Metrobatam, Jakarta – Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan Bachtiar Nasir tak hadir memenuhi panggilan penyidik di Bareskrim Polri, Rabu (8/5) hari ini.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan Bachtiar sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana dana pencucian uang (TPPU) lewat Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS).

Jadwal pemeriksaan Bachtiar hari ini tertera dalam Surat Panggilan Nomor: S. Pgl/1212/V/RES.2.3/2019/Dit Tipideksus, Bachtiar yakni sekitar pukul 10.00 WIB.

Dedi menyatakan polisi akan membuat pemanggilan pemeriksaan kedua kepada Bachtiar Nasir.

Rencananya, pemanggilan kedua akan dilakukan pada pekan depan. Namun, Dedi masih belum merinci waktu pasti pemanggilan tersebut. “(Pemanggilan kedua) minggu depan,” ujar Dedi saat dikonfirmasi, Rabu (8/5).

Sebelumnya, secara terpisah salah satu pengacara Bachtiar, Nasrullah Nasution, mengonfirmasi kliennya tak bisa memenuhi panggilan penyidik Bareskrim hari ini.

“Dikarenakan ustaz karena sudah memiliki jadwal, kami selaku usaha hukum menyampaikan penundaan terhadap ustaz Bachtiar Nasir,” kata Nasrullah saat dikonfirmasi siang ini.

Sementara itu Dedi menerangkan meski di surat pemanggilan hari ini dijadwalkan pukul 10.00 WIB, sebetulnya penyidik memberi kelonggaran untuk kedatangan Bachtiar hingga pukul 12.00 WIB.

“Ini sudah jam 12, kayaknya enggak ke sini,” ujar Dedi.

Dedi mengungkapkan hingga berita ini ditulis pun belum ada konfirmasi kehadiran dari pihak tim kuasa hukum Bachtiar.

Pantauan CNNIndonesia.com, hingga pukul 12.26 WIB, Bactiar maupun kuasa hukumnya memang belum terlihat hadir di Bareskrim Polri.

Kasus yang menjerat Bachtiar sendiri dimulai di pengujung 2016 silam. Saat itu, akun Facebook bernama Moch Zain mengunggah informasi tentang dugaan kaitan antara Bachtiar dengan kelompok pemberontak pemerintahan Bassar Al-Assad, Jaysh Al-Islam di Aleppo, Suriah.

Moch Zain menyebut yayasan Indonesian Humanitarian Relief (IHR), yang dipimpin Bachtiar, mengirim bantuan logistik kepada kelompok pemberontak tersebut.

Logistik diduga berasal dari dana sumbangan masyarakat sejumlah Rp3 miliar dalam rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS), yang juga dikelola Bachtiar di Indonesia.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan kepada Komisi III DPR mengapa pihaknya mengusut kasus yang diduga menyeret Bachtiar Nasir. Itu terjadi pada pertengahan Februari 2017 ketika Bachtiar sudah beberapa kali diperiksa Bareskrim Mabes Polri.

“Kasusnya Ustaz BN (Bachtiar Natsir) munculnya dari media asing. Ada informasi dari media internasional temuan IHR, yaitu ada kelompok di Suriah yang dianggap menerima dana dari IHR. Disebut nama BN di situ. Jadi, bukan kami yang mulai,” kata Tito.

“Kami tarik ke belakang, ternyata ada aliran dana dari Bachtiar Nasir, asalnya dari Yayasan Keadilan,” kata dia. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE