Metrobatam, Jakarta – Gerakan emak-emak kembali hadir di tengah ingar-bingar jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Emak-emak yang tertangkap di Karawang, Jawa Barat beberapa waktu lalu karena diduga melakukan kampanye hitam, membuktikan gerakan tersebut nyata dan masih cukup mendapat perhatian.

Mulanya, dalam kontestasi Pilpres 2019, istilah emak-emak populer ketika pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai satu instrumen baru pendulang suara. Mereka menilai emak-emak punya kekuatan tersendiri.

Atas fenomena itu, kubu 02 gencar menggunakan istilah emak-emak ketika mengangkat sejumlah isu selama kampanye. Sejumlah simpul gerakan pun dijual relawan, salah satunya Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi (PEPES). Belakangan diketahui PEPES erat dikaitkan dengan aksi emak-emak di Karawang, yang menyebut akan terlarang bunyi azan ketika Jokowi-Ma’ruf menang.

Gerakan emak-emak bukan hanya menghegemoni kubu 02. Di lingkaran paslon 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin, mereka memang tak banyak mengkapitalisasi isu maupun gerakan emak-emak. Namun, Jokowi lewat berbagai kebijakannya selaku petahan menjanjikan sejumlah program untuk emak-emak.

Beberapa di antaranya program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar), pembiayaan Ultra Mikro (UMi), hingga penitipan anak.

Pengamat politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menilai emak-emak sangat efektif untuk menggalang dukungan di pemilu. Sehingga ia tidak heran kedua kubu menggunakan emak-emak dalam setiap kampanye.

“Emak-emak dalam konteks pilpres hari ini menjadi magnet tersendiri. Oleh karena itu, kubu 01 dan 02 selalu mengkampanyekan dan menggerakkan emak-emak dalam kampanyenya,” ujar Ujang kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/2).

Emak-emak dalam konteks psikologi masyarakat Indonesia, kata dia, memiliki jaringan sosial yang kuat. Hal itu tumbuh dari kebiasaan emak-emak Indonesia yang kerap berbincang satu sama lain dan mengikuti perkumpulan, salah satunya pengajian.

Sebagai ibu rumah tangga, emak-emak memiliki pengaruh kuat untuk menggiring anggota keluarganya, terutama anak dalam menentukan sebuah pilihan. Ujang menilai seorang anak cenderung menuruti perintah ibu ketimbang bapak dalam konteks tertentu.

Selain itu, Ujang mengakui emak-emak memiliki militansi yang lebih bagus ketimbang laki-laki ketika berkampanye. Emak-emak cenderung loyal terhadap pilihannya. Sementara relawan laki-laki atau bapak-bapak cenderung bermain dua kaki karena mengedepankan keuntungan.

“Sehingga saya tidak heran emak-emak menjadi amunisi untuk berkampanye,” ujarnya.

Meski efektif untuk menggalang dukungan, Ujang mengingatkan semua pihak harus memberikan materi kampanye positif kepada emak-emak. Misalnya, kata dia, mengenai visi dan misi, serta program yang dimiliki calon yang dikampanyekannya.

Jika konten negatif yang dikedepankan, kata dia, hal itu akan menyebabkan rusaknya dinamika politik di Indonesia. “Ketika sudah dibelokkan kepada kampanye hitam yang menyerang terkait isu SARA, hoaks, atau politik identitas ini yang sangat berbahaya,” ujar Ujang.

Senada, pengamat politik Universitas Padjajaran, Idil Akbar berpendapat pemilih perempuan memiliki militansi dan loyalitas yang cukup besar ketimbang pemilih laki-laki. Pemilih perempuan, lanjutnya, mengedepankan sisi emosional ketimbang rasional terhadap calon yang disukainya.

“Kalau perempuan dengan calon itu berupaya membangun ikatan emosionalnya. Jadi yang dikedepankan emosinal mereka,” ujar Idil.

Terkait dengan karakter itu, Idil mengaku tidak heran ketika salah satu kubu paslon terus memainkan isu yang bersinggungan langsung dengan perempuan guna memperkuat loyalitas. Beberapa isu yang bersinggungan dengan perempuan, kata dia, di antaranya ekonomi dan agama.

Selain karakter, Idil menuturkan pemilih perempuan sebagai magnet politik karena jumlahnya lebih banyak dari pemilih laki-laki dalam setiap gelaran pemilu, termasuk Pilpres 2019. Berdasarkan data KPU per Desember 2018, jumlah pemilih perempuan mencapai 99.557.044 orang. Sementara pemilih pria sebanyak 96.271.476 orang.

Analis politik Exposit Strategic, Arif Susanto menilai terminologi dan peran sosial emak-emak selama ini memiliki konotasi yang cenderung kurang baik.

Menurut dia, emak-emak dianggap merupakan stereotip terhadap representasi ibu-ibu yang ada dalam sebuah sinetron, yakni suka isu domestik, seperti isu pemenuhan pangan hingga pendidikan anak.

Dalam kontestasi politik, Arif membanarkan emak-emak memiliki peran sosial. Sehingga, ia mengaku tidak sepakat ketika elite politik menjadikan emak-emak hanya untuk komoditas politik atas isu domestik.

“Mestinya para politikus kita bisa membingkai peran sosial ibu-ibu dalam satu bingkai yang lebih transformatif dan berdaya,” ujar Arif.

Arif membeberkan sejumlah isu yang sejatinya diarahkan kepada pemilih perempuan. Misalnya yakni soal kesehatan reproduksi yang memiliki pengaruh terhadap banyak orang. Selain itu, isu kesehatan anak juga merupakan isu yang menyangkut masa depan bangsa.

“Kalau frame-nya lebih transformatif saya kira akan menjadi positif. Tetapi kalau selama ini dikesankan bahwa emak-emak itu tidak lebih kepada pendukung yang punya loyalitas tinggi dan emosional menurut saya itu kurang baik,” ujarnya. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE