Pecah Rekor PDIP dan Berkah Efek Jokowi di Pemilu 2019

Metrobatam, Jakarta – PDI-Perjuangan memecahkan rekor kemenangan pada pemilu legislatif pasca-reformasi dengan menang dua kali berturut-turut. Kepemimpinan Megawati Soekarnoputri dan Jokowi effect dinilai jadi modalnya.

Hasil rekapitulasi suara nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebutkan PDIP sebagai peraih suara tertinggi pada Pileg 2019. ‘Banteng’ disebut mendapat 27.053.961 suara atau 19,33 persen suara sah di Pemilu 2019.

Read More

Kemenangan PDIP kali ini mengulang kemenangannya saat gelaran Pileg 2014 dengan raihan 23.681.471 atau 18.95 persen suara. Perolehan suara PDIP kali ini pun mengalami kenaikan dibanding pemilu 2014.

“Sejak Pemilu 1999, untuk pertama kalinya dua pemilu legislatif terakhir berturut-turut dimenangi oleh satu partai, yaitu PDIP,” kata Pengamat politik dari Universitas Paramadina Arif Sutanto kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan kemenangan PDIP dua kali berturut-turut itu tak lepas dari berbagai faktor modal kekuasaan yang dimilikinya saat ini.

Faktor pertama, Arif menyebut kuatnya kepemimpinan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri masih memegang peran kunci dalam mendongkrak suara PDIP di Pemilu 2019 ini. Arif menilai sosok Megawati menjadi perekat bagi para kader PDIP dan menjaga soliditas parpol.

“Di bawah kepemimpinan Megawati, PDIP mampu menjaga soliditas partai, sementara beberapa partai lain mengalami friksi berkelanjutan yang menggoyahkan keseimbangan organisasi,” kata dia.

Meski begitu, Arif menyatakan ada kekurangannya saat PDIP terus-menerus dipimpin Megawati. Ia khawatir pemusatan kekuasaan itu membuat ‘Banteng’ memiliki ketergantungan dan akan memperlemah independensi organisasi.

“PDIP sendiri harus mewaspadai gejala sentralisasi kekuasaan dan ketergantungan terhadap personalitas Megawati. Ini berpotensi dapat memperlemah otonomi organisasi,” kata dia.

Faktor kedua, Arif menilai PDIP turut mendapatkan keutungan besar dari efek ekor jas atau coat-tail effect atas pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden. Sebab, kata dia, PDIP sendiri merupakan salah satu partai pengusung sekaligus partai tempat Jokowi bernaung.

“Kemampuan Jokowi untuk menjaga relasi dengan elite partai dan dengan massa pemilih memberi kontribusi bagi rendahnya split voters di kalangan pemilih,” kata dia.

Faktor ketiga, lanjut Arif, PDIP masih memiliki basis pemilih yang kuat dan loyal, terutama di Pulau Jawa. Hal ini terbukti dengan kemenangan PDIP di Jawa Tengah dan Jawa Timur di Pileg 2019.

“Ini berkat konsistensi mereka pada periode 2009-2014. Namun, mereka pun patut mengambil pelajaran dari kegagalan sebagian calon yang mereka usung pada Pilkada serentak 2017 dan 2018,” kata dia.

Terpisah, Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari mengakui bahwa efek ekor jas dari pencalonan Jokowi turut berdampak besar bagi kemenangan PDIP di Pemilu 2019.

“Ini ada faktor coat-tail effect Jokowi, Jokowi effect,” kata Eva kepada CNNIndonesia.com.

Lebih dari itu, Eva menyatakan PDIP sengaja menerapkan strategi ‘pertempuran gladiator’ dalam Pileg 2019 ini. Strategi itu diterapkan dengan cara merekrut para caleg yang memiliki elektabilitas dan popularitas kuat di beberapa daerah. Hal itu bertujuan untuk menantang para caleg petahana di daerah tersebut.

“DPP sengaja merekrut para caleg kuat untuk menantang petahana. Ada joke dari Ketum PDIP bahwa persaingannya seperti gladiator, keras dan ketat,” kata dia. (mb/cnn indonesia)

Loading...

Related posts