PDIP: Anies Tak Perlu Bandingkan Banjir, Seharusnya Terima Kasih ke Ahok

Metrobatam, Jakarta – Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menanggapi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang membandingkan kinerjanya dengan mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam mengatasi banjir di Jakarta. Menurutnya, Anies seharusnya berterima kasih pada Ahok dan tidak membandingkannya.

Awalnya, Gembong menjelaskan ada empat tipe banjir di Jakarta, pertama ialah kiriman, tipe kedua karena hujan lokal, tipe ketiga banjir kiriman dan lokal, tipe keempat banjir itu kiriman kemudian banjir lokal dan rob.

Read More

Menurut Gembong, Anies tidak pantas membandingkan banjir 2015 dengan banjir yang kemarin. Sebab, tipe banjir yang terjadi kemarin itu, berbeda dengan banjir tahun 2015 kala Ahok menjabat.

“Kalau dibandingkan, tipe pertama kan kiriman, dibandingkan dengan banjir lokal dan kiriman dan rob kan nggak ketemu juga, jadi harus membandingkan apple to apple dalam konteks ini. 2015 itu adalah banjir yang emang terjadi tipe 4, banjir lokal iya, banjir kiriman iya, robnya juga,” kata Gembong kepada wartawan, Kamis (1/5/2019).

Gembong meminta Anies seharusnya tidak perlu membandingkan sistem kerjanya dengan sistem kerja Ahok saat menjabat. Dia menyarankan Anies mengucapkan terima kasih kepada Ahok karena memberi saran.

“Kalau mau banding-bandingkan nanti beliau tersinggung juga, kan gitu. Nggak perlulah (bandingin), saya pikir kita harus arif ketika ada orang yang memberi masukan ya terima kasih saja, apa yang bisa kita lakukan untuk perbaikan itu. Saya kira akan jauh lebih baik daripada saling menuding kesalahan orang,” jelasnya.

Dia pun meminta Anies agar segera melanjutkan normalisasi. Selain itu, Gembong juga mengungkapkan penilaiannya untuk Anies dalam penanganan banjir selama dua tahun menjabat ini, dinilainya masih kurang.

“Konsep penanganan banjir selama 2 tahun tidak jelas, kan kita sampai hari ini, kita masih berkutat pada soal normalisasi atau naturalisasi, sehingga actionnya nggak ada. 2 tahun nggak ada action untuk itu. Contoh melanjutkan konsep sodetan dari Ciliwung ke BKT sampai hari ini kan nggak tuntas kan, bahwa nggak ada keseriusan atau pematangan konsep untuk melanjutkan program selanjutnya,” tegasnya.

Padahal, lanjut Gembong, seharusnya konsep pemerintahan dalam menangani banjir ini seharusnya berkesinambungan, bukan yang setiap pergantian kepemimpinan selalu berganti konsep. Dia juga mengingatkan Anies agar tidak mengorbankan rakyat demi janji politiknya.

“Terakhir, jangan sampai karena janji politik mengorbankan kepentingan rakyat lebih banyak,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya memuji penanganan banjir di Jakarta yang dianggap lebih terkendali. Dia menyebut, biasanya, jika Bendung Katulampa siaga I, Jakarta bakal direndam banjir parah.

“Saya melihat sekarang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika siaga satu sudah pasti banjirnya parah, tapi kemarin itu siaga satu 250 cm sempat itu, biasanya Jakarta luar biasa banjirnya, tapi ini rasanya lebih terkendali pada tahun ini,” ucap Bima di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan hari ini.

Sebagai kepala daerah yang bertetangga dengan DKI, Bima mengatakan, saat siaga I, air dari Bendungan Katulampa bakal tiba di Jakarta dalam waktu delapan jam. Bima juga menyebut ada beberapa lokasi di Kota Bogor yang terendam air. (mb/detik)

Loading...

Related posts