Metrobatam, Jakarta – Tulisan mantan anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Usamah Hisyam mengenai Prabowo Subianto yang meninju meja dalam forum Dewan Penasihat PA 212 seminggu sebelum Ijtimak Ulama I disanggah beberapa pihak. Usamah mengaku siap bersumpah terkait pengakuannya tersebut.

Salah satu pihak yang menyanggah Usamah Hisyam ialah Kadiv Hukum PA 212 Damai Hari Lubis. Damai mengaku tak pernah melihat maupun mendengar perihal Prabowo meninju meja di depan ulama hingga membuat ulama terperangah. Usamah menyebut Damai memang tak hadir dalam forum tersebut.

“Damai Lubis yang pasti tidak ada di ruangan itu ya. Bahwa itu (disebut) cuma gerakan tubuh segala macam, tetapi yang pasti saya melihatnya dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu melihatnya itu meninju meja. Tangannya (Prabowo) tangan meninju ya, dengan nada intonasi tinggi marah ya,” kata Usamah kepada wartawan, Kamis (20/12) malam.

Usamah tak tahu Prabowo marah ke siapa saat Ketum Partai Gerindra itu menurutnya meninju-ninju meja di depan ulama. Prabowo, dalam tulisan Usamah yang dimuat situs muslimobsession, disebut meninju meja karena ada yang meragukan keislamannya.

Ketua Umum Parmusi itu sangat yakin dengan apa yang dilihatnya malam itu, Prabowo menurutnya meninju meja hingga lima kali. Jika ada pihak yang meragukannya, termasuk Damai Lubis yang sempat menyebut kejadian itu hanya ilusi Usamah, Usamah siap bersumpah di masjid dan di atas Alquran.

“Dan kalau kata Damai Lubis itu ilusi saya, saya berani mengajak para ulama yang hadir di situ ya, untuk mengangkat sumpah di Masjid Istiqlal di atas Alquran kalau saya bohong,” tegas Usamah.

“Saya tantang ulama-ulama yang ada itu, ayo, kalau sampai dia mengatakan tidak benar Prabowo melakukan itu. Kalau Damai Lubis tidak usah dianggap, orang dia nggak hadir, nggak ada. Sama siapa juru bicaranya (Gerindra) itu (tidak usah dianggap karena tidak hadir,” imbuh Usamah.

Juru bicara yang dimaksud Usamah adalah anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade. Andre sempat menyebut bahwa Prabowo tidak pernah memukul meja, Prabowo hanya bersemangat meyakinkan para ulama. Senada dengan Usamah dan Andre, Ketum PA 212 Slamet Maarif menegaskan Prabowo saat itu refleks dan refleks itu muncul ketika–menurut Slamet–Prabowo ingin menunjukkan keseriusannya karena keislaman eks Danjen Kopassus itu dituduh kurang.

Usamah menegaskan bahwa sepenglihatannya saat itu Prabowo meninju meja. Tinjuan Prabowo, kata Usamah, keras.

“Kita melihatnya meninju, marah kok, semangat gimana. Bukan refleksi, (bukan) reaksi tangan biasa, (tetapi) meninju. Tangan ke atas, tinjuannya ke bawah, ke meja, gimana. Dan itu keras,” sebut Usamah.

Usamah meminta semua pihak yang tak hadir dalam forum Dewan Penasihat PA 212 saat itu untuk tidak berkomentar. Jika ada ulama yang hadir pada saat itu memberi sanggahan terhadap tulisannya soal Prabowo meninju meja, dia kembali menegaskan siap bersumpah di Masjid Istiqlal.

“Jadi kalau ada ulama yang hadir di situ mengatakan itu tidak benar kata Usamah, kita ambil sumpah di atas Alquran di Masjid Istiqlal. Dan siapa yang mengatakan itu tidak terjadi, maka seluruh pahala amal dia akan digerus oleh Tuhan ya, tergerus oleh Allah SWT dan akan dinistakan oleh Allah. Saya berani. Siapa yang berani mengatakan bahwa itu hanya refleksi dari tangan, itu nggak. Marah memang. Tetapi kemarahannya kepada siapa nggak jelas, tapi dia mempersoalkan orang yang masih mempersoalkan keislaman dia,” ucap Usamah.

BPN Sindir Usamah

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak menyindir Ketua Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam.

Usamah sebelumnya mengungkap bahwa Prabowo sempat berbicara lantang dan menggebrak meja dalam rapat Dewan Penasehat Persaudaraan Alumni 212. Menurut Dahnil, Usamah sedang menjalani tugas baru seperti mantan pengacara Rizieq Shihab, Kapitra Ampera dan Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra.

“Kan, mungkin saja Pak Usamah Hisyam punya tugas baru seperti Pak Kapitra, Pak Yusril dan Pak Ali Mohtar Ngabalin,” ucap Dahnil di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis (20/12).

Dahnil mempersilakan Usamah untuk mengutarakan pernyataan apapun. Dahnil mengatakan pihaknya menghormati Usamah dan segala tugas yang tengah diembannya saat ini.

“Kami menghormati tugas-tugasnya,” ucap Dahnil.

Perihal Prabowo menggebrak meja, Dahnil menanggapi dengan santai. Dia bertanya balik di mana dan kapan tepatnya Prabowo marah hingga memukul meja di hadapan ulama. Menurut Dahnil, Prabowo justru mendapat dukungan dari para ulama PA 212 melalui Ijtima Ulama II.

“Buktinya para ulama banyak mendukung full ke Pak Prabowo dan Bang Sandi. Jadi ya kalau pak Usamah Hisyam yang menyampaikan ya monggo saja,” kata Dahnil.

Sementara Juru Kampanye Nasional pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Eva Kusuma Sundari mengkritik tingkah Prabowo Subianto yang memukul meja dalam forum Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212.

Ia menyatakan bahwa Prabowo telah merugikan para ulama yang merekomendasikan dirinya sebagai calon presiden di pilpres 2019 melalui forum Ijitimak Ulama karena memiliki sifat tak Islami.

“Makanya Prabowo telah merugikan ulama sendiri, kalau ulama justru memilih orang yang sebenarnya tak Islami, tak bijaksana, masa di depan ulama gebrak-gebrak meja,” kata Eva saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (19/12).

Politikus PDIP itu turut menyesalkan bahwa para ulama yang tergabung dalam Ijtimak Ulama kala itu belum mampu memilih pemimpin yang ideal bagi kelompoknya sendiri.

Pasalnya, kata dia, tingkah Prabowo sendiri masih diragukan baik dari rekam jejak kepemimpinan dan faktor psikologisnya selama ini.

“Berarti milihnya dulu enggak di cek sampai ke faktor psikologis, faktor karakter, faktor track record, hanya karena gara-gara dia melawan Jokowi kemudian didukung,” kata Eva.

Eva lantas memberikan ilustrasi bahwa seorang pemimpin atau calon presiden harus memiliki karakter yang bijaksana dan mengayomi setiap masyarakat, terlebih lagi bagi seorang ulama.

Ia lantas mencontohkan sosok Jokowi yang memiliki sifat santun dan mengayomi segenap masyarakat, tak peduli latar belakangnya.

“Ya Pak Jokowi kan kalem, melindungi siapapun, gesturnya sangat adem gitu, menurutku seorang pemimpin harus bisa memberikan perlindungan, bukan menakutkan gitu,” kata dia. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...