Metrobatam, Jakarta – Istana menyatakan kuota haji untuk Indonesia ditambah 10.000 jemaah. Hal ini diketahui setelah Presiden Joko Widodo bertemu dengan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.

“Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan apresiasi dari seluruh masyarakat indonesia atas diberikannya kuota tambahan kembali sebesar 10.000 bagi Jamaah Haji Indonesia,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, lewat keterangan yang diterima, Senin (15/4/2019).

Diketahui Jokowi bertemu Raja Salman di Istana Pribadi Raja (Al-Qasr Al-Khas) pada Minggu (14/4) sore. Dalam pertemuan bilateral itu Jokowi dan Raja Salman juga sepakat meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi.

“Presiden Jokowi dan Raja Salman sepakat ke depan, kerja sama ekonomi akan terus ditingkatkan terutama di bidang energi dan pariwisata,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi seusai pertemuan.

Retno yang mendampingi Jokowi dalam pertemuan bilateral itu menyampaikan, Raja Salman juga mengapresiasi Indonesia atas kepemimpinannya di dunia islam. “Dari pembicaraan tadi tampak sekali kedekatan antara kedua kepala negara,” ujar Retno.

Dalam pertemuan ini, Jokowi juga didampingi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, dan Staf Khusus Presiden Abdul Ghofarrozin.

Dana Haji Diinvestasikan di Arab Saudi

Sementara Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menyebut tak ada sedikitpun dana haji yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Dana haji yang terkumpul selama ini digunakan untuk berinvestasi portofolio hingga investasi langsung dan rencananya diinvestasikan di Arab Saudi.

“Infrastruktur itu nggak ada sama sekali, sekarang instrumennya masih portofolio saja dan kami mau investasi langsung di Arab Saudi itu sekitar 10%,” kata Kepala BPKH Anggito Abimanyu di PPM Manajemen, Jakarta, Senin (15/4/2019).

Dia menjelaskan saat ini komposisi investasi dana haji 50% di bank dan 50% surat berharga. Namun tahun ini komposisi akan digeser menjadi 50% di bank syariah, 30% di surat berharga syariah dan 20% untuk investasi langsung serta investasi lainnya.

Menurut Anggito pengelolaan dana haji ini sudah sesuai dengan substansi dan tidak ada yang dilanggar oleh BPKH. Untuk investasi langsung dan investasi lainnya saat ini BPKH sedang menjajaki kepemilikan perusahaan katering di Arab Saudi. Saat ini dia menyebutkan dapur katering tersebut sudah terbangun dan akan melayani emaah dari Asia Tenggara.

BPKH juga berencana untuk membuat usaha patungan atau joint venture bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) untuk mengakuisisi perusahaan pengadaan valuta asing (valas) atau money changer di Arab Saudi.

Kemudian joint venture dengan PT Pertamina (Persero) untuk kerja sama pengadaan avtur agar ketersediaan bahan bakar untuk penerbangan haji dan umrah bisa terjamin.

Tahun ini BPKH menargetkan jumlah pendaftar haji mencapai 700.000 orang dan target dana kelolaan Rp 121 triliun.

“Kami berani menaikkan karena kita sudah punya 31 bank penerima setoran yang memiliki outlet di mana-mana. Jadi kami agresif untuk menyelamatkan umat yang wajib haji tapi belum membayar,” ujarnya. (mb/detik)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Loading...