Eks Kader Perindo Pembawa Bendera Bintang Kejora Tersangka

Metrobatam, Jakarta – Kepolisian Daerah Papua Barat menetapkan Sayang Mandabayan sebagai tersangka terkait bendera Bintang Kejora. Eks Ketua DPD Partai Perindo Kota Sorong itu dijerat dengan pasal penghasutan.

Pada Senin (2/9) sore Sayang ditangkap di Bandara Rendani Manokwari lantaran kedapatan membawa 1.500 bendera Bintang Kejora berukuran kecil. Polisi juga menyita spanduk dan kaos yang dianggap memuat konten provokatif.

Read More

“Yang paling itu, pasal penghasutan. Jadi dia kan kegiatannya berlanjut itu dari Sorong ke sini. Kami kenakan pasal penghasutan. Dia sudah ditahan mulai kemarin. Langsung ditetapkan sebagai tersangka lalu ditahan,” tutur Kapolda Papua Barat Herry Rudolf Nahak saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (4/9).

“Menghasut untuk melakukan demo yang anarkis, kemudian agendanya adalah (Papua) merdeka,” tambah dia.

Herry melanjutkan bendera-bendera itu rencananya dibagikan ke para demonstran di Papua Barat agar dibawa saat unjuk rasa. Sayang diduga memprovokasi massa aksi untuk menyuarakan tuntutan Kemerdekaan Papua.

“Dia memang kader Perindo, tapi agendanya, dengan membawa bendera-bendera itu kan agendanya menjadi lain. Tidak lagi mengusung agenda antirasisme, penolakan rasisme atau permintaan untuk ditangani secara hukum. Sudah bergeser ini agendanya, makanya kan kami melakukan penegakan hukum,” ungkap Herry.

Dijelaskan Herry bahwa penyidik polisi masih mendalami keterkaitan Sayang dengan organisasi-organisasi atau gerakan kemerdekaan Papua.

Ia memastikan masih akan meminta keterangan ke sejumlah saksi. Hanya saja, Herry enggan menjelaskan detail saksi-saksi yang bakal dipanggil.

“Kemungkinan kuat ke organisasi-organisasi yang mengarah atau memiliki agenda Papua merdeka.” kata dia.

Polda Papua Barat hingga kini masih mengantisipasi kemungkinan aksi massa. Herry mengatakan pasukan gabungan dari Polri dan TNI masih disiagakan di sejumlah lokasi yang berpotensi jadi titik konsentrasi massa.

Ia juga mengklaim telah menyiapkan antisipasi jika ada aksi yang mengarah ke kekerasan.

“Dari Polri saja sudah 900 lebih, TNI kurang lebih juga sama. Jadi hampir 2.000 pasukan menjaga. Termasuk Sorong dan Fakfak,” kata Herry.

Sayang sendiri sudah dipecat dari Perindo. Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq menyatakan apa yang dilakukan Sayang itu tidak memiliki keterkaitan dengan Partai Perindo.

“Saat ini statusnya sudah bukan lagi sebagai anggota Perindo. Otomatis dia bukan lagi sebagai pengurus,” kata Rofiq.

Rofiq berharap seluruh kader Perindo yang ada di Papua dapat berperan dalam menjaga kedaulatan NKRI, bukan malah memecah belah hingga mengikuti aksi dan membawa Bendera Bintang Kejora seperti yang dilakukan Sayang.

Bagi Perindo, lanjutnya, NKRI adalah harga mati. Oleh karena itu, pemecatan akan dilakukan kepada kader yang tidak sejalan dengan itu.

Tersangka Hanya 6 Orang

Polda Metro Jaya menegaskan pihaknya hanya menetapkan tersangka terhadap enam orang karena mengibarkan bendera bintang kejora di Jakarta. Sempat mengamankan delapan orang, polisi menyebut dua dari delapan orang itu hanya berstatus saksi.

“Yang 2 orang itu statusnya hanya saksi saja. Karena kurang bukti, ya, sudah kita pulangkan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (4/9/2019).

Argo tidak memaparkan 2 identitas dari saksi yang sudah dipulangkan polisi itu. Namun dia menyebut tersangka dalam kasus itu hanya 6 orang.

“Penetapan tersangka itu hanya 6 orang sejauh ini, bukan 8,” tegas Argo.

Diketahui, tim Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengamankan delapan orang di tempat berbeda terkait kasus pengibaran bintang kejora pada saat aksi di Jl Medan Merdeka Barat, depan Istana, Rabu (28/8). Argo sebelumnya menyebut kedelapan orang itu sudah ditetapkan menjadi tersangka. Namun kemudian jumlah tersangka diralat menjadi enam orang.

“Ada 8 orang yang kita amankan dari tempat berbeda-beda. Ada yang di asrama, ada juga yang sedang unjuk rasa di depan Polda Metro Jaya. (Status delapan orang yang diamankan) tersangka,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (1/9).

Dalam penangkapan itu, polisi menyita barang bukti, yakni 2 handphone, 1 spanduk, 1 kaus bergambar bintang kejora, 1 selendang bergambar bintang kejora, dan 1 toa. Polisi akhirnya menetapkan 6 tersangka dalam kasus itu, 2 orang lainnya dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.

Enam tersangka itu saat ini berada di Mako Brimob, Depok. Para tersangka tersebut diduga melakukan tindakan permufakatan jahat atau makar sebagaimana diatur dalam Pasal 106 juncto Pasal 87 dan/atau Pasal 110 KUHP. (mb/cnn indonesia/detik)

Loading...

Related posts