Metrobatam, Padang – Setelah mendengar keterangan saksi korban, polisi akhirnya mengetahui kepastian kasus pencabulan terhadap CA (17) oleh ayah kandungnya, AH seorang calon legislatif (caleg) dari Partai Keadilan Sejatera (PKS) di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Diketahui, pencabulan bukan saat korban berusia tiga tahun, melainkan 10 tahun.

Kapolres Pasaman Barat, AKBP Iman Pribadi Santoso menjelaskan, korban dicabuli sejak duduk di bangku kelas 3 SD. “Jadi bukan di usia 3 tahun, tapi ketika menempuh pendidikan di kelas 3 SD, saat itu usia korban 10 tahun. Kalau 3 tahun memang masih kecil, ” ujarnya, Kamis (14/3/2019)

Korban sudah tidak ingat lagi sudah berapa kali tersangka AH melakukan tindakan asusila tersebut. “Namun informasi kita gali dari korban pencabulan itu terjadi ketika di Tahun 2011. Terkait telah berapa kali tersangka melakukan pencabulan masih dilakukan penyelidikan,” ujarnya.

Iman mengatakan, pihaknya kini fokus mengejar tersangka yang diduga berada di wilayah Jawa Barat. “Saat ini kita masih fokus melakukan pengejaran terhadap tersangka. Terakhirnya kita mendapatkan informasi tersangka ini ada di wilayah Jawa Barat. Anggota Opsnal sudah kami kerahkan ke Jawa Barat,” kata dia.

AH sudah ditetapkan tersangka dalam kasus dugaan pencabulan terhadap anak kandungnya. Karena melarikan diri, AH masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). “Sudah ada alat bukti permulaan yang cukup ditambahkan dengan surat hasil visum sehingga kasus dimasukkan ke tahap penyidikan. AH Ditetapkan sebagai tersangka dan juga DPO,” tuturnya.

AH menjadi caleg dengan nomor urut 4 di Daerah Pemilihan (Dapil) Pasaman Barat 3 yang berdomisili di Kecamatan Sungai Aur. Meski dicalonkan sebagai caleg, PKS mengklaim AH bukan kader dari partai. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Pasaman Barat, Fajri Yustian meminta publik tak menyalahkan PKS dalam kasus yang bersifat personal ini.

PKS Akan Pecat Caleg Pencabulan Anak Kandung

Tim Advokasi Hukum DPP PKS, Zainudin Paru mendorong agar calegnya yang tersandung kasus pencabulan terhadap anak kandung, AH diproses sesuai hukum yang berlaku. Selain itu, pihaknya akan segera melayangkan surat kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat agar mencoret AH dari daftar calon tetap (DCT) caleg DPRD Dapil Pasaman Barat III.

“PKS melalui DPD/DPW Sumatera Barat akan segera sampaikan surat resmi ke KPU. Minta Caleg tersebut dicoret dari DCT,” ujar Zainudin kepada Okezone, Kamis (14/3/2019).

“Dan terhadap pelaku, jika terbukti harus diproses hukum dan dihukum dengan hukuman yang berat,” tegasnya.

Dalam struktur partai politik, Zainudin mengungkapkan bahwa PKS akan menindaktegas AH dengan memecat dan mencabut keanggotaannya, serta meminta maaf kepada masyakarat dan semua pihak yang telah mendukung PKS.

“Secara struktur tegas, memecat dan mencabut kartu anggota yang bersangkutan dari keanggotaan PKS,” ujar Zainudin.

“Atas kasus ini kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Pasaman Barat, kader atau simpatisan dan semua pihak yang selama ini mendukung PKS,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, AH diduga telah melakukan tindakan asusila kepada anak kandungnya sejak berusia 10 tahun. Namun, kini ia kabur dan masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh pihak kepolisian. (mb/okezone)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE