Jaksa: Duit Rp 25 Juta dari Kivlan Zen Modal Mata-matai Wiranto dan Luhut

Metrobatam, Jakarta – Selain membeli senjata api, Kivlan Zen pernah meminta orang suruhannya memantau pergerakan pejabat negara. Kivlan Zen disebut jaksa meminta agar Menko Polhukam Wiranto dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dimata-matai.

Jaksa dalam surat dakwaan memaparkan biaya operasional untuk kegiatan ‘memata-matai’ ini berasal dari duit yang diberikan Kivlan Zen. Duit operasional merupakan bagian dari total SGD 15 ribu yang diberikan dari Habil Marati ke Kivlan Zen. Setelah ditukarkan ke mata uang rupiah, Kivlan Zen menyerahkan uang pembelian senjata api ke Helmi alias Iwan termasuk uang operasional Helmi.

Read More

“Selanjutnya terdakwa (Kivlan Zen) memerintahkan saksi Helmi Kurniawan alias Iwan untuk menemui saksi Habil Marati dan berpesan apabila diberi uang oleh saksi Habil Marati agar dilaporkan kepada Terdakwa. Selanjutnya, saksi Helmi Kurniawan alias Iwan menyerahkan uang sebesar Rp 25 juta yang berasal dari terdakwa kepada saksi Tajudin alias Udin sebagai biaya operasional survei dan pemantauan guna memata-matai Wiranto dan Luhut Binsar Pandjaitan,” sambung jaksa.

Terkait kasus ini, jaksa mendakwa Kivlan Zen atas kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam. Perbuatan Kivlan Zen menurut jaksa dilakukan bersama-sama dengan Helmi Kurniawan (Iwan), Tajudin (Udin), Azwarmi, Irfansyah (Irfan), Adnil, Habil Marati, dan Asmaizulfi alias Vivi.

“Terdakwa Kivlan Zen sebagai orang yang melakukan atau turut melakukan perbuatan tindak pidana, yaitu tanpa hak menerima,menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya, atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak, yakni berupa 4 pucuk senjata api dan 117 peluru tajam,” kata jaksa.

Minta Cari Senpi Baru Sebelum Pemilu

Dalam persidangan juga terungkap, Kivlan Zen pernah mengungkapkan kekecewaan kepada orang suruhannya, Helmi Kurniawan alias Iwan, yang bertugas mencari senjata api (senpi). Kivlan kecewa Helmi membeli senpi laras panjang kaliber 22.

Jaksa dalam surat dakwaan memaparkan, kekecewaan Kivlan Zen disampaikan saat mendatangi rumah Helmi Kurniawan alias Iwan pada 7 Maret 2019.

“Kemudian saksi Helmi Kurniawan alias Iwan ditunjukkan senjata api rakitan laras panjang kaliber 22. Setelah melihat senjata tersebut, terdakwa kecewa dan mengatakan bahwa senjata api laras panjang tersebut hanya cocok untuk menembak tikus,” kata jaksa membacakan surat dakwaan Kivlan Zen dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar, Selasa (10/9/2019).

Kivlan Zen, menurut jaksa, langsung meminta Helmi Kurniawan alias Iwan mencarikan senjata api laras panjang yang baru. “Yang kalibernya lebih besar dan harus didapatkan sebelum pelaksanaan pemilu,” sebut jaksa.

Senpi laras panjang kaliber 22 yang bikin Kivlan kecewa sebelumnya dibeli Helmi alias Iwan dari Adnil. Adnil saat itu juga menjual 2 senpi lainnya, yakni senpi laras pendek jenis Mayer kaliber 22 mm dan 1 senpi laras pendek jenis revolver dan 4 butir peluru.

Kivlan Zen didakwa bersama-sama sejumlah orang, termasuk Habil Marati, memiliki senpi ilegal dan peluru tajam. Jaksa mengungkap setoran duit dari Habil Marati, yakni SGD 15 ribu dan Rp 60 juta ke Kivlan Zen cs untuk pembelian senpi dan biaya operasional.

“Saksi Habil Marati memberi saksi Helmi Kurniawan alias Iwan uang sebesar Rp 50 juta dan mengatakan bahwa uang tersebut dibutuhkan saksi Helmi Kurniawan untuk kepentingan bangsa dan negara, dan berpesan agar saksi Helmi

Kurniawan alias Iwan tetap semangat,” ujar jaksa menerangkan pemberian duit tahap ketiga dari Habil Marati. (mb/detik)

Loading...

Related posts