Ekspedisi Nusa Manggala, LIPI Tayangkan ‘Kisah 8 Pulau Terluar’

Metrobatam, Jakarta – Pada Oktober hingga Desember 2018, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan ekspedisi Nusa Manggala di kawasan pesisir pulau-pulau kecil terluar Indonesia yang terletak di Samudra Pasifik. Ekspedisi Nusa Manggala itu menghasilkan sebuah film dokumenter berjudul ‘Kisah 8 Pulau Terluar’.

Film dokumenter tersebut bakal tayang hari ini, Rabu (14/8/2019), di CGV Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan. Dalam ekspedisi 60 hari itu, ada sekitar 55 peneliti Indonesia yang menerjunkan diri. Mereka berlatar belakang ekologi, daya dukung lingkungan, sosial kemanusiaan, hingga geomorfologi. Disebutkan, para peneliti menempuh perjalanan sejauh 6.000 km.

Read More

Ekspedisi Nusa Manggala sekaligus untuk mengukuhkan kehadiran pemerintah di kawasan PPKT. Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menjelaskan pulau-pulau terluar yang menjadi tujuan ekspedisi adalah Yiew, Budd, Fani, Brass dan Fanildo, Liki, Bepondi, dan Meossu serta satu gugusan kepulauan Ayau di kawasan Raja Ampat, Papua.

“Pulau-pulau ini dipilih karena merupakan kawasan perbatasan laut Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Kawasan Strategis Nasional,” kata Laksana.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Zainal Arifin, menjelaskan Ekspedisi Nusa Manggala adalah kegiatan penelitian untuk menggali data dan informasi sumber daya alam hayati dan non-hayati di kawasan pesisir PPKT Indonesia. Ia berharap film dokumenter ‘Kisah 8 Pulau Terluar’ yang dihasilkan dari ekspedisi tersebut menjadi rekomendasi bagi pengelolaan pulau-pulau terluar.

“Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi pandangan, konsep pengelolaan, dan best practices pengelolaan sumber daya pesisir di pulau-pulau kecil terluar untuk memberikan rekomendasi pengelolaan pulau-pulau terluar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta karakteristik sumber daya alamnya,” terang Zainal.

Koordinator Ekspedisi Nusa Manggala, Dirhamsyah–yang juga peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI–berkisah soal pulau karang atau atol yang mereka temui di kepulauan Mapia. Dia mengatakan atol yang mereka temukan itu merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.

“Di Kepulauan Mapia, tepatnya di pulau Brass-Fanildo terdapat salah satu atol yang terbesar di Indonesia dengan luasan area lebih dari 3000 hektar,” kata Dirhamsyah.

Ia menjelaskan atol tersebut menjadi habitat unik bagi beragam biota laut, seperti karang hias Lobophyllia, Physogyra, dan Cynarina lacrimalis. “Bahkan semua jenis kerang kima yang ada di Indonesia yang berjumlah tujuh jenis dapat ditemukan di kepulauan ini. Ditambah catatan sebaran baru kehadiran jenis di Indonesia yaitu Tridacna noae,” sebutnya.

Selain menelurkan film dokumenter, Ekspedisi Nusa Manggala juga menghasilkan buku yang berisikan informasi mengenai kegiatan ekspedisi. Dirhamsyah berharap buku tersebut menjadi acuan bagi pemerintah untuk membuat kebijakan terkait pengelolaan sumber daya pesisir PPKT.

“Selain itu juga output dari penelitian juga berupa film dan buku mengenai kegiatan tersebut kepada pembuat kebijakan dan masyarakat,” ujar Dirhamsyah. (mb/detik)

Loading...

Related posts