Komite Buku Nasional Kecam Aksi Razia Buku-buku Marxisme

Metrobatam, Jakarta – Komite Buku Nasional mengecam keras razia buku Marxisme di sejumlah kota di Indonesia. Lembaga yang berdiri pada 2016 dan terdiri dari pelaku industri perbukuan mendesak pemerintah agar segera menyelesaikan kasus tersebut.

“Kami sangat berharap segenap lapisan masyarakat mematuhi hukum yang berlaku dan menghargai buku sebagai produk intelektual,” ujar Ketua Komite Buku Nasional, Laura Bangun Prinsloo dalam keterangan pers, Selasa (6/8/2019).

Read More

Menurut Komite Buku Nasional, ketidaksetujuan atas isi sejumlah buku seharusnya disampaikan dalam dialog lewat logika hukum yang berlaku. Bukan disampaikan lewat tindakan yang sewenang-wenang.

“Penyitaan buku yang dilakukan secara sewenang-wenang ini juga dinilai oleh KBN sebagai tindakan yang melanggar hak penerbit yang diakui dan ditetapkan secara internasional oleh International Publishers Association,” lanjut Laura.

Indonesia merupakan anggota dari International Publishers Association. “Sebagai anggota International Publishers Association, para penerbit di Indonesia dijamin dan dibela haknya untuk mempublikasikan dan mendistribusikan karya-karya intelektual dan buah dari pemikirannya,” ungkapnya.

Peristiwa penyitaan dan razia buku sebelumnya terjadi di Toko Buku Gramedia, Makassar, Sulawesi Selatan pada 3 Agustus. Saat itu sekelompok orang mengatasnamakan Brigade Muslim Indonesia menyita buku-buku Marxisme.

Penyitaan juga dilakukan aparat polisi di Probolinggo kepada pegiat literasi di komunitas Vespa Literasi pada 27 Juli. Buku yang dirazia adalah ‘Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara’ (Penerbit KPG), ‘Sukarno, Marxisme, dan Leninisme: Akar Pemikirian Kiri dan Revolusi Indonesia’ (Komunitas Bambu), dan ‘Menempuh Jalan Rakyat, D.N Aidit’ (Yayasan Pembaharuan Jakarta), dan ‘Sebuah Biografi Ringkas D.N Aidit’ oleh TB 4 Saudara.

Razia juga terjadi di toko buku di Padang Sumatera Barat dengan menyita enam eksemplar dari tiga buku yang disinyalir mengandung paham komunisme. Dua pekan sebelumnya, tepatnya 26 Desember 2018, razia dilakukan Kodim 0809 Kediri yang menyita ratusan buku yang diduga berisi ajaran komunis.

Ironi Razia Buku

Kasus razia dan penyitaan buku-buku Marxisme dan yang dianggap ‘kiri’ mendapat kecaman banyak pihak. Salah satunya dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang giat meningkatkan minat baca di pelosok Indonesia.

Ketua Umum Forum TBM, Firman Hadiansyah, menuturkan pihaknya greget dengan adanya kasus razia buku yang beredar.

“Banyak teman-teman dari Forum TBM greget, kok seenaknya ya, razia sementara kami di lapangan sedang berjibaku untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” tuturnya ketika dihubungi detikHOT, Selasa (6/8/2019).

Forum TBM menyikapi kasus tersebut tak ingin dari landasan hukum formal. Menurut mereka, kasus razia buku itu terjadi karena adanya masyarakat atau komunal yang merespons buku tertentu dari cara pandang negatif.

“Kasus razia buku di Makassar kan yang dirazia pemikiran Karl Marx, kalau orang yang sudah baca pasti tertawa. Karena sama sekali tidak berbicara pemikiran Karl Marx sesuai dengan konteks yang dituduhkan dengan ideologi komunislah dan sebagainya,” jelas Firman.

Dia pun menambahkan, “Buku Franz Magnis Suseno murni ilmu pengetahuan dan justru pemikirannya berkebalikan dengan teori materialistis Karl Marx.”

Di penjuru daerah-daerah di Indonesia, Forum TBM tersebar dan mendirikan perpustakaan maupun taman bacaan. Menjamurnya TBM di Indonesia demi meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

CCSU merilis peringkat literasi negara-negara dunia pada Maret 2016. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasar lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di kerak peringkat literasi ini. Nomor satu ada Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman. (mb/detik)

Loading...

Related posts