Cerita Pangkas Subsidi BBM, Jokowi: Kita Siap Kebijakan Tidak Populer

Booking.com

Metrobatam, Denpasar – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan siap mengambil kebijakan tidak populer dalam periode kedua pemerintahannya. Menurut Jokowi, kebijakan tidak populer harus diambil selama penting untuk kebaikan rakyat.

“Pada periode yang kedua ini pekerjaan kita, kita harus menyadari semuanya akan tambah berat. tantangan yang kita hadapi juga akan lebih berat. Tidak ada pilihan lain kita harus bekerja extra cepat, bekerja ekstra inovatif, bekerja ekstra efisien, kita harus melakukan lompatan lompatan kemajuan, membuat terobosan-terobosan yang sebelumnya belum pernah kita pikirkan. Kita harus siap terhadap kebijakan kebijakan yang tidak populer sekalipun tetapi itu penting untuk rakyat, yang jelas ujungnya keberpihakan kita untuk kebaikan rakyat,” ujar Jokowi dalam sambutan pada pembukaan Kongres PDI-Perjuangan di Hotel Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Kamis (8/8/2019).

Muat Lebih

Jokowi mencontohkan kebijakan tidak populer adalah memangkas subsidi bahan bakar minyak (BBM). Mantan Gubernur DKI Jakarta itu memangkas subsidi BBM saat awal menjalankan pemerintahan pada 2014.

Kebijakan itu diambil lantaran BBM yang disubsidi ternyata dinikmati kalangan menengah ke atas.

“Saya berikan contoh di 2014 saat kita memangkas subsidi BBM, saya tahu itu kebijakan yang sangat tidak populer, tapi saya paham bahwa 70% subsidi BBM itu justru dinikmati oleh kelompok menengah dan kelompok atas,” terang Jokowi.

Selanjutnya dana hasil pemangkasan subsidi tersebut dialokasikan ke berbagai program kesejahteraan masyarakat.

“Alokasi subsidi saat itu kita pangkas, lalu kita alokasikan hampir 40% utk masyarakat yg belum sejahtera lewat program-program baik itu PKH (Program Keluarga Harapan), rastra (beras sejahtera), dana desa dan lain-lainnya,” terang Jokowi.

Dia menambahkan ke depan kita butuh mempercepat investasi untuk membuka peluang lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya, tetapi kita juga terkendala banyak hal misalnya aturan regulasi ketenagakerjaan yang tidak ramah terhadap investasi.

Hal in berakibat pada peluang lapangan pekerjaan yang tidak tumbuh dengan cepat. Artinya ada problem di situ, padahal pembukaan lapangan kerja sangat kita butuhkan.

“Oleh karena itu kita harus berani memperbaiki diri secara total memperbaiki iklim investasi. Memperkuat daya saing kita dan menggairahkan ekonomi kita agar kita mampu membuka lapangan kerja, peluang kerja yang sebanyak banyaknya,” tutur Jokowi. (mb/detik)

Loading...

Pos terkait

Booking.com