BC Batam Tahan 60 Kontainer Limbah B3, Aspel B3 Batam Rugi Miliaran

Aspel B3 Konferensi Pers Kepada Awak Media, Jumat (08/02/2019) di Batu Besar Nongsa Batam.

Metrobatam.com, Batam -Asosiasi Pengusaha Limbah (Aspel) B3 Konferensi Pers kepada Awak Media, Jumat (08/02/2019) di Batu Besar, Nongsa, Batam. Mengenai tentang 60 unit kontainer barang berisikan limbah Berbahaya, Berbau dan Beracun (B3).

Kantor Pelayanan Utama (KPU), Bea dan Cukai Tipe B Batam menahan menahan 60 unit kontainer barang berisikan limbah Berbahaya, Berbau dan Beracun (B3) di Pelabuhan Resmi Makobar, Batuampar.

Read More

Limbah B3 tersebut harusnya sudah terkirim sejak Bulan Januari lalu ke Jakarta oleh transporter B3, namun hingga kini masih tertahan dan tidak tau apa alasannya. Terhambatnya pengiriman Limbah tersebut mengakibatkan Asosiasi Pengusaha Limbah B3 mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Limbah (Aspel) B3 Batam, Barani Sihite menerangkan, terkait ditahannya pengiriman limbah B3 tersebut, pihaknya sangat merugi apalagi hingga berminggu-minggu, dan kerugian belum bisa ditaksir seberapa besar.

“Yang ditahan itu limbah B3 dan bukan barang biasa, yang tak ada dampaknya. Namun, yang ditahan itu limbah B3, yang sangat berbahaya bagi lingkungan maupun kehidupan. Makanya harus segera kami kirimkan ke pembuangan akhir,” ungkap Barani Sihite, Jumat (8/2) siang, konferensi pers kepada awak media.

Bukan itu saja, masih ada lagi limbah B3 yang masih menumpuk sebanyak 24.000 ton, kawasan penampungan di Kabil, yang jumlahnya terus bertambah tiap hari dari para pengumpul. “Lama lama Batam akan dipenuhi oleh limbah B3, sehingga akan menimbulkan bahaya serta musibah terhadap lingkungan dan kehidupan,” ujarnya.

Bahwa dikatakan Ketua Aspel B3 Batam, awal terjadi penahanan limbah B3 tersebut saat pihak KPK melakukan pemeriksaan terhadap tiga kontainer di Pelabuhan Tanjungpriuk.

Setelah pemeriksan tersebut entah kenapa, jadi berdampak ke pengiriman limbah B3 dari Batam, sehingga ditahan hingga sekarang oleh pihak Kantor BC,”Ungkapnya.

“Sebab kita telah datang menjelaskan pada mereka (BC), dengan menghadirkan seluruh dokumen legalitas, maupun surat perizinan pengiriman limbah B3, sebagaimana ketentuan UU, serta ketentuan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tentang pengiriman limbah B3. Semua sudah kita penuhi. Tetapi faktanya hingga kini masih ditahan, tanpa ada kejelasan,”tutur Berani Sihite.

Tambahan Ketua Harian Aspel B3 Batam, Arlon Veristo menjelaskan,  pihak BC meminta surat katerangan ( SKT ) dari pihak DLH, terkait atas jumlah barang  dan jenis limbah dalam pengiriman limbah B3 tersebut, untuk kelengkapan dokumen.

Namun, sesuai PP 101 th 2015 “DLH tidak lagi mengeluarkan surat tersebut, karena tidak ada ketentuannya. Berapa jumlah barang dan jenis barang yang diangkut transporter itu telah tertulis di dalam manifest dan pengiriman limbah B3 itu sudah diketahui oleh pihak DHL,”kata Arlon Veristo.

Bahwa masalah yang terjadi saat ini, ungkapnya, kami tidak mengetahui apa alasannya, sehingga tak diizinkan untuk melakukan pengiriman barang atau limbah B3 yang semakin harinya semakin menumpuk.

“Kami bingung serta heran kok bisa seperti ini, padahal selama ini kita tidak ada masalahnya. Kalau lama-lama seperti ini, Batam bisa penuh dengan limbah B3. Dan sebagai pelaku usaha pengumpulan dan pengiriman limbah B3, tentu kami bisa bangkrut dan kolep,”ujar Arlon.

Untuk sementara, diketahui dari pelaku usaha limbah B3 dari daerah lainnya di seluruh Indonesia, tidak ada masalah atas pengiriman limbah B3 itu, dengan dokumen yang sama di pihak Bea Cukai.

“Anehnya KPU BC Batam saat ini, hampir sejak sebulan belakangan pengiriman limbah B3 itu ditahan. Sehingga telah menumpuk di tempat pengumpulan dan 60 unit lebih dari kontainer limbah B3 ditahan pengirimanya di Pelabuhan Makobar, Batuampar.

Sementara Bendahara Aspel B3 Batam, Hanafi Sihite sudah bertemu dan menyampaikannya ke pihak Kementerian Lingkungan Hidup, dan Dirjen KLH mengatakan, telah terjadi sebuah kesalahpahaman terhadap penahanan ini. Tutupnya. (Thon)

Loading...

Related posts