Metrobatam, Yogyakarta – Banyaknya lansia yang menjadi pelaku gantung diri di Gunungkidul disinyalir karena pengaruh kesepian yang berujung pada depresi. Karena itu, Fopperham menggelar ‘Gebyar Lansia’ dengan harapan para lansia kembali semangat menjalani hidup.

Direktur Forum Pendidikan dan Perjuangan Hak Asasi Manusia (Fopperham), M. Noor Romadlon mengatakan bahwa Kabupaten Gunungkidul memiliki 2 permasalahan krusial terkait kondisi lansia. Permasalahan pertama adalah banyaknya kasus gantung diri di Gunungkidul, di mana usia pelaku gantung diri didominasi warga berumur 60-80 tahun, atau disebut lanjut usia (lansia).

“Umumnya lansia yang jadi pelaku gantung diri di Gunungkidul adalah lansia yang lama hidup dalam kesendirian, dan itu membuat mereka merasa tidak berguna lalu frustasi. Hal itu terjadi karena menderita penyakit, masalah ekonomi, masalah keluarga hingga memiliki masalah kejiwaan,” katanya saat jumpa pers di Desa Jeruksari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Rabu (24/4/2019).

Selain banyaknya lansia yang gantung diri, masalah kedua adalah banyaknya lansia penyandang dimensia atau pikun di Gunungkidul. Bahkan, merujuk data yang diungkapkan Noor, tingkat penyandang pikun di Gunungkidul mencapai 29,4 persen. Angka tersebut terbilang paling tinggi di DIY, di mana Kabupaten/Kota lain hanya 20,1 persen.

“Nah, salah satu cara untuk menyelesaikan kasus bunuh diri dan dimensia adalah dengan mengajak para lansia untuk berkegiatan dan melakukan sesuatu hal. Karena banyaknya kegiatan yang dilakukan bisa mencegah mereka dari kondisi depresi dan kesepian,” katanya.

“Dan salah satunya ya dengan mengadakan gebyar lansia ini agar para lansia kembali punya greget untuk beraktivitas atau lebih semangat dalam menjalani hidup,” imbuh Noor.

Lebih lanjut, Gebyar Lansia sendiri diinisiasi Fopperham, Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Raharja dan Pemerintah Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar. Menurut Noor, Desa Kedungkeris dipilih sebagai lokasi kegiatan karena ada 738 lansia yang hidup di Desa tersebut.

“Selain itu jumlah lansia yang hidup di (Desa) Kedungkeris tergolong tinggi dibanding Desa lain di Kabupaten Gunungkidul. Apalagi 30 persen lansia di Kedungkeris hidup sendirian dan kebanyakan perempuan,” ujarnya.

“Tapi meski ada 738 lansia, yang ikut gebyar lansia besok hanya sekitar 100 lansia. Hal itu karena harus kami jemput dan akses ke rumah para lansia itu cukup sulit,” sambung Noor.

Noor menambahkan, bahwa sebagai wujud nyata mencegah para lansia hidup sendirian dan berujung pada gantung diri. Fopperham telah menerjunkan 57 relawan yang melakukan pendampingan di Desa Kedungkeris.

“Para relawan itu punya komitmen bersama dalam 1 slogan yaitu ‘selangkah meraih berkah ngurusi simbah’. Dan komitmen itu mereka turunkan dalam agenda pertemuan rutin para lansia setiap 35 hari sekali dan melakukan home visit kepada lansia yang sudah tidak bisa beraktivitas,” pungkasnya. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE