Metrobatam, Jakarta – Banjir kembali melanda sejumlah wilayah DKI Jakarta, terutama akibat kiriman air dari Bogor yang dilanda hujan beberapa hari terakhir. Kondisi ini mengundang perhatian netizen.

Sejak semalam, tagar #AniesDimana masuk dalam terpoluler. Hingga pagi ini, jumlah cuitan yang menggunakan tagar tersebut sudah mencapai 25 ribu.

Berbagai reaksi netizen diungkapkan dalam tagar tersebut. Ada yang mempertanyakan program Anies, bahkan menghubungkannya dengan film superhero ‘Avengers’.

Ada juga yang membandingkan dengan mantan Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Tagar #ahok semalam juga turut meramaikan jagat Twitter, meski pagi ini sudah tak lagi menjadi topik terpopuler.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya menyebut air dan sampah kiriman menjadi penyebab utama banjir yang merendam sebagian wilayah di Ibu Kota sejak Jumat (26/4). Anies juga menyebut tak ada hujan yang deras di Jakarta.

Menurut Anies, hujan deras hanya terjadi di daerah hulu yang mengalir hingga ke Jakarta.

Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan ada 17 RW yang sempat tergenang air. Beberapa di antaranya ialah Kelurahan Pejaten Timur, Srengseng Sawah dan Lenteng Agung.

Kemudian Kelurahan Balekambang, Kelurahan Bidara Cina, Kelurahan Cawang dan Kelurahan Kampung Melayu. Hingga kini, banjir di Jakarta sudah menelan dua korban jiwa.

Warga Harap Normalisasi Ciliwung Dilanjutkan

Ketua RT 09 RW 05, Kelurahan Cawang, Jakarta Timur (Jaktim), Hamza, bercerita soal banjir yang kerap terjadi di wilayahnya. Dia berharap normalisasi Sungai Ciliwung dilanjutkan.

Hamza awalnya bercerita soal sungai di sekitar wilayahnya belum diurus pemerintah. Menurutnya, normalisasi baru sampai di wilayah tetangga.

“Pinggiran kali itu belum diurusin. Belum ada gerakan dari pemerintah kalau buat kali. Baru sampai kalau nggak salah di Cawang RW 06, baru sampai situ, belum sampai sini,” katanya saat ditemui di Cawang, Sabtu (27/4/2019).

Dia menyebut perihal kondisi banjir di masa pemerintahan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan masa pemerintah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sama saja. Zaman Ahok, kata Hamza, banjir dan di zaman Anies, banjir juga terjadi.

“Sama, nggak bisa beda-bedain, sama aja. Zaman Ahok waktu itu banjir. Saya kan RT dua periode. Jadi zaman Ahok banjir, zaman Anies banjir, ya sama nggak ada bedanya,” tuturnya.

Banjir memang sempat terjadi pada Jumat (26/4) kemarin di lokasi ini. Hamza pun berharap normalisasi Ciliwung bisa diteruskan karena warga sudah sepakat, tapi dia mengatakan belum ada kejelasan kapan normalisasi berlanjut.

“Kemarin saya tanyakan ke wali kota kemarin datang, itu dia bilang anggaran pusat. Pusat yang punya,” ujar Hamza.

“Iya (warga sepakat), dilanjutkan lagi seperti zaman Ahok. Ahok kemarin seperti itu pengen dibeton. (Wali kota) bilang tapi dana dari pusat. Ya nungguinlah,” tambahnya.

Dia juga mengatakan pihak Pemprov bellum mengecek pinggiran sungai yang berada di wilayahnya. Pembayaran untuk pembebasan lahan juga disebutnya belum ada.

“Belum. Kalau udah dicek, RT tahu dong ‘oh ini ada pembayaran tanah kali’, kalau ada pembayaran berarti udah ada gerakan dari pemerintah. Ini belum,” tuturnya.

Sementara itu, warga lainnya, Yanto mengatakan banjir masuk ke wilayah itu lewat got. Dia pun menunjukkan sisa lumpur yang berada di selokan sekitar rumahnya.

“Ini banjirnya masuk lewat got. Liat tuh lumpurnya. Kalinya belum dibeton,” ucap Yanto.

PKS Minta Cari Solusi

Ketua Fraksi PKS di DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi menyebut Pemprov DKI sudah berupaya melakukan penanganan pencegahan banjir. Namun upaya ini disebut perlu dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan Bogor.

“Memang harus ada koordinasi pusat dan daerah untuk mengatasi banjir,” kata Suhaimi saat dihubungi, Sabtu (27/4/2019).

Suhaimi menyebut Pemprov di bawah pimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan sudah bekerja. Namun dia memberi catatan soal proyek sodetan di Ciliwung dan BKT yang terkendala pembebasan lahan.

“Jakarta sudah berusaha semaksimal mungkin untuk got dibesarkan, pengerukan. Menurut saya dalam konteks ini jangan cari kambing hitam, salah- menyalahkan tapi (cari) solusi, yang berperan besar pemerintah pusat,” ujarnya.

Suhaimi menyarankan agar pemerintah pusat turun tangan dalam koordinasi antara DKI dengan Bogor untuk membuat perencanaan induk.

“Banjir itu bukan salahnya air, bukan salahnya hujan. Bukan salahnya DKI, bukan salah Bogor, tapi itu terjadi lama. Pemerintah pusat mengkoordinasikan itu semua sehingga terwujud sebuah planning induk untuk mengatasi banjir di DKI. Misal di Bogor, disekat di Bogor dibikin embung, itu akan mengurangi laju air ke Jakarta,” katanya. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE