2 Elite Balik Badan, Demokrat Pertimbangkan Keluar dari Koalisi Prabowo

Metrobatam, Jakarta – Dua elite Partai Demokrat (PD) balik badan dari barisan pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Partai pimpinan Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mempertimbangkan untuk keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

“Situasi ini jelas menjadi bahan pertimbangan kami apakah kami masih pantas terus berada di koalisi Prabowo ini atau segera mundur saja dari koalisi ini,” ujar Ketua DPP PD Jansen Sitindaon kepada wartawan, Senin (20/5).

Read More

Situasi yang dimaksud adalah soal tudingan adanya buzzer dari Prabowo-Sandi yang mem-bully Bu Ani. Sebelum Jansen, Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP PD Ferdinand Hutahaean sudah menyatakan terlebih dahulu keluar dari pendukung Prabowo-Sandi.

Meski begitu, Jansen menyebut keputusan Demokrat bertahan atau keluar dari koalisi Prabowo-Sandi akan diambil oleh para petinggi partai. Hanya saja yang jelas, Jansen menegaskan mundur meski di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, dirinya bertugas sebagai salah satu juru bicara.

“Tapi terkait ini biarlah nanti institusi Partai yang secara resmi memutuskan ya. Ada Ketua Umum di situ, Sekjen dan Majelis Tinggi Partai,” ucap Jansen.

“Kalau ditanya sikap pribadi saya sebagai kader, maka saya sungguh sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. Dan saya pribadi akan pamit baik baik mundur dari barisan pak Prabowo ini. Karena begini begini saya ini juga ini kan ikut berjuang habis-habisan untuk memenangkan Pak Prabowo,” imbuhnya.

Jansen mengaku masih bisa terima apabila ia diserang secara pribadi sebagai kader. Namun ia menyatakan tidak terima apabila serangan ditujukan kepada Bu Ani.

“Mungkin kalau hanya menyerang kami kader kader demokrat masih bisa lah kami menerimanya. Silahkan serang sekeras mungkin. Tetapi ini sudah menyerang ibu ani. Sudah tidak pantas dan beradab,” tegas Jansen.

“Melecehkan Bu Ani ini menurut saya tidak menghargai perjuangan saya yang juga jelas keringat dan rekam jejaknya selama 7 bulan kemarin untuk memenangkan pak Prabowo. Ibu Ani ini posisinya sudah seperti Ibu Kandung kami seluruh kader Demokrat. Dengan kejadian beliau dituduh tuduh sakit rekayasa ini sungguh telah menyakiti hati saya dan hati seluruh kader Demokrat,” sambung dia.

Sebelumnya diberitakan, Ferdinand Hutahaean yang merupakan pendukung ‘die hard’ Prabowo-Sandiaga geram karena ada netizen yang mem-bully Bu Ani. Ia menuding netizen tersebut adalah buzzer pasangan nomor urut 02 itu, yang disebutnya ‘buzzer setan gundul’. Ia pun menyatakan melepaskan dukungan.

Langkah Ferdinand diikuti oleh Jansen, yang merasa berang lantaran adanya bully-an kepada Bu Ani, istri SBY. Sebelum 2 elite PD ini balik badan, , Demokrat memang jadi perhatian usai hari pencoblosan. Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY sempat bertemu dengan Presiden Jokowi. Langkah politik AHY sempat jadi sorotan. Demokrat pun kerap berbeda sikap dengan Prabowo-Sandi usai pencoblosan 17 April lalu.

Sekjen PD Hinca Pandjaitan menegaskan Demokrat masih berada di koalisi Prabowo-Sandiaga, hingga 22 Mei mendatang yang merupakan pengumuman hasil Pemilu 2019. Alasannya, pada tanggal itu berakhir sudah pertandingan Pilpres.

“Demokrat tetap 02, sampai nanti tanggal 22 Mei, mengapa sampai tanggal 22 Mei. Karena koalisi partai politik itu capres ini memang dimaksudkan untuk capres, nah peluit terakhir ditiupkan oleh wasit dalam hal ini KPU, itu nanti tanggal 22, nah kalau sudah ditiup peluit pertandingan berakhir ya berakhir. Gitu,” kata Hinca di Kantor KPU RI, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (20/5).(mb/detik)

Loading...

Related posts