Politik Harmoni ala Mbah Moen dalam Kenangan Gus Ipul

Metrobatam, Surabaya – Kabar meninggalnya Pimpinan Ponpes Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah dan juga tokoh PPP, KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, juga menyimpan duka yang mendalam bagi mantan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Bagi Gus Ipul, yang juga salah satu ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) ini, Mbah Moen adalah salah satu ulama sekaligus politisi yang selalu konsisten merawat keharmonisan dan perbedaan dengan lawan politiknya.

Read More

“Politik dalam diri Mbah Moen bukan tentang kepentingan sesaat, akan tetapi sebagai kontribusi untuk mendialogkan Islam dan kebangsaan,” kata Gus Ipul, di Surabaya, Selasa (6/8).

Gus Ipul pun mengenang saat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 1998. Mbah Moen sebagai petinggi partai berbasis NU yang telah lebih dulu ada PPP, tetap menjaga hubungan baik mereka.

“Saat Gus Dur termasuk Gus Mus mendirikan PKB, Mbah Moen saat itu tetap konsisten di PPP. Tapi hubungan silaturahmi antara beliau-beliau ini tetap terjamin dan terjaga,” ujar dia.

Gus Ipul menceritakan awal pendirian PKB kala itu juga sempat terjadi ketegangan khususnya di kawasan Jawa Tengah, namun saat itu, Mbah Moen muncul menjadi tokoh yang mampu meredam dan mendinginkannya.

“Saat itu antara PKB dan PPP sempat panas di Jawa Tengah, tapi Mbah Moen bisa mendinginkan dan menyejukkan,” ujar Gus Ipul yang juga keponakan Gus Dur ini.

Sebagai ulama yang berkiprah di politik, Mbah Moen punya segudang pengalaman. Dia tercatat pernah menjadi anggota DPRD tingkat II Rembang selama 7 tahun, dari 1971 hingga 1978.

Pertengahan 1980-an kiprah politik Mbah Moen berlanjut ke nasional. Dia bahkan sempat merasakan kursi anggota MPR dari utusan Jawa Tengah pada 1987 hingga 1999.

Nama Mbah Moen menghiasi pemberitaan media pada Pilpres 2019. Terutama saat dia menerima kunjungan dari calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Prabowo menemui Mbah Moen di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, pada 29 September 2018 lalu. Adapun Jokowi mendatangi lokasi yang sama pada 1 Februari 2019.

Pada suatu acara, Mbah Moen sempat mendoakan Jokowi yang sedang duduk di sampingnya, namun yang diucap oleh mulutnya justru nama Prabowo Subianto.

“Kini, karena kedalaman ilmu dan kharismanya, Kiai Maimoen Zubair diangkat sebagai Ketua Majelis Syariah PPP,” ujar mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Indonesia tersebut.

Menurut Gus Ipul, kepergian Mbah Moen menyisakan rasa kehilangan yang begitu dalam bagi negeri ini. Ia yang dalam berbagai kesempatan kerap bertemu dan sowan kepada Mbah Moen ini, mengatakan bahwa tidak banyak ulama karismatik di Indonesia yang sealim dan memiliki keilmuan luas seperti Mbah Moen.

Secara pribadi, Gus Ipul mengaku kehilangan sosok alim dan guru. Ia pun mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya.

“Kita turut berduka seorang alim yang ahli silaturahmi dan konsisten ngemong santri telah kapundut (wafat). Selamat Jalan Mbah Maimoen, Allah mencintai panjenengan,” kata Gus Ipul. (mb/cnn indonesia)

Loading...

Related posts