Punya Dua Presiden, Ada Apa dengan Venezuela?

Metrobatam, Jakarta – Ketegangan politik di Venezuela yang tengah dilanda krisis telah mencapai titik didih.

Itu terjadi setelah pemimpin oposisi Juan Guaido berdiri di jalan-jalan ibu kota pekan lalu dan menyatakan dirinya sebagai “penjabat posisi presiden” atau acting president negara itu.

Read More

Bersama beberapa negara lain, Amerika Serikat (AS) segera mengakui Guaido sebagai pemimpin sementara yang sah di negara Amerika Latin itu yang secara otomatis meningkatkan tekanan pada Presiden Nicolas Maduro.

Hal ini telah mendorong Venezuela ke posisi yang belum pernah dialami negara itu sebelumnya. Negara kaya minyak, tetapi miskin itu, berada di tengah-tengah krisis kemanusiaan terburuk yang terjadi baru-baru ini.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa krisis politik ini unik? Dan ke mana semua ini akan bergerak? Berikut penjelasannya sebagaimana dilansir dari CNBC International, Jumat (1/2).

Apa yang terjadi?

Keresahan yang berkembang di Venezuela terjadi setelah bertahun-tahun kesalahan pengelolaan ekonomi, penindasan, dan korupsi.

Jutaan orang terpaksa meninggalkan negara itu di tengah hiperinflasi, pemadaman listrik, dan kekurangan bahan-bahan pokok, seperti makanan dan obat-obatan.

Pada awal bulan, Maduro disumpah untuk masa jabatan kedua setelah pemilihan umum yang ternoda oleh boikot oposisi dan klaim kecurangan suara.

Hasilnya memicu gelombang baru demonstrasi jalanan yang mematikan terhadap pemerintahan Maduro.

Sampai akhirnya Guaido, pemimpin terpilih Majelis Nasional Venezuela, menyebut dirinya sebagai presiden sementara pada 23 Januari.

Mengapa krisis ini unik?

Klaim Guaido untuk menjadi presiden begitu unik, sebagian besar karena telah diakui di luar negeri sebagai hal yang sah.

Ini berarti Venezuela telah didorong ke dalam situasi di mana negara ini memiliki pemerintah yang diakui secara internasional tanpa kontrol atas fungsi negara dan berjalan paralel dengan parlemen Maduro.

Lebih rumit lagi, pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan akan memberikan sanksi kepada perusahaan minyak milik negara Venezuela.

Selama bertahun-tahun, Gedung Putih menahan sanksi minyak mentah yang ditargetkan terhadap Caracas, takut akan menaikkan harga minyak dan akhirnya melukai perusahaan penyulingan Amerika.

Namun, dalam upaya dramatis menggulingkan Maduro, Washington telah berupaya meningkatkan tekanan pada pemerintahan sosialis itu.

“Pertaruhan itu berani, karena AS telah memainkan kartu terkuatnya dan sekarang tampaknya keluar dari opsi non-militer di Venezuela,” kata Fernando Freijedo, analis Amerika Latin di Economist Intelligence Unit, kepada CNBC International melalui email.

“Kami berharap AS meningkatkan sanksi sebagai bentuk tekanan bagi rezim di sana. Namun, penggunaan kekuatan militer tampaknya tidak mungkin karena hampir pasti akan datang dengan biaya dalam hal legitimasi bagi AS dan oposisi,” kata Freijedo.

Negara mana yang masih mendukung Maduro?

Komunitas internasional tidak bersatu di belakang Guaido. Mereka yang masih mendukung kepresidenan Maduro termasuk China, Iran, Rusia, Turki, Kuba, Bolivia, dan Nikaragua.

Moises Naim, mantan menteri Venezuela yang sekarang berada di Carnegie Endowment for International Peace, menulis melalui Twitter pada akhir pekan lalu bahwa kelompok ini harus disebut sebagai “aliansi diktator.”

“Kami melihat China tidak mau bertaruh besar-besaran melawan AS dan berisiko pada memburuknya hubungan di tengah-tengah negosiasi perdagangan. Demikian pula, kami melihat Rusia lebih tertarik berurusan dengan sanksi mereka sendiri dan, tidak seperti China, secara finansial tidak mampu membiayai rezim Venezuela,” katanya.

Apa yang terjadi sekarang?

Maduro telah memimpin Venezuela ke dalam krisis ekonomi terburuk yang pernah ada, dengan perkiraan hiperinflasi mencapai 10.000.000% tahun ini.

Akibatnya, sekitar 3 juta rakyat Venezuela melarikan diri ke luar negeri selama lima tahun terakhir demi menghindari kondisi kehidupan yang semakin memburuk.

Atas permintaan Guaido, satu protes nasional anti-pemerintah berlangsung pada Rabu, dengan demonstrasi besar lainnya dijadwalkan pada Sabtu.

Waktu unjuk rasa kedua ini penting karena beberapa negara Eropa, termasuk Spanyol, Jerman, Prancis, dan Inggris mengatakan mereka juga akan mengakui Guaido sebagai presiden jika pemilihan umum tidak diadakan pada Sabtu.

Maduro menolak ini dan mengatakan ultimatum itu harus ditarik.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Apa yang terjadi dalam beberapa hari mendatang tampaknya bergantung pada tindakan militer negara itu. Untuk saat ini, pejabat tinggi tetap mendukung pemerintah Maduro.

“Rezim otokratis dengan dukungan militer kadang-kadang dapat menahan tekanan internasional untuk waktu yang lama. Dan sementara Guaido mengambil kendali sekarang, dia harus memanfaatkan dukungan domestik dan internasional,” Tom Long, asisten profesor di departemen politik dan internasional studi di University of Warwick mengatakan kepada CNBC melalui email.

“Tentu saja, tidak jelas ke mana semua ini akan menuju, tetapi ini risiko konfrontasi yang tertinggi yang pernah terjadi,” tambah Long. (mb/detik)

Loading...

Related posts