Metrobatam, Jakarta – Kabar dari para caleg gagal menjadi perhatian masyarakat. Di antara mereka, ada yang dikabarkan menarik bantuan, ada pula yang menyuruh warga untuk pergi dari suatu lokasi.

Berdasarkan pemberitaan detikcom hingga Minggu (28/4/2019), para caleg gagal ini berasal dari berbagai lokasi.

Di Maluku Utara, caleg DPR RI dari Partai NasDem bernama Ahmad Hattari dikabarkan Antara nyaris diamuk massa usai salat Jumat di Masjid Nurul Bahar, Kelurahan Tomalu, Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Jumat (20/4) kemarin. Bantuan berupa karpet mesjid bahkan dikembalikan oleh warga.

Hattari menyindir pemberian bantuan karpet untuk masjid karena suara yang dia peroleh di Pileg 2019 kali ini minim, yakni hanya 700 suara. Padahal dia merasa sudah memberikan bantuan untuk warga setempat.

Mendengar kata-kata Hattari, jemaah mesjid menjadi marah. Ada yang berusaha memukulnya. Namun jemaah dan aparat kepolisian berhasil mencegah pemukulan terjadi. Hattari pergi dari lokasi menggunakan mobil bernomor polisi DR-57-AH.

Jemaah masjid dan massa kemudian membuka seluruh karpet dan jam dinding bantuan Ahmad Hattari dan langsung mengantarkannya ke kediamannya di Kelurahan Gurabati. Warga Tomalou, yang akan membawa bantuan Ahmad Hattari itu, dihalau warga Gurabati, kelurahan tetangga. Lalu terjadi aksi lempar di antara kedua kelurahan tersebut.

Di Cimahi, Jawa Barat, seorang caleg DPRD Kota Cimahi dari Partai Gerindra berinisial YH menarik kembali bantuan untuk warga, setelah dia mengetahui kekalahannya di Pileg 2019.

Bantuan itu berupa 1 barel aspal yang akan digunakan untuk membangun jalan di Kompleks Puri Cipageran 1 Blok H2, RT 2 RW 28, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Ketua RT setempat, Ade Aso, memang belum menggunakan aspal bantuan YH itu untuk membangun jalan, melainkan menyimpannya terlebih dahulu. Dia sudah berjaga-jaga untuk mengatasi kemungkinan terburuk. Benar saja, aspal itu memang ditarik kembali oleh YH yang kabarnya hanya dapat lima suara, pada Kamis (25/4/2019) bantuan tersebut ditarik kembali.

“Seharusnya kalau benar itu terjadi dan dia memberi bantuan kepada masyarakat tapi kalah ya anggap saja bersedekah. Kasihan masyarakat kalau diminta lagi, kayak orang stres,” ujar Sekertaris DPC Partai Gerindra Kota Cimahi Barkah Setiawan.

Di Sorong, Papua Barat, seorang caleg DPR RI meminta warga setempat mengosongkan lahan miliknya. Diduga, ‘pengusiran’ itu dilatarbelakangi kekalahan si caleg.

‘Pengusiran’ itu terjadi di pesisir Pantai Kimindores, Kota Sorong, Papua, Minggu (28/4). Perintah mengosongkan lahan itu tertulis di sebuah papan yang ditancapkan, bunyinya, “Bagi yang tempati pantai Kimindores segera dikosongkan batas waktu akhir bulan ini.”

Pesisir pantai itu ditempati oleh 20 KK. Lahan yang mereka tempati memang milik si caleg. Menurut Ketua RT Sidik Macap, papan pemberitahuan itu dipasang pada sepekan setelah 17 April 2019. Warga menilai ‘pengusiran’ ini ada kaitannya dengan Pemilu 2019 karena pemilik lahan adalah caleg.

“Sebab yang punya tempat oknum caleg itu,” kata Sidik. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE