Metrobatam, Jakarta – Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Wakabaintelkam) Polri Inspektur Jenderal Suntana menyebut pada hari pencoblosan nanti ada rencana kelompok tertentu datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan mengintimidasi pemilih untuk tak datang ke TPS.

Hal ini menurutnya harus dicegah karena rakyat berhak untuk menyalurkan hak suaranya.

“Ada satu kegiatan yang dilakukan pendukung salah satu paslon, untuk melaksanakan kegiatan Rabu Putih. Mereka akan berkumpul di tempat-tempat ibadah, masjid, salat subuh, sudah itu mereka akan mengintervensi, datang ke TPS, keliling. Terkesan seperti upaya intimidasi calon pemilih untuk tidak datang ke TPS untuk melaksanakan haknya,” kata Suntana saat berpidato dalam Rakornas Pemantapan Penyelenggaraan Pemilu di Jakarta, Rabu (27/3).

Walaupun demikian, Suntana tidak menyebutkan paslon mana yang dimaksud. Suntana mengajak seluruh jajaran yang hadir, mulai dari Kemendagri, kepolisian, TNI hingga pemerintah daerah untuk mencegah kegiatan ini mengintimidasi pemilih.

Dia menegaskan tidak boleh ada satu pun pihak yang mengintimidasi hak pilih warga negara.

“Jadi tolong diwaspadai kegiatan-kegiatan seperti ini, mengatasnamakan dalil-dalil agama. Tolong ini dijaga jangan sampai terjadi, supaya ini berjalan bagus,” ujar Suntana.

Sebelumnya, para relawan dari dua pasangan calon berencana melakukan gerakan memutihkan TPS. Paslon 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno lewat jurkam Alkhaththath, meminta pemilih 02 untuk datang dan kawal TPS menggunakan pakaian serba putih.

“Kalau TPS sudah putih, masjid ulama sudah putih, maka jin setan tidak berani melakukan kecurangan,” kata Al Khaththath dalam orasinya pada awal Maret.

Lalu hal serupa diserukan Ketua GP ansor Yaqut Cholil Qoumas. Ia meminta Banser mengawal TPS dan memilih pemimpin berbaju putih. Ia mencanangkan gerakan Rabu Putih.

“…untuk memutihkan TPS-TPS yang ada, untuk kita pilih calon presiden dan wakil presiden yang berbaju putih. Berani?” ujar Yaqut dalam orasi yang direkam dan beredar di media sosial Twitter.

“Karena di situ kiai-kiai kita berkumpul, karena di situ kita berkumpul untuk mengadang gerakan-gerakan, kelompok-kelompok, yang menginginkan negara lain selain Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucap Yaqut.

Sementara Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Suhendra Ratu Prawiranegara, menyebut pendataan pemetaan arah dukungan pada Pilpres 2019 oleh aparat kepolisian bisa bertentangan dengan asas demokrasi dan netralitas aparat Polri.

Bahkan Suhendra mengaku khawatir hal ini bisa berimbas pada intimidasi dan penyalahgunaan wewenang dari aparat kepolisian.

“Menurut hemat kami dapat bertentangan dengan asas demokrasi. Bahkan dikhawatirkan akan adanya intimidasi dan penyalahgunaan wewenang pihak aparat kepolisian nantinya,” kata Suhendra saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (27/3).

Suhendra sendiri mengaku pihak BPN pun baru mengetahui informasi mengenai aparat kepolisian yang melakukan pemetaan arah dukungan di masyarakat ini beberapa waktu lalu.

Saat mengetahui itu, dia langsung mempertanyakan motif dan tujuan dari diambilnya langkah ini oleh aparat yang semestinya melakukan pengamanan alih-alih melakukan tugas atau kegiatan intelijen.

“Tentu kami mempertanyakan maksud, motif dan tujuan pendataan ini,” kata Suhendra.

Pihaknya pun kata dia tak akan mempermasalahkan jika memang aparat kepolisian melakukan hal ini demi menjunjung keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun sekali lagi tugas itu memang mestinya dilakukan oleh pihak intelijen dan dilakukan secara tertutup.

“Jika menyangkut untuk pemetaan potensi kamtibmas, ya sah-sah saja dilakukan oleh Polri. Namun jika mengacu pada maksud tersebut, ini kan tugas intelijen ya, apa harus terbuka mekanismenya? Justru kan menjadi aneh jika mekanisme pemetaan intelijen tapi dilakukan dengan cara terbuka dan terekspose ke publik,” kata dia.

“Seyogyanya pihak kepolisian tetap berpegang pada asas kewajiban Tri Brata dan UU Kepolisian, dan menjaga profesionalisme dalam menjalankan tugas dan kewenangnnya,” ujarnya. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...