Metrobatam, Jakarta – Ketua Umum DPP PPP hasil muktamar Jakarta Humphrey Djemat menginginkan islah atau perdamaian dengan PPP hasil muktamar Surabaya yang sempat dipimpin Romahurmuziy. Romi, sapaannya, saat ini telah mengundurkan diri sebagai Ketum PPP pasca jadi tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan oleh KPK.

“Usaha untuk islah itu sebenarnya sudah kami upayakan dari awal tapi selalu ditampik Romahurmuziy. Jadi kalau sekarang sana bersedia ya kami welcome saja, tapi jangan sampai islah ini main-main, harus bermartabat,” ujar Humphrey kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/3).

Humphrey menegaskan bahwa dirinya tak berwenang mengurusi proses penggantian Romi sebagai Ketum PPP hasil muktamar Surabaya. Untuk sementara jabatan ketum diisi oleh Ketua Dewan Pertimbangan PPP Suharso Monoarfa. Nantinya ketum resmi pengganti Romi akan dipilih melalui mekanisme musyawarah kerja nasional.

“Proses itu di luar (kewenangan) PPP muktamar Jakarta. Saya enggak bisa masuk ke situ,” katanya.

Humphrey menegaskan saat ini pihaknya akan fokus pada proses pencalegan jelang Pileg 2019 pada April mendatang. Ia mengingatkan pada para kader agar tak terpengaruh dengan kasus Romi hingga menggerus elektabilitas partai berlambang ka’bah itu.

“Saya akan turun langsung ke bawah untuk beri dorongan jangan sampai tidak lolos (pileg). Itu kiamat bagi PPP kalau sampai tidak lolos,” ucapnya.

Romi sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka usai terjerat operasi tangkap tangan di Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (15/3). Ia diduga melakukan jual beli jabatan di Kemenag dengan menerima suap dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur, Haris Hasanuddin, dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi.

Romi sendiri telah mengajukan surat pengunduran diri sebelum dipecat PPP pasca penangkapan tersebut. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...