Pesan Persamaan dari Dubes Agus di Tanah Arafah

Metrobatam, Jakarta – Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel memberikan pesan soal persamaan di Tanah Arafah. Maftuh mengatakan bahwa Islam merupakan agama persamaan tanpa memandang suku, bangsa, ras dan juga bahasa.

Hal itu disampaikan Agus saat memberikan sambutan dalam prosesi wukuf di di perkemahan Indonesia di Arafah, Sabtu (10/8) kemarin. Pesan persamaan itu dikutip Maftuh dari khotbah wada’ Rasulullah yang berisikan penegasan Islam sebagai agama persamaan tanpa memandang bangsa, suku, ras dan juga bahasa.

Read More

“Wahai bangsa manusia, Tuhan kalian satu, kalian semua dari Adam dan kalian semua terbuat dari debu. Tidak ada keistimewaan orang Arab di atas Non-Arab kecuali dengan nilai-nilai ketakwaan,” kutip Maftuh kepada wartawan, Minggu (11/8/2019).

Maftuh mengatakan berdasarkan khotbah wada’ Rasulullah itu tidak boleh ada yang mengklaim sebagai makhluk terhebat, terbaik maupun teristiwa di bumi ini. Sebab, Islam adalah agama persamaan.

“Pesan Nabi dalam khutbah 1430 tahun yang lalu sangat jelas bahwa harus ada penegasan Islam sebagai agama persamaan, ‘Ta’kidul Islam Kadinil Musawat atau Emphasizing Islam as Religion of Equality’; Tandas Maftuh dalam sambutan di wukuf Arafah tersebut,” tuturnya.

“Dalam khutbah yang sangat historis tersebut, Rasulullah telah meletakkan dasar-dasar hak asasi manusia (human rights) terkait dengan nyawa, harta dan harga diri (dignity). Maftuh menyebut khutbah Nabi yang dikenal dengan khutbah wada’ (pamitan) tersebut sarat dengan nilai-nilai humanism dan menegaskan bahwa Islam adalah sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan,” imbuh Maftuh.

Tak hanya itu, Maftuh juga membuka sambutannya dengan talbiyah hasil gubahan penyair sekaligus Shufi terkenal Abu Nawas. Dia lalu melanjutkan talbiyah itu dengan kata-kata hikmah dari Imam Syafi’i untuk mendeskripsikan wafatnya KH Maemun Zubeir Dahlan. Maftuh menyitir pesan pujangga Imam Syafi’i yang menegaskan bahwa orang alim akan selalu hidup meski sudah terkubur dan tulang belulangnya sudah ditelan bumi.

“Sebaliknya orang yang miskin ilmu dan tidak mau belajar pada hakekatnya adalah orang yang sudah mati dan tak pernah ada, meski dia bisa berjalan dan berinteraksi di atas bumi,” kata dia.

Maftuh juga mengisahkan saat dirinya mendampingi Presiden Jokowi melewati pintu ‘hujrah syarifah’ makam Nabi Muhammad SAW. Dia menggambarkan bahwa di atas pintu masuk tersebut ada kata-kata hikmah yang perlu dijadikan renungan pada saat wukuf di Arafah ini.

“Pesan hikmah tersebut adalah dalam hidup ini aktifitas kita harus dipenuhi dengan sanjungan dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Tulisan tersebut berada di bagian timur hujrah syarifah. Sebagai bentuk cinta kita kepada Nabi, maka di Arafah ini kita harus bisa menghadirkan kembali khutbah Rasulullah yang pernah dikumandangkan 1430 tahun yang lalu tepatnya tahun 10 H atau 632 M,” tutur Maftuh.

Ikut hadir dalam dalam prosesi wukuf di perkemahan Indonesia itu yakni Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher, para anggota komisi VIII DPR RI, para pejabat BPK RI, para pejabat Kemenag, para delegasi Amirul Hajj seperti Busyro Muqaddas, dan juga beberapa Anggota DPD RI. Nampak pula anggota Komisi I DPR Arwani Thomafi dan Wagub Jateng Taj Yasin yang juga putera KH Maemun Zubeir Dahlan.(mb/detik

Loading...

Related posts