Banjir Jakarta: 2 Orang Meninggal dan 2.370 Jiwa Mengungsi

Metrobatam, Jakarta – Intensitas tinggi dari hujan yang turun di wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan sekitarnya pada 25 April 2019 dan 26 April 2019 yang membuat Sungai Ciliwung, Sungai Krukut dan Sungai Angke meluap, dan menyebabkan banjir di sejumlah titik di Jabodetabek,

Berdasarkan laporan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, banjir pada 26 April 2019 menyebabkan dua korban jiwa yaitu satu korban jiwa meninggal akibat kecelakaan terseret arus kali Ciliwung di Kelurahan Kebon Baru Jakarta Selatan dan satu korban jiwa meninggal akibat serangan jantung di Kelurahan Bidara Cina Jakarta Timur.

Read More

Laporan BPBD juga menyebutkan, warga yang masih mengungsi hingga saat ini terdiri dari 416 KK dan 2.370 Jiwa. Lokasi pengungsi berada di 15 titik lokasi di Jakarta Timur. Jumlah ini bertambah dari yang sebelumnya tercatat 285 KK dan 2.258 jiwa.

Pada 27 April 2019 pada pukul 06.00 WIB terdapat beberapa titik banjir yang sudah surut di antaranya di Kelurahan Balekambang RW 05 dan Kelurahan Cililitan RW 07. Pasca banjir, Satgas SDA Kecamatan melakukan pembersihan lumpur di titik lokasi yang sudah suru

Sementara Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menyebut ada 3 solusi yang harus diutamakan untuk mengatasi banjir di Jakarta. Tiga solusi tersebut yakni normalisasi, waduk atau bendungan, dan sodetan dari Bidara Cina ke Banjir Kanal Timur (BKT)

“(Solusinya) Satu normalisasi, terus bendungan dua buah di Bogor, dan sodetan dari Bidara Cina ke Banjir Kanal Timur. 3 itu terutama,” ujar Kepala BBWSCC Bambang Hidayah saat dihubungi, Jumat (26/4/2019).

Bambang mengatakan, untuk bendungan saat ini sedang dalam pelaksanaan. Progresnya baru 15%. Kemudian untuk sodetan di Bidara Cina, menurutnya masih belum maksimal dari target 1.270 meter, namun yang dikerjakan baru 600 meter.

“Sekarang kan rencana di Bidara Cina, ini baru proses pengukuran sama pemberkasan tata bidang. Jadi diharapkan sama Pak Gubernur, karena Pak Gubernur (Anies Baswedan) juga konsen sekali, target kalau bisa tahun ini bisa tuntas untuk lahan,” katanya.

Bambang menyebutkan, saat ini yang menjadi kendala dalam proyek sodetan Ciliwung yakni pembebasan lahan. Namun jika sudah bisa dibangun, katanya, debit air di Ciliwung bisa dialihkan ke BKT untuk mengurangi titik banjir di DKI.

“Itu kalau sudah dibangun bisa mengalihkan 60 meter per kubik debit banjir Sungai Ciliwung ke BKT. 60 meter kubik per detik,” paparnya.

Adapun solusi yang disorot untuk mengatasi banjir di DKI yakni normalisasi Sungai Ciliwung yang belum rampung. Bambang mengatakan, normalisasi sepanjang 33 kilometer yang dimulai sejak 2013 baru berjalan 16 kilometer. Padahal, normalisasi tersebut bisa membuat kapasitas sungai menampung lebih banyak debit air.

“Normalisasi itu kan termasuk pengerukan. Cuma pengerukan itu sebetulnya kapasitas sungainya harus jelas dulu, jangan sampai kesempitan atau kelebaran, jadi lebar kapasitas sungai harus sesuai desain, makanya biasa dilakukan pengerukan itu sekaligus normalisasi dengan tanggul banjirnya,” terang Bambang.

Dia berharap, 3 proyek untuk penanganan banjir bisa segera selesai. Apalagi, Bambang baru mendapat data sudah ada 14 hektare tanah yang pembebasannya sudah selesai di Sungai Ciliwung.

“Kemarin juga saya dapat laporan dapat data ada 14 hektar lahan yang sudah dibebaskan di Sungai Ciliwung, sekarang masih proses cek di lapangan. Jadi mudah-mudahan bendungan cepat selesai, normalisasi selesai, sodetan tunnel selesai. Insyaallah, artinya bisa dikurangi dampak banjir ini,” paparnya.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengelak mandeknya proyek normalisasi Sungai Ciliwung bukan penyebab banjir di Jakarta. Menurutnya, kalau penyebab banjir adalah mandeknya normalisasi Ciliwung, maka banjir tak terjadi juga di wilayah lain.

“Nggak, kalau itu kendalanya, banjir hanya di tempat itu. Kalau kendalanya itu, banjirnya hanya di tempat itu,” kata Anies di Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (27/4/2019).

Anies mengatakan banjir juga terjadi di Bekasi dan Tangerang Selatan. Penyebab banjir, kata Anies, sama dengan yang ada di Jakarta.

“Bagaimana anda menjelaskan dengan bekasi. Jadi Bekasi, Tangerang Selatan pada kena. Nggak ada urusan dengan sodetan,” jelas Anies.

Dia menyebut ketinggian genangan air di beberapa wilayah sudah berangsur turun. Anies menjamin jajarannya masih siap siaga terkait potensi banjir.

“Semua petugas kita stand by dan setiap ada pergerakan air laut langsung dibarengi perubahan pintu air. Sehingga aliran air dari hulu bisa segera tuntas,” tuturnya. (mb/cnbc indonesia/detik)

Loading...

Related posts