Metrobatam, Jakarta – KPU tetap akan memberikan kisi-kisi alias bocoran pertanyaan debat capres ke pasangan calon. Kesepakatan ini sesuai dengan hasil rapat bersama para timses.

“Untuk sementara yang pertama ini sampai beberapa hari ke depan, tidak ada permintaan untuk mengubah dari masing-masing tim kampanye ya tetap kita laksanakan,” ujar komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (7/1).

Disodorkannya pertanyaan debat capres ditegaskan Pramono kesepakatan bersama. Dalam pertemuan di KPU, tidak ada timses yang mengajukan keberatan.

“Kalau mau mengajukan sebenarnya (saat) diskusi hari Jumat kemarin, mereka bisa menyampaikan, tapi kan nggak juga. Pada saat rapat kita dengan akrab, dengan sabar, terbuka, nggak ada yang menyampaikan keberatan dan proses,” tuturnya.

KPU menurut Pramono juga akan melakukan evaluasi setelah debat pertama capres dilaksanakan. Nantinya, format debat dapat berubah bila terdapat pihak yang merasa keberatan.

Format debat yang dimaksud yakni aturan saat debat berlangsung maupun sebelum debat. Termasuk soal pemberian materi daftar pertanyaan kepada capres sebelum debat.

“Nanti kita lihat dulu, kita lakukan evaluasi dari hasil debat pertama, jika ada tim kampanye dan paslon yang merasa agak keberatan atau dirugikan atau merasa agak susah menggunakan metode pertama. Kita terbuka untuk diskusi kembali untuk duduk bersama,” kata Pramono.

“Jadi debat kedua, ketiga, keempat itu bisa berbeda-beda, bagaimana masing-masing gagasan punya usulan. Jangan pas rapat senyam-senyum nggak protes, nggak apa, tapi di luar teriak-teriak, menurut saya itu tidak bertanggung jawab,” sambungnya.

Tak Risau Dilaporkan

Ubaid juga mempersilakan pelaporan dirinya ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) terkait pernyataannya yang diklaim menyudutkan Wasekjen Demokrat Andi Arief.

Pernyataan itu merespons Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Habiburokhman yang berencana melaporkan Pramono terkait kasus hoaks tujuh kontainer berisi surat suara yang tercoblos.

“Ya tidak apa-apa, itu hak dia sebagai warga negara juga,” kata Pramono saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Senin (7/1).

Sebelumnya, Pramono menyebut Andi Arief sengaja mendesain cuitan itu agar geger, tapi tak bisa dituduh menyebar hoaks.

Pramono menyampaikan akan mengikuti proses hukum. Ia juga tak mau berpolemik terlalu dalam terkait hal itu. “Saya tidak ingin itu jadi debat personal karena ini institusi KPU,” ujarnya.

Terkait proses hukum dugaan hoaks surat suara tercoblos tujuh kontainer, kata Pramono, saat ini masih bergulir di Mabes Polri.

KPU berharap kepolisian bisa mengungkap dugaan hoaks ini hingga ke dalangnya, tidak berhenti di pekerja lapangan.

“Bukan hanya menelusuri dua orang yang sudah menjadi tersangka, tetapi juga dari mana perintahnya, siapa yang menyuruh, kemudian mungkin di belakangnya ada struktur organisasi yang lebih mapan,” ujar Pramono.

Sebelumnya, publik digegerkan dengan cuitan Wasekjen Demokrat Andi Arief soal kabar ada tujuh kontainer berisi surat suara yang sudah tercoblos untuk calon pasangan nomor urut 01.

Pramono mencibir cuitan itu sudah didesan Andi Arief agar tak terciduk proses hukum terkait hoaks.

“Memang pilihan katanya sudah didesain, sudah dipikirkan secara matang agar dia tidak dituduh menyebarkan hoaks. Jadi itu memang sudah dia pikirkan secara matang pilihan kata-katanya. Ada katanya, ada ‘minta tolong’, itu bagian dari strategi saja,” tutur Pramono di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (4/1). (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...