Panglima di Papua: TNI-Polri Berjaga, Rakyat Bisa Tidur Pulas

Metrobatam, Jakarta – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yakin masyarakat bisa tidur nyenyak jika TNI dan Polri saling bersinergi menjaga keamanan. Termasuk juga masyarakat Papua dan Papua Barat di wilayah kota besar hingga desa terpencil.

Hadi mengatakan itu saat memberi pengarahan kepada ratusan prajurit TNI-Polri di Aula Markas Kodam XVIII/Kasuari, Manokwari, Papua Barat, Selasa (3/9). Dia didampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat memberi pengarahan.

Read More

“Rakyat dapat merasakan tidur dengan nyenyak ketika TNI-Polri menjaga stabilitas keamanan, baik di kota-kota besar sampai dengan kampung-kampung dan desa-desa terpencil,” tutur Hadi mengutip siaran pers yang dikirim dari Pusat Penerangan Mabes TNI.

Dia meminta prajurit TNI dan Polri selalu bersinergi dengan baik dalam menjaga stabilitas keamanan. Menurutnya itu perlu demi menjaga keutuhan Indonesia.

Hadi mengamini bahwa tugas para prajurit TNI-Polri memang berat. Dia mengucapkan terima kasih kepada segenap prajurit TNI-Polri yang sejauh ini berperan menjaga stabilitas keamanan di Papua Barat.

“Saya memahami bahwa tugas yang diberikan cukup berat, namun dengan hati yang tulus dan ikhlas semuanya bisa dilaksanakan dengan baik tanpa halangan,” kata Hadi.

Diketahui, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ingin fokus memulihkan keamanan di Papua dan Papua Barat. Dia memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan berkantor di Markas Kodam XVII/Cenderawasih sejak Selasa lalu (3/9).

Tak hanya Hadi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun menempuh langkah serupa. Mereka berdua menetap sementara hingga enam hari ke depan.

“Panglima TNI dan kapolri akan berkantor di Jayapura lima sampai enam hari. Keberadaan mereka menjadi bukti keseriusan pemerintah pusat menciptakan situasi yang kondusif pascarusuh di Papua beberapa waktu lalu,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Kamal mengutip Antara, Selasa (3/9).

Sikap Hadi dan Tito tak lepas dari ketegangan yang terjadi di Papua dan Papua Barat sejak pertengahan Agustus lalu. Sejumlah aksi protes menjalar di berbagai daerah di Bumi Cenderawasih.

Bahkan, ada pula aksi unjuk rasa yang berbuntut perusakan bangunan komersial dan fasilitas publik. Misalnya yang terjadi di Abepura, Entrop, Jayapura dan Sorong.

Sejauh ini, Polisi telah menetapkan 68 tersangka dalam rentetan peristiwa yang terjadi di Papua dan Papua Barat. Pihak kepolisian juga masih belum menarik kembali pasukan tambahan yang sempat dikirim ke Papua dari daerah lain. (mb/cnn indonesia)

Loading...

Related posts