Menhan: Berhentikan Taruna Enzo Kalau Benar Pendukung HTI

Metrobatam, Jakarta – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu meminta taruna akademi militer (Akmil) keturunan Prancis bernama Enzo Zenz Allie langsung diberhentikan jika benar menjadi pendukung gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sebelumnya, viral di media sosial foto Enzo sedang memegang bendera bertuliskan kalimat tauhid. Bendera itu identik dengan HTI yang sudah dibubarkan oleh pemerintah dua tahun lalu. Enzo bersama ibunya disebut-sebut simpatisan HTI dan pendukung khilafah.

Read More

“Kalau benar saya suruh berhentiin,” kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (7/8).

Ryamizard mengatakan saat ini jajaran TNI sedang melakukan pengecekan latar belakang Enzo yang memiliki darah Prancis tersebut. Mantan KSAD itu tak akan menoleransi jika Enzo benar-benar merupakan simpatisan HTI.

“Makanya dicek dulu. Kalau dia benar-benar khilafah ya enggak ada urusan,” ujarnya.

Pensiunan jenderal bintang empat itu menyatakan bahwa prajurit TNI yang terindikasi mendukung khilafah pun juga akan langsung dipecat.

“Pecat saja. Orang mendukung Pancasila kok. Itu namanya pengkhianat,” tuturnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan bahwa taruna akademi militer (Akmil) keturunan Prancis bernama Enzo Zenz Allie memenuhi syarat untuk menjadi taruna Akmil di Magelang, Jawa Tengah. Dia menyebut Enzo adalah WNI dan telah lolos syarat baik dari tes fisik mau pun psikologi.

Diketahui, Enzo menjadi perbincangan di media sosial setelah videonya beredar luas.

“Dilihat dari seleksinya memenuhi syarat, yang viral itu pull up-nya, larinya, ya itu dihitung semua secara fisik kemudian psikologinya semuanya memenuhi syarat,” kata Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (6/8).

Hadi menegaskan bahwa Enzo merupakan warga negara Indonesia, bukan warga negara asing. Enzo boleh menjadi calon prajurit TNI dengan menempuh pendidikan sebagai taruna di Akmil.

Enzo merupakan putra dari pasangan Jean Paul Francois Allie asal Paris, Prancis dan Siti Hajah Tilaria asal Sumatera Utara. Enzo tinggal di Prancis sejak lahir. Kemudian, dia pindah ke Indonesia di usia 13 tahun usai sang ayah meninggal dunia.

“Statusnya WNI karena mulai dari pendaftaran persyaratannya (berstatus WNI) itu jadi diterima. Dari persyaratan saja masuk ke militer harus WNI, kita berbicara masalah persyaratan,” ungkap Hadi.

TNI Bergerak Telusuri Isu Enzo terkait HTI

Sementara TNI angkat bicara mengenai isu viral yang menuduh taruna Akmil Enzo Zenz Allie terkait dengan organisasi terlarang HTI. Foto yang mendasari isu miring terhadap Enzo itu bisa jadi betul, bisa jadi salah. Meski begitu, TNI langsung turun tangan melakukan penelusuran.

Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi tidak betul-betul yakin foto tersebut adalah Enzo. Namun, dia tidak menutup kemungkinan lainnya.

“Itu foto Enzo? Kok yakin gitu? Kan kalo saya buat foto mirip, bisa saja saya sebut itu Enzo. Jangan cepat-cepat gitu lah. Masih banyak kemungkinan masalahnya, bukan berarti tidak,” kata Sisriadi saat dihubungi, Rabu (7/8/2019).

Terkait viral foto tersebut, warganet banyak menyampaikan kekhawatiran TNI akan disusupi pihak pro-radikal. Sisriadi menanggapi fenomena netizen ini sebagai bentuk cinta masyarakat kepada TNI.

Namun, Sisriadi menegaskan proses penjaringan di TNI dilakukan secara terus-menerus. Penjaringan tidak hanya dilakukan kepada taruna yang masih mengikuti akademi. Sisriadi mengatakan penjaringan dilakukan terus ketika seseorang sudah menjadi TNI aktif.

“Namun demikian, sistem penjaringan kita, salah satu di antaranya dan itu sangat penting adalah penelusuran mental ideologi, itu salah satu materi seleksi TNI. Itu sangat ketat,” ujarnya.

Sisriadi mengatakan penelusuran dilakukan termasuk pada lingkungan seorang taruna. Dia penelusuran terhadap seorang taruna dilakukan termasuk kepada lingkungan keluarga, tamu yang berkunjung ke rumah hingga afiliasi kegiatan taruna tersebut.

Dia mengatakan penelusuran ini dilakukan terhadap semua taruna. Bagi taruna yang ketahuan menganut paham radikal, maka TNI akan langsung mencoret.

“Jadi sasaran kita bukan Enzo atau siapa. Tapi sasaran kita adalah mencegah orang radikal, orang antipancasilais. Radikal kiri, radikal kanan, dan radikal lainnya. Radikal kiri itu komunisme-leninisme, jangan dikira tidak ada itu. Itu akan ketahuan di penelusuran MI (mental ideologi). Kemudian radikal kanan yang ingin mendirikan khilafah juga akan ketahuan di penelusuran jika berbohong. Kalau ketahuan langsung dicoret,” ujar dia.

Selain foto Enzo, di medsos juga beredar screenshot postingan ibu Enzo dalam akun Hadiati Basjuni Allie. Dari screenshot yang tersebar, netizen menilai ibu Enzo juga pro-HTI. Selain itu, beberapa postingan ibu Enzo juga dianggap berisi fitnah terhadap pemerintah.

Sisriadi mengatakan TNI juga ikut melakukan penelurusan digital lewat alat yang dipunya. Dia mengatakan jika ditemukan hal yang mengindikasikan seorang taruna memiliki paham radikal, maka TNI akan langsung mencoret.

“Dalam penilaian kita ada MS, memenuhi syarat. TMS, tidak memenuhi syarat. Kalau dia TMS dari hasil pendalaman selama 4 tahun, dia akan dicoret. Intinya kita tidak ingin kecolongan lah. Ada sistemnya. Contohnya, teman saya sudah tingkat 3, ada yang dipecat karena radikal kiri. Keluarganya begini-begini. Nggak ada ba-bi-bu, nggak pake pengadilan, langsung copot,” tuturnya.

“Tujuan utamanya, TNI tak mau kemasukan prajurit atau pemimpin yang anti-Pancasilais. Tidak Pancasilais itu radikal kanan, radikal kiri, radikal lainnya contohnya ultra liberalis. Itu juga kita cegah masuk TNI,” sambung Sisriadi.

Kepala Sekolah Ponpes Al Bayan, Deden Ramdhani, membantah blasteran Prancis itu anggota HTI. Deden mengatakan pesantren yang diasuhnya juga bercorak ahlussunnah wal jamaah (aswaja) serta menyatakan setia kepada NKRI.

“Sebagai lembaga tentu pemahaman kami ahlussunnah wal jamaah dan NKRI harga mati,” kata Deden Ramdhani saat ditemui wartawan di Anyer, Serang, Banten, Rabu (7/8/2019).

Deden menilai santrinya tidak mungkin masuk Akmil jika punya keterkaitan dengan HTI. Sebab seleksi di TNI begitu ketat.

“Enzo sudah jelas Pancasilais dan cinta NKRI,” ujarnya. (mb/cnn indonesia/detik)

Loading...

Related posts