti yang sudah dikumpulkan, akhirnya tim penyidik Polres Kota Depok menetapkan saudara NMI dan saudara HP selaku tersangka kegiatan pengadaan tanah Jalan Nangka tahun anggaran 2015,” lanjutnya.

Polisi menemukan adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan proyek pelebaran jalan tersebut. Bukti lain masih dikumpulkan polisi untuk mendalami kasus itu.

“Dalam proses penyidikan tim penyidik menemukan perbuatan melawan hukum yang diduga dilakukan oleh saudara HP dan NMI. Saat ini tim mengumpulkan alat bukti untuk memperkuat pembuktian,” lanjutnya.

Benarkah Nur Mahmudi Hilang Ingatan?

Di tengah penyidikan kasus dugaan korupsi yang menyeretnya sebagai tersangka, mantan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dikabarkan tengah sakit. Politisi PKS itu dikabarkan kehilangan ingatan.

Kabar itu diamini oleh Tafy, ajudan Nur Mahmudi. Menurut Tafy, Nur Mamudi kehilangan ingatan setelah terjatuh ketika ikut perlombaan 17 Agustusan yang lalu.

“Pada saat lomba 17-an Agustus, tanggal 18-nya lomba volley main di sini, (Nur Mahmudi) jatuh pas kepala belakangnya,” kata Tafy kepada wartawan di pos rumah Nur Mahmudi Komplek Tugu Asri, Jalan RTM, Tugu, Cimanggis, Depok, Rabu (29/8/2018).

Nur Mahmudi sempat dilarikan ke Rumah Sakit Hermina, Depok dan menjalani perawatan selama sepekan. “Kurang lebih sudah seminggu kali ya,” ucapnya.

Cidera di bagian belakang kepalanya itu membuat Nur Mahmudi hilang ingatan. Saat ini, kata Tafy, Nur Mahmudi masih dalam proses pemulihan.

“Ya sempat ini (hilang ingatan) tapi sudah mulai ada perbaikan, intinya masih masa penyembuhan lah, masih masa istirahat dulu,” lanjutnya.

Hanya saja, Tafy mengaku tidak mengetahui apakah Nur Mahmudi saat ini ada di rumahnya atau tidak. Namun dia memastikan bahwa Nur Mahmudi sedang dalam proses pemulihan dari sakitnya itu.

“Lagi pemulihan beliau, saya kurang tahu ya, saya juga belum masuk ke dalam (rumah),” sambungnya.

Kediaman Nur Mahmudi memang tampak sepi. Di depan rumah dua lantai itu hanya tampak ada 2 unit mobil. Tidak tampak aktivitas penghuni rumah.

Sementara MA mengatakan, Hakim ad hoc Pengadilan Negeri (PN) Medan Merry Purba, diberhentikan sementara dari jabatannya. Pemberhentian sementara itu lantaran Merry telah ditetapkan KPK sebagai tersangka.

“Kita berhentikan sementara dulu. Tunjangan tidak dibayar, hanya gaji pokok sampai putusan yang tetap langsung diberhentikan tetap,” kata Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA) Nonyudisial Sunarto dalam konferensi pers di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (29/8/2018).

Nasib serupa juga ditimpakan pada Helpandi yang merupakan panitera pengganti PN Medan. Dia juga ditetapkan KPK sebagai tersangka.

MA disebut Sunarto sudah menerjunkan tim dari Badan Pengawasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada para pimpinan pengadilan. Sunarto mengaku tidak bisa sembarangan mencopot para pimpinan pengadilan itu karena sudah ada pembinaan dan pengawasan, tetapi tetap saja ada hakim yang nakal.

“Tapi gimana menyangkut karakter. Kalau belum mendapat hidayah Tuhan susah untuk berubah sehingga tidak ada bentuk pelanggaran, terpaksa kita harus selesaikan urusan-urusan begini. Jangan sampai parasit jadi badan peradilan,” kata Sunarto.

Merry diduga menerima suap dari Tamin Sukardi yang duduk sebagai terdakwa dalam perkara yang diadili di PN Medan. Merry duduk sebagai hakim anggota bersama Sontan Merauke Sinaga dengan ketua majelis hakim Wahyu Setyo Wibowo.

Tamin diduga memberikan SGD 280 ribu atau sekitar Rp 3 miliar ke Merry melalui orang kepercayaannya bernama Hadi Setiawan. Selain Merry, panitera pengganti PN Medan bernama Helpandi juga dijerat KPK. Merry, Tamin, Hadi, dan Helpandi pun ditetapkan KPK sebagai tersangka. (mb/detik)

Loading...

Related posts