Metrobatam, Jakarta – Surat dakwaan untuk Habib Bahar bin Smith mengungkap peristiwa seorang santri bertato membotaki kepala korban penganiayaan kemudian menjadikannya asbak. Sosok santri bertato itu masih misterius. Pengacara Habib Bahar, Ichwan Tuankotta, pun menantikan jaksa membuktikan isi dakwaan dan membuka siapa santri itu.

“Mengenai itu sudah masuk pokok perkara. Apa betul ada kejadian santri bertato membotaki kepala dan menjadikannya sebagai asbak? Kami dalam posisi menunggu jaksa untuk membuktikannya,” ujar Ichwan kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

Ichwan mengatakan Habib Bahar juga tidak mengetahui siapa sebetulnya santri bertato yang masuk surat dakwaan itu. Ketika masih dalam penyidikan, lanjut Ichwan, Habib Bahar menyatakan tidak mengetahui kejadian dan siapa santri tersebut.

“Habib Bahar tidak mengetahui. Itu yang disampaikan di saat penyidikan,” tutur Ichwan.

Ichwan mengatakan sekarang ‘bola’ ada di jaksa. Pihak penuntut umum adalah pihak yang memiliki beban pembuktian dari surat dakwaan.

“Tapi perlu diingat juga mengenai asbabun nuzul-nya. Mengenai asal muasalnya. Ini tidak akan terjadi kalau tidak ada aksi penipuan yang dilakukan oleh orang yang mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar,” tutur Ichwan.

Dalam persidangan kemarin, jaksa mengungkap awal mula kejadian ini adalah ketika Habib Bahar meminta santri dan orang-orang lainnya menjemput dua korban, Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Umam Al Mudzaqi. Habib Bahar meminta Cahya dan Khoerul dijemput karena keduanya telah melakukan penipuan dengan cara mengaku sebagai Habib Bahar saat berada di Bali.

Kemudian, pada 1 Desember 2018, dua korban tersebut dijemput orang-orang suruhan Habib Bahar. Keduanya dijemput dari rumahnya di kawasan Desa Tapos, Tenjolaya, Bogor, dan dibawa ke Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Bogor.

Setelah dibawa ke Ponpes Tajul Alawiyyin, Cahya dan Kherul diinterogasi dan dianiaya. Dalam surat dakwaan, jaksa menyatakan penganiayaan dilakukan Habib Bahar, Agil Yahya, Hamdi, dan 15 orang lainnya.

Ada sejumlah segmen penganiayaan yang diungkap jaksa dalam surat dakwaan ini. Salah satunya ketika Cahya dan Khoerul dicukur sampai botak.

“Bahwa kemudian pada sekitar pukul 18.00 WIB saksi korban Cahya Abdul Jabar dan saksi korban Muhammad Khoerul Umam Al Mudzaqi dibawa ke balai. Dan atas perintah terdakwa, kedua saksi korban dipangkas rambutnya oleh salah seorang santri hingga botak dan kepala saksi korban Muhamamd Khoerul Umam Al Mudzaqi dijadikan tempat atau asbak untuk mematikan rokok oleh salah seorang santri yang bertato,” kata jaksa dalam persidangan.

Jaksa Siapkan 11 Saksi

Sementara Jaksa penuntut umum akan menghadirkan 11 saksi atas kasus penganiayaan dua remaja yang dilakukan terdakwa Habib Bahar bin Smith. Saksi akan dihadirkan apabila majelis hakim memutuskan perkara tersebut berlanjut.

“Kita rencananya ada 11 saksi yang akan diperiksa di persidangan,” ucap Kasipenkum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat Abdul Muis Ali kepada detikcom, Jumat (1/3/2019).

Namun, menurut Abdul, dihadirkannya para saksi ini menanti putusan sela majelis hakim. Sebab, pihak Bahar melalui pengacaranya mengajukan eksepsi atas dakwaan dari jaksa Kejari Cibinong.

Eksepsi akan dilakukan pada persidangan selanjutnya pekan depan, Rabu 6 Maret 2019. Pihak Bahar akan menyampaikan poin-poin eksepsi atas dakwaan yang diberikan jaksa. Nantinya, eksepsi itu akan diputuskan hakim melalui putusan sela. Apabila hakim memutuskan perkara tersebut berlanjut, maka jaksa bisa menghadirkan para saksi itu.

“Tapi memang belum ada agenda ke saksi,” kata Abdul.

Dalam sidang dakwaan kemarin, Bahar dijerat pasal berlapis yakni Pasal 333 ayat 1 dan/atau Pasal 170 ayat 2 dan/atau Pasal 351 ayat 1 juncto Pasal 55 KUHP. Jaksa juga mendakwa Habib Bahar dengan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Bahar didakwa melakukan penganiayaan terhadap dua remaja Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi. Jaksa juga telah menguraikan detail aksi penganiayaan yang dilakukan Bahar.

Atas dakwaan tersebut, Bahar akan mengajukan nota keberatan atau eksepsi. Seorang pengacara Bahar, Ichwan Tuankotta, mengaku baru mendapatkan dakwaan tersebut pada malam sebelum pembacaan dakwaan. Dia menilai surat dakwaan itu kabur.

“Pasalnya tumpang-tindih, lalu Undang-Undang Perlindungan Anak itu kabur menurut saya. Harusnya diambil alternatif Pasal 170 atau Undang-Undang Perlindungan Anak. Dan ini perlu diketahui dalam BAP yang kita baca, anak ini sudah nikah, jadi tidak bisa dikatakan anak. Itu pengakuan orang tuanya bahwa anak ini sudah nikah, yang Umam itu,” kata Ichwan. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Kominfo Rilis 23 Hoaks, Termasuk Neno Sebut Prabowo Rasul

Metrobatam, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) lewat Subdit Pengendalian Konten Internet merilis temuan hoaks seputar Pemilu 2019 per Sabtu, 20 April 2019....

Kisah Petugas KPPS Lebak Meninggal Saat Sujud Salat

Metrobatam, Lebak - Petugas KPPS di Lebak, Banten, Jumri meninggal karena kelelahan selama proses hitung suara. Sempat izin untuk salat subuh saat penghitungan C1...

PDIP Curigai Rekomendasi Bawaslu Soal Hitung Ulang di Surabaya

Metrobatam, Surabaya - Bawaslu Surabaya merekomendasikan penghitungan suara ulang di seluruh TPS Surabaya. Menanggapi hal itu, PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya menilai sikap Bawaslu...

KASN Tolak Gabung jika TPF Kecurangan Pilpres 2019 Dibentuk

Metrobatam, Jakarta - Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) menolak bergabung jika kedua pasangan calon presiden, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sepakat membentuk...

Selama Pemilu 54 Petugas KPPS dan 15 Polisi Meninggal

Metrobatam, Jakarta - KPU menyebut total ada 54 petugas KPPS atau Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara yang meninggal dunia pada saat penyelenggaraan Pemilu 2019. Jumlah...

Caleg PDIP Ditangkap di Kasus Pembakaran 15 Kotak Suara di Jambi

Metrobatam, Sungai Penuh - Polisi menangkap 3 pelaku kasus pembakaran 15 kotak surat suara DPRD di Sungai Penuh, Jambi. 3 orang yang ditangkap 1...

Menlu Ditemui Dubes Sri Lanka, RI Siap Beri Bantuan Pascateror Bom

Metrobatam, Jakarta - Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia Dharshana M Perera menemui Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno LP Marsudi. Dalam pertemuan itu,...

Bawaslu Kota Tanjungpinang akan Perketat Pengawasan 5 TPS PSU

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Bawaslu Kota Tanjungpinang akan perketat proses pengawasan terhadap 5 TPS yang akan PSU (Pemungutan Suara Ulang). Ketua Bawaslu Kota Tanjungpinang Muhamad Zaini...

Istri Almarhum Sys NS Menikah Lagi

Metrobatam, Jakarta - Penyiar senior Sys NS telah berpulang 2018 lalu. Kini, sang istri diketahui telah memutuskan untuk menikah lagi. Istri almarhum Sys NS, Shanty,...

Menkes: Boleh Bangga Punya MRT, Tapi Jangan Jadi Sarang TBC

Metrobatam, Jakarta - Penyakit menular masih menjadi ancaman di Indonesia. Tuberkulosis (TBC atau TB) merupakan salah satu dari banyak penyakit yang masih menjadi beban...

Danlantamal IV Pimpin Apel Khusus

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) IV Laksamana Pertama TNI Arsyad Abdullah, S.E., M.A.P., memimpin pelaksanaan Apel Khusus di Lapangan...

PLN Tanjungpinang Ajak Ibu-ibu Masak Tanpa Api

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2019, PLN Tanjungpinang mengadakan lomba memasak menggunakan kompor induksi. Manajer PLN UP3 Tanjungpinang, Fauzan juga mengajak...