Begini Pengakuan Brimob yang Jadi Eksekutor Hukuman Mati

1053

Metrobatam.com, Jakarta – “Menarik pelatuk itu mudah tapi yang lebih sulit itu menyentuh korban langsung,” kata seorang anggota Brimob yang pernah menjadi eksekutor para terpidana mati 8 Januari 2015 lalu. Perasaan personel Brimob asal Polda Jawa Tengah (Jateng) itu tentu juga berkecambuk.

Para eksekutor eksekusi mati kala itu memang berasal dari Brimob Polda Jateng. Mereka mendapat perintah menjadi algojo terpidana mati di Nusakambangan, Cilacap, Jateng. Rasa tak enak menyelimuti hati. Sebab bukan perkara mudah menjadi eksekutor sebuah hukuman mati. Sebelum mengeksekusi, dia bahkan harus mengikat tubuh calon korbannya di sebuah tiang dengan tali.

“Beban mental yang lebih berat itu adalah petugas yang harus mengikat terpidana, ketimbang algojo penembak,” kata dia, seperti dilansir surat kabar The Guardian.

“Soalnya mereka bertanggung jawab untuk membawa terpidana dan mengikat kedua tangan mereka sampai akhirnya mereka mati,” imbuhnya.

Sang algojo yang enggan mau disebutkan namanya ini mengaku dibayar kurang dari Rp 1,3 juta untuk menjalani tugasnya.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika menjadi salah satu algojo penembak, dia terdiam beberapa saat. Dia mengaku hal itu akan menjadi rahasianya seumur hidup. Tetapi, ketika didesak lagi, dia pun menjawab. “Sebagai seorang anggota Brimob saya harus melakukannya dan saya tak punya pilihan,” kata dia seraya mengusap matanya dan menatap ke arah langit.

“Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup,” kata dia, seperti dilansir news.com.au.

Dalam pelaksanaan hukuman mati ini ada dua tim yang ditugaskan. Tim pertama adalah yang membawa terpidana ke tiang buat diikat. Sedangkan tim kedua merupakan eksekutor atau penembak. Anggota Brimob itu mengatakan dia sudah pernah berada di kedua tim itu.

Diakui personel Brimob itu, hal yang dirasakannya sulit ketika berhadapan dengan terpidana mati. “Kami melihat terpidana itu dari dekat, dari saat mereka masih hidup, berbicara, hingga mereka mati. Kami tahu persis semua kejadian itu.”

Lima anggota Brimob ditugaskan untuk mengawal setiap terpidana, dari mulai membawa mereka keluar sel hingga menggiring mereka ke tiang. Petugas mengatakan terpidana bisa memilih untuk menutup wajah mereka sebelum diikat supaya posisi mereka tidak bergerak saat berdiri di tiang.

Dengan tali tambang mereka mengikat terpidana ke tiang dalam keadaan berdiri atau berlutut sesuai keinginan mereka. Sebisa mungkin dia tidak mengadakan komunikasi dengan terpidana. Namun, dia mengaku memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri.

“Saya hanya bilang, maaf, saya hanya menjalankan tugas,” cerita sang algojo.

Para terpidana mati itu akan memakai baju berwarna putih dan jika mau mata mereka bisa ditutup. Di tengah kegelapan malam, cahaya obor akan menerangi lingkaran berdiameter 10 sentimeter tepat di jantung mereka.

Pasukan penembak yang terdiri dari 12 orang akan berdiri sekitar lima hingga sepuluh meter dan menembakkan senapan M16s saat diperintah.

Para algojo itu dipilih berdasarkan kemampuan menembak dan kondisi mental serta kebugaran fisik. Mereka menembak secara bergiliran.

“Semua beres kurang dari lima menit,” kata dia. “Setelah ditembak, terpidana itu akan lemas karena sudah tidak bernyawa.”

Seorang dokter memeriksa korban untuk memutuskan apakah dia sudah mati atau belum. Jika belum maka petugas akan menembak terpidana di kepala dalam jarak dekat. Korban kemudian akan dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti mati.

Algojo itu mengatakan dia hanya menjalankan tugas berdasarkan aturan hukum. “Saya terikat sumpah prajurit. Terpidana sudah melanggar hukum dan kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak kami serahkan kepada Tuhan.”

Setelah melaksanakan eksekusi, petugas menjalani bimbingan spiritual dan psikologi selama tiga hari. Seorang algojo juga diberi batas maksimal jumlah eksekusi yang bisa dilakukannya.

“Kalau cuma sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau harus berkali-kali bisa mempengaruhi secara psikologi,” kata dia.

“Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja.”

Suatu hari dia berharap bisa melupakan semua ini. “Saya harap mereka beristirahat dengan tenang,” kata dia. “Begitu pula saya.” terangnya. (mb/merdeka)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Sindikat Saracen Punya Ribuan Akun untuk Sebar Kebencian dan Isu SARA

Metrobatam, Jakarta - Polri mengungkap sindikat Saracen, pelaku yang kerap menyebarkan ujaran kebencian bermuatan SARA di media sosial. Mereka diketahui berbagi peran dalam melancarkan...


wp booster error:
td_api_base::mark_used_on_page : a component with the ID: thumbnail is not set.

Kemenhub: Ruangan Seorang Dirjen Disegel KPK

Metrobatam, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membenarkan ruangan yang disegel KPK adalah ruangan seorang Direktur Jenderal (Dirjen). KPK diketahui melakukan penyegelan itu terkait operasi...

Whatsapp Punya Fitur Baru, Nantikan Akhir Minggu Ini

Metrobatam, Jakarta - Whatsapp menerapkan fitur status dengan latar warna-warni ala Facebook. Dengan fitur baru ini, pengguna Whatsapp bisa memvariasikan status yang mereka poskan...

Kompolnas Minta Polisi Usut Tuntas Sindikat Penyebar Isu SARA

Metrobatam, Jakarta - Polri mengungkap sindikat Saracen, pelaku yang kerap menyebarkan ujaran kebencian bermuatan SARA di media sosial. Kompolotan ini memiliki ribuan akun. Komisi...

Bisakah RI Jadi Negara Besar? Ini Kata Sri Mulyani

Metrobatam, Yogyakarta - Menjadi negara besar dengan masyarakat adil dan makmur memang banyak tantangannya. Namun, Indonesia memiliki modal tersebut. Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan, Sri...

Mendag Tegur India Soal Upaya Jegal Produk Kelapa Sawit RI

Metrobatam, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku, telah menyampaikan perhatian Pemerintah Indonesia terkait kenaikan tarif bea masuk komoditas minyak kelapa sawit (crude palm...

MA Sebut Banyak Pihak Eksternal Campur Tangan Seleksi Hakim

Metrobatam, Jakarta - Ketua Kamar Pembinaan Mahkamah Agung (MA) Takdir Rahmadi mengatakan proses seleksi calon hakim pengadilan tingkat pertama tak sepenuhnya dilakukan pihaknya. Sejak awal...

Penyebar Kebencian dan Isu SARA, Sindikat Saracen Dibayar Puluhan Juta

Metrobatam, Jakarta - Polisi menangkap sindikat Saracen, yang kerap menyebarkan isu SARA di media sosial. Sindikat Saracen kerap mengirimkan proposal kepada beberapa pihak terkait...

Mendikbud: Madrasah Berkurang karena Islamic Full Day School

Metrobatam, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, mengatakan bahwa keberadaan Islamic Full Day School berpotensi mengurangi jumlah madrasah diniyah. "Ini yang menurut saya...

OTT Pejabat Kemenhub, KPK Amankan Dolar Amerika, Singapura hingga Rupiah

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan sejumlah uang berbentuk mata uang asing dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap pejabat Kementerian Perhubungan (Kemenhub). "Ada...

Duh! Panitera yang Ditangkap KPK Punya Hubungan Keluarga dengan Hakim Agung

Metrobatam, Jakarta – Panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK, Tarmizi, dikabarkan mempunyai hubungan keluarga dengan salah...

Khofifah Klaim Kantongi ‘Tiket’ Parpol untuk Pilgub Jatim

Metrobatam, Jakarta - Nama Khofifah Indar Parawansa mencuat sebagai salah satu calon kontestan yang bakal maju dalam arena Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Menteri...