Soal Puisi Fadli Zon, Yenny Wahid Ingatkan Pentingnya Jaga Ucapan

Metrobatam, Jakarta – Yenny Wahid turut mengomentari polemik puisi ‘Doa yang Ditukar’ yang diciptakan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Menurut Yenny, tokoh publik harusnya menjaga setiap ucapan.

“Ya, sebagai tokoh publik, apa pun kita berpendapat, kita berekspresi, itu akan bisa menimbulkan multi-interpretasi di kalangan masyarakat. Ada yang kemudian menanggapi negatif, ada yang positif. Kalau saya sih, sebagai seorang tokoh publik, memang kita semua selayaknya menjaga sekali apa yang kita bicarakan,” kata Yenny setelah berkunjung ke kediaman KH Ma’ruf Amin di Jl Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).

Read More

Yenny kemudian berbicara tentang etika. Yenny menyebut publik mempersepsikan puisi itu ditujukan ke KH Maimun Zubair atau Mbah Moen.

“Mungkin kalau lebih lentur, apa pun, publik masih menjunjung etika, apalagi walaupun tidak dikatakan secara langsung, tapi publik berkesimpulan puisi itu ditujukan kepada Mbah Maimun. Mbah Maimun ini ulama besar, maka ada adab yang harus dijaga ketika berinteraksi dengan beliau,” sebut Yenny.

“Kalau kemudian publik menganggap yang dilakukan adalah tindakan tidak sesuai adab, akan ada konsekuensi,” ucap Yenny.

Lalu konsekuensi apa yang dimaksud Yenny? Dia lagi-lagi berbicara tentang etika.

“Ah, kalau suatu ekspresi kemudian dipandang sebagai suatu hal yang tidak beretika, akan menimbulkan sebuah sikap yang tidak simpatik di tengah-tengah masyarakat. Pastinya warga NU merasakan kedekatan dengan Mbah Maimun Zubair. Jadi kalau ada ekspresi tokoh mana pun kemudian seolah-seolah diposisikan menyerang beliau, ya pasti tidak akan menimbulkan kesan yang simpatik di kalangan NU,” ucap Yenny.

Fadli Zon berulang kali menegaskan puisi ‘Doa yang Ditukar’ bukan ditujukan ke Mbah Moen. Dia menyebut kata ‘kau’ yang dipermasalahkan merujuk kepada makelar doa yang disebutnya sebagai penguasa.

“Saya sudah jelaskan beberapa kali bahwa puisi itu ekspresi dan nggak ada hubungannya dengan Mbah Maimun. Saya kira bagi mereka yang memahami puisi, itu sangat jelas. Bahkan dalam puisi itu disebutkan kaum penguasa, Mbah Maimun kan bukan penguasa,” ujar Fadli, Senin (11/2). (mb/cnn indonesia)

Loading...

Related posts