Metrobatam, Jakarta – Anggota Tim Gabungan untuk teror air keras terhadap Novel Baswedan menyatakan terus bekerja untuk mencari pelaku. Mereka menyatakan berusaha mengungkap teror terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu untuk kepentingan bangsa, dan enggan terseret dalam arus persaingan politik kedua kandidat presiden, yakni Joko Widodo atau Prabowo Subianto.

Salah satu anggota tim, Hermawan Sulistyo, memastikan pihaknya juga bekerja bukan untuk Polri atau Novel selaku korban.

“Kami bekerja untuk bangsa ini, bukan untuk polisi, bukan untuk Jokowi, apalagi untuk Prabowo. Bukan untuk Novel juga,” kata Hermawan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/4).

Hermawan mengatakan mereka sudah bekerja menyelidiki kasus penyiraman air keras ke Novel selama tiga bulan ini. Tim Gabungan dibentuk awal Januari 2019.

Hermawan menjawab keraguan sejumlah pihak atas kerja Tim Gabungan, antara lain Koalisi Masyarakat Sipil, termasuk Novel.

“Enak aja. Suruh dia (Koalisi Masyarakat Sipil) jalan-jalan ke pelosok itu nyari saksi yang sudah lenyap ditelan bumi, kami cari-cari, kok (dibilang) enggak kerja, gimana,” kata Hermawan

Peristiwa teror itu terjadi pada 11 April 2017. Hermawan menjelaskan selama tiga bulan ini mereka memeriksa kembali dokumen penyelidikan sebelumnya hingga meminta keterangan belasan saksi.

Bahkan, untuk memeriksa para saksi, tim terbang hingga ke Ambon, Maluku.

Ia mengaku heran bila kerja Tim Gabungan yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian itu diragukan. Hermawan lantas menantang jika ada pihak-pihak yang ingin membuat tim pencari fakta tandingan melakukan penyelidikan sendiri.

“Kenapa enggak mereka penyelidikan sendiri saja. Biar tahu. Kalau merasa sanggup,” ujarnya.

Komposisi anggota tim itu, kata Hermawan, berasal dari anggota Polri, penyidik KPK, hingga para pakar yang bekerja berdampingan secara independen.

Nama-nama yang berada dalam tim itu antara lain mantan Wakil Ketua KPK, Indriyanto Seno Adji, dan Ketua Setara Institute, Hendardi.

Kemudian Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, mantan Ketua Komnas HAM yang kini sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ifdhal Kasim, serta mantan Komisioner Komnas HAM, Nur Kholis.

“Masa kami dipertanyakan integritasnya. Kami enggak punya rasa takut, cuma sama Tuhan saja (takut),” ujar Hermawan.

Kesulitan memang dirasakan Hermawan dan anggota tim lainnya dalam melakukan penyelidikan kasus yang sudah berumur dua tahun itu. Hambatannya antara lain banyak jejak forensik hilang dan mencari fakta untuk menjerat pelaku.

“Prinsip pidana itu, lebih baik melepaskan seribu orang yang bersalah dari pada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Jadi ini kami hati-hati betul,” katanya. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE