Foto : idnnews.id

Pondok pesantren dan panti asuhan se-Kota Batam menerima hibah ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebanyak 5.000 kg. Ikan hibah ini diserahkan dalam acara makan ikan bersama 2.000 santri di Pondok Pesantren Darul Falah Nongsa, Selasa (11/12).

Kepala Pusat Sistem Standarisasi dan Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan (BKIPM), Teguh Samudra mengatakan jenis ikan yang diberikan bermacam-macam, seperti ikan makarel dan ikan kembung.

“Ikan yang dihibahkan ini adalah hasil penegahan kegiatan pemasukan yang tak sesuai prosedur. Tak ada izin impor,” kata Teguh.

Terdapat total 26 ton ikan hasil penegahan kapal di perairan Batam pada Agustus lalu. Setelah melalui proses koordinasi dengan instansi terkait, serta dilakukan uji laboratorium, ikan tersebut dinyatakan masih bagus dan layak konsumsi. Ada beberapa pilihan terkait ikan tegahan ini, yaitu diekspor kembali atau dimusnahkan.

“Atas saran dari pimpinan, supaya digunakan untuk para santri. Agar lebih meningkatkan kesehatan, kecerdasan, sekaligus menggugah kesadaran santri tentang manfaat ikan dan laut,” ujarnya.

Teguh mengatakan ikan tegahan ini tak hanya dibagikan di Kota Batam. Tapi juga ke pesantren di Pekanbaru dan beberapa daerah di Pulau Jawa.

Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Batam terhadap kegiatan ini. Wilayah Batam dan Kepulauan Riau yang didominasi laut harus dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat.

“Kepri 96 persen laut, soal ikan sudah sangat familiar. Batam 67 persen laut, cerita tentang ikan ini sudah sangat umum. Dan alhamdulillah cerita tentang ikan ini tak ada yang negatif. Tak ada yang bilang makan ikan buat stroke. Justru mengatakan perbanyaklah makan ikan. Makan ikan banyak, anak-anak akan hebat,” kata Amsakar.

Menurutnya pilihan untuk diadakan di pesantren ini sudah tepat. Ia mengatakan kegiatan KKP ini akan memberikan kontribusi bagi pesantren, Kota Batam, Provinsi Kepri, bahkan negara Indonesia.

“Menjadi penting bagi kita untuk mendorong generasi kita tumbuh kembang jadi generasi yang hebat dan kuat. Tantangan sekarang tak bisa diprediksi. Semua penuh lompatan. Beberapa kegiatan konvesional sebentar saja usianya. Kalau tidak dicermati fenomena demikian itu, generasi di depan kita ini akan jadi generasi yang kaku, gagu mencermati perkembangan zaman,” kata dia.

Di sisi lain, kata Amsakar, pada 2035 Indonesia diestimasi menjadi negara dengan bonus demografi tinggi. Kalau sejak dini tidak dipersiapkan maka pertumbuhan anak-anak ini akan jadi persoalan bagi Republik.

“Santri ini dalam banyak hal diasumsikan sebagai kelompok pelajar yang konvensional, tradisional. Pada kenyataannya kita dikejutkan beberapa santri hebat di negeri ini,” tuturnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepri, Edi Sofyan mengatakan angka konsumsi ikan di Kepri sudah berada di atas rata-rata nasional. Tingkat konsumsi ikan Kepri 55,79 kg per kapita per tahun. Sementara nasional sebanyak 54,49 kg per kapita per tahun.

“Kita orang pulau ini tak ada ikan tak makan. Dari kecil sudah makan ikan. Dengan program ini anak-anak kita bisa makan ikan. Mudah-mudahan jadi sehat, gizi bagus, belajar dengan baik, sehingga menjadi anak cerdas beriman,” kata Edi.

Dewan Pembina Yayasan Darul Falah, Usman Ahmad menyampaikan terima kasih atas program KKP ini. Ia berharap dengan mengonsumsi ikan, semua santri akan menjadi semakin cerdas.

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...