Nasib Bisnis Televisi di Tengah Serbuan YouTube Cs, Milenial Tak Lagi Suka Sinetron

Metrobatam, Jakarta – Perkembangan internet yang begitu menggila membuat semua hal sulit diprediksi. Seperti hukum rimba, tak bisa berinovasi pasti mati.

Mimpi buruk itu perlahan menjadi nyata bagi industri pertelevisian nasional. Serbuan para konten kreator di channel YouTube membuat para pemainnya kelabakan.

Read More

Setidaknya hal itu mulai terlihat dari salah satu pemainnya yakni NETT TV. Beredar kabar bahwa televisi besutan Wishnutama itu akan mengurangi karyawannya.

Tapi jika dilihat sebenarnya belanja iklan yang menjadi denyut nadi industri televisi masih berlimpah. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

CCO DIREXION Strategy Consulting dan Chairman CEO Business Forum Indonesia Jahja B Soenarjo menilai industri pertelevisian mulai masuk masa senja. Semua karena pergeseran dari gaya hidup masyarakat yang ditopang oleh perkembangan internet.

“Bisa jadi begitu tapi waktu yang akan membuktikan. Pergeseran ini boleh dibilang sudah pasti tapi bisa diantisipasi. Apakah lebih cepat atau lambat ya tidak tahu,” ujarnya kepada detikFinance, Senin (19/8/2019).

Jahja menyebut industri televisi adalah industri konvensional yang mulai menuju digital. Sayangnya tujuan digital itu terlambat dilakukan.

Sudah puluhan tahun industri televisi menguasai semua jenis konten, mulai dari berita, edukasi hingga hiburan. Tapi ketika YouTube semakin booming, konten edukasi direbut dari para pemain televisi.

“Sekarang banyak YouTuber dengan ide gila. Bayangkan ada yang dalam 1 tahun bisa dapat 3 juta subscriber,” tambahnya.

Kini konten yang masih dikuasai industri televisi hanya konten berita dan sebagian hiburan. Kenapa sebagian, karena kaum milenial tak lagi suka nonton sinetron ataupun hiburan kontes dangdut.

Meskipun masyarakat Indonesia ini sangat banyak. Dari 250 juta, tentu masih banyak yang suka menonton sinetron maupun acara dangdut, terlebih bagi mereka yang ada di daerah.

Nah para pemain pertelevisian yang terlalu kreatif dan ingin merebut konten hiburan kaum milenial tentu sangat sulit. Coba lihat, setiap hari ada saja pembuat konten YouTube baru yang muncul. Mereka muncul dengan ide-ide gila.

Jika ingin head to head dengan mereka, tentu harus siap untuk berdarah-darah. Tak seperti televisi, pembuat konten di YouTube tak perlu menyiapkan uang yang banyak.

“Jadi pemain yang tidak bisa baca itu dan sudah investasi besar ya harus diakui mereka berdarah-darah. Semua investor ujung-ujungnya lihay RoI (return of investment). Kalau enggak balik ya lebih baik mereka keluar. Begitu ditinggalkan investor ya otomatis kehabisan nafas,” kata Jahja.

Jika sudah berdarah-darah, yang akan dilakukan sama seperti perusahaan lainnya yakni efisiensi. Dua hal yang umumnya dilakulan dalam efisiensi yakni pengurangan karyawan dan menjual aset.

NET Lakukan Pengurangan Karyawan

Belakangan ini ramai beredar kabar bahwa NET TV berencana melakukan pengurangan karyawan. Pihak perusahaan belum buka suara terkait kabar tersebut. Isu ini muncul sejak tersebar kabar NET TV akan mengurangi karyawan.

Denyut nadi para pemain televisi ada di iklan. Jika lihat secara luas, seharusnya denyut itu masih berdetak. Menurut data Nielsen Indonesia tentang belanja iklan kuartal I-2019 relatif stabil di angka 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Belanja iklan iti masih didominasi oleh media televisi.

Tercatat total belanja iklan di televisi mencapai Rp 30,9 triliun. Angka itu tumbuh 8% dibandingkan dengan kuartal yang sama di 2018. Demikian menurut hasil temuan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel).

Di 3 bulan pertama tahun ini bisa dibilang sangat berkah bagi pemain televisi. Sebab ada pesta demokrasi yang membuat iklan terkait pemilu begitu membeludak.

Di kuartal I-2019 porsi iklan terbesar datang dari kategori Pemerintahan dan Organisasi Politik dengan total belanja iklan mencapai Rp 2 triliun yang meningkat 11%. Kemudian disusul oleh kategori Layanan Online dengan total belanja iklan Rp 1,9 triliun.

Pengiklan terbesar ketiga datang dari kategori produk Perawatan Rambut dengan total belanja iklan mencapai Rp 1,8 triliun. Kategori Rokok Kretek menghabiskan belanja iklan sebesar Rp 1,7 triliun dengan pertumbuhan 29%.

Di urutan kelima adalah kategori produk Makanan Instan yang tumbuh 37% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya dengan total belanja iklan Rp 1,5 triliun.

Sepanjang periode kampanye Pemilu (24 Maret – 13 April 2019), dari keseluruhan total belanja iklan kategori Pemerintahan dan Organisasi Politik menyumbangkan porsi cukup besar yaitu 12% dengan total belanja iklan Rp1,1 triliun. Jumlah ini meningkat cukup signifikan jika dibandingkan pada periode kampanye Pemilu tahun 2018 dengan total belanja iklan Rp 429 miliar.

Dari total belanja iklan Pemerintahan dan Organisasi Politik pada periode kampanye pemilu, kontributor iklan terbesar adalah Para Kandidat Calon Presiden & Wakil Presiden dengan total belanja iklan Rp 206,6 miliar, disusul oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan total belanja iklan Rp93,2Miliar.

Pengiklan ketiga terbesar berikutnya adalah Para Calon Legislatif yang mencapai total belanja iklan sebesar Rp 92 miliar. Sementara di posisi keempat dan kelima masing-masing adalah Partai Persatuan Indonesia Rp60,7 miliar dan Partai Solidaritas Indonesia Rp 51,5 miliar.

Nielsen juga mencatat Debat Pemilihan Presiden (Pilpres) yang digelar Komisi Pemilihan umum (KPU) sebanyak 5 kali meraih lebih banyak penonton dibandingkan dengan debat yang ditayangkan di televisi pada periode Pemilu sebelumnya di 2014.

Hasil pantauan Nielsen TV Audience Measurement (TAM) mengungkapkan bahwa di samping jumlah stasiun televisi yang lebih banyak menayangkan acara Debat Pilpres di tahun 2019, Debat Pilpres tahun ini juga mendapatkan jangkauan sebesar 67,9%, lebih besar dibandingkan periode tahun 2014 62,9%.

Milenial Tak lagi Suka Sinetron

Industri pertelevisian sejatinya masih mendulang cuan dari iklan. Lalu mengapa NET TV dikabarkan akan mengurangi karyawannya?

Menurut data Nielsen Indonesia tentang belanja iklan kuartal I-2019 relatif stabil di angka 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Belanja iklan itu masih didominasi oleh media televisi.

Tercatat total belanja iklan di televisi mencapai Rp 30,9 triliun. Angka itu tumbuh 8% dibandingkan dengan kuartal yang sama di 2018. Demikian menurut hasil temuan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel).

Memang industri televisi saat ini mendapatkan pesaing yang sakti mandraguna, yakni para konten kreator YouTube. Lewat ide-ide gila mereka, pemirsa televisi dengan mudah direbutnya.

Menurut CCO DIREXION Strategy Consulting dan Chairman CEO Business Forum Indonesia Jahja B Soenarjo saat ini konten yang masih dikuasai industri televisi hanya konten berita dan sebagian hiburan. Kenapa sebagian, karena kaum milenial tak lagi suka nonton sinetron ataupun hiburan kontes dangdut.

Meskipun masyarakat Indonesia ini sangat banyak. Dari 250 juta, tentu masih banyak yang suka menonton sinetron maupun acara dangdut, terlebih bagi mereka yang ada di daerah.

“Apakah kontens sinetor dan dangdut itu masih disukai? Kalau yang disuka itu ya sudah bikin itu saja,” ujarnya kepada detikFinance, Senin (19/8/2019).

Nah, pemain pertelevisian yang masih hidup hingga saat ini karena masih melihat peluang itu. Sementara bagi mereka yang masih bersikeras dengan konten idealisnya harus siap menelan pil pahit.

“Terlalu kreatif juga percuma karena ibu-ibu rumah tangga yang penting bukan kreatifnya. Kalau terlalu kreatif yang di daerah-daerah pasti tidak butuh,” tambahnya.

Konten-konten hiburan yang digarap NET TV memang kebanyakan cukup kreatif dan berkualitas. Sayangnya konten-konten itu harus bersaing dengan konten yang ada di YouTube.

Jahja tidak menilai sebenarnya tidak masalah jika ingin tetap menyediakan sajian tontonan yang berkualitas. Namun dibutuhkan modal yang kuat untuk bisa bertahan.

“Kreatif jangan terlaku cepatlah, kecuali nafas (modal) Anda panjang. Karena Anda bersaing dengan para kreator-kreator gila yang ada di Youtube, yang mereka gratis,” tutupnya. (mb/detik)

Loading...

Related posts