Sepenggal Kenangan Terakhir BJ Habibie di Istana

Metrobatam, Jakarta – Berkemeja batik cokelat lengan panjang dan celana panjang lengkap dengan peci hitam di kepala, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie berjalan perlahan menaiki anak tangga sayap kanan Istana Merdeka, Jakarta, pada 24 Mei lalu.

Senyum Habibie mengembang. Sampai di teras Istana Merdeka, seorang anggota TNI yang berdiri di sisi kanannya memberi hormat. Berhenti sejenak, ia membalasnya dengan juga memberi hormat

Read More

Habibie juga membalas sapaan wartawan. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu melambaikan tangan ke arah wartawan yang berdiri di teras sayap kiri Istana Merdeka.

Ia kemudian diarahkan menuju ke ruang tunggu. Selang lima menit, Presiden Joko Widodo datang menghampiri Habibie yang menunggunya.

Jokowi langsung menyapa Habibie. Mereka berjabat tangan sembari melempar senyum. Jokowi lantas mengajak Habibie ke ruang kerjanya. Keduanya bertemu sekitar satu jam.

Kedatangan Habibie ketika itu untuk memberi selamat kepada Jokowi yang unggul dari Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019, usai KPU menetapkan rekapitulasi suara pada 21 Mei dini hari.

“Saya datang kemari pertama untuk mengucapkan selamat kepada bapak presiden bahwa rakyat telah menentukan agar supaya karya-karya yang beliau telah laksanakan bisa berkelanjutan dan diamankan untuk generasi penerus,” kata Habibie didampingi Jokowi saat menyampaikan keterangan pers kepada wartawan.

Habibie antusias menjawab pertanyaan awak media. Ia berbicara soal persatuan dan kesatuan bangsa serta pemerataan dan masa depan Indonesia tak bisa ditawar.

Mantan Menteri Riset dan Teknologi itu mengingatkan bahwa pemimpin yang terpilih dalam Pilpres tak hanya memimpin rakyat yang memilihnya, tetapi juga memimpin seluruh bangsa Indonesia.

Habibie juga menyampaikan soal tiga generasi sejak RI merdeka sampai hari ini. Generasi 45, generasi peralihan, dan generasi penerus. Menurutnya, generasi penerus mulai masuk di era Jokowi.

“Anda ini anak dari cucu intelektual semua. Nah kalau mau anggap saya berhasil, anda juga harus lebih hebat daripada saya. Itu tolak ukurnya,” ujar Habibie.

Di akhir-akhir tanya jawab, Habibie menyinggung usianya yang menginjak 83 tahun pada Juni 2019. “Saya bulan depan sudah 83. Sepuh ya,” tuturnya.

Wartawan kemudian bertanya soal kondisi kesehatan Habibie. Ahli pesawat terbang itu mengatakan dalam kondisi sehat. “Sehat. Sehat enggak kelihatannya?” tuturnya.

Ini menjadi momen terakhir Habibie di Istana yang disorot awak media –atau mungkin ada pertemuan dirinya dengan Jokowi selepas itu yang tak terekspos.

Terpaku di Ruang Jepara

Istana Kepresidenan bukanlah tempat asing bagi Habibie. 21 tahun lalu atau tepatnya 21 Mei 1998, ia diambil sumpah sebagai presiden menggantikan Soeharto, yang menyatakan berhenti setelah didesak mundur.

Politikus Golkar itu memiliki kenangan sendiri dalam peristiwa pergantian kekuasaan ini. Habibie sampai saat membaca sumpah masih menyimpan pertanyaan mengapa Soeharto bersikap dingin dan tak mau berbicara dengan dirinya.

Habibie mendapat kabar Soeharto mundur, pada malam 20 Mei dari Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid. Melalui sambungan telepon itu, Saadilah menyampaikan Soeharto akan mengumumkan berhenti sebagai presiden keesokan harinya atau 21 Mei, di Istana Merdeka.

Habibie kaget. Ia meminta agar bisa berbicara dengan Soeharto, namun tak terwujud. Habibie dijanjikan bisa bertemu empat mata dengan Soeharto di Cendana sebelum ke Istana.

“Ajudan presiden menyatakan akan diusahakan pertemuan empat mata dengan Pak Harto di Cendana besok pagi [Kamis, 21 Mei] sebelum ke Istana Merdeka,” tutur Habibie di dalam bukunya Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.

Tetapi, Habibie mendapat kabar bahwa Soeharto belum berkenan menerimanya dan dia diminta langsung menuju ke Istana Merdeka.

Ketika itu, Habibie didampingi Letnan Jenderal Sintong Panjaitan, Ahmad Watik Pratiknya, Fuadi Rasyid, dan Jimly Asshiddiqie langsung bertolak ke Istana sekitar pukul 08.30 WIB.

Setibanya di Istana, Habibie langsung diminta menunggu di kamar tamu yang berhadapan dengan Ruang Jepara, tempat Soeharto.

Tak lama kemudian, Ketua Mahkamah Agung (MA) Sarwata dan para anggota MA tiba di kamar tempat Habibie menunggu. Rombongan pimpinan DPR/MPR menyusul masuk ke dalam ruangan yang sama.

Habibie sempat bertanya mengenai proses mundurnya Soeharto. Menurut Sarwata dan Harmoko, proses pengalihan kekuasaan tersebut sah dan sesuai UUD 1945.

Tiba-tiba, protokol dan ajudan pribadi Presiden meminta Ketua dan para Hakim MA masuk ke Ruang Jepara. Habibie sempat meminta waktu untuk bertemu dengan Soeharto, namun tak dipersilakan.

Bukan Habibie yang kemudian dipersilakan masuk oleh ajudan pribadi presiden, melainkan para pimpinan DPR/MPR. Kejadian tersebut semakin membuat Habibie gusar.

Ia lantas memberanikan diri untuk langsung masuk ke Ruang Jepara agar bisa berbincang dengan Soeharto.

Namun, saat berada di depan Ruang Jepara, pintu tiba-tiba terbuka dan protokoler menyampaikan bahwa Presiden memasuki ruang upacara.

“Saya tercengang melihat Pak Harto, melewati saya dan terus melangkah ke ruang upacara dan ‘melecehkan’ keberadaan saya di depan semua yang hadir,” ujar Habibie.

“Betapa sedih dan perih perasaan saya ketika itu. Saya melangkah mendampingi Presiden Soeharto, manusia yang saya hormati, cintai, dan kagumi yang ternyata menganggap saya tidak ada,” tutur Habibie.

Kejadian ini tak menghalangi pembacaan pernyataan pengunduran diri Soeharto. Mantan Pangkostrad itu membacakan surat berhenti, dilanjutkan pengambil sumpah Habibie sebagai presiden.

Setelah itu, Soeharto dengan dingin meninggalkan Habibie tanpa kata. Hal yang akan terulang hingga Soeharto meninggal dunia.

“Semua berlangsung cepat dan lancar. Pak Harto memberi salam kepada semua yang hadir termasuk saya. Tanpa senyum maupun sepatah kata,” kata Habibie.

Habibie berdiam di Istana peninggalan kolonial Belanda itu kurang lebih sekitar 1 tahun 5 bulan. Foto dirinya juga terpasang di ruang tengah Istana Negara, bersama foto-foto mantan presiden lainnya. (mb/cnn indonesia)

Loading...

Related posts