Begini Pengakuan Brimob yang Jadi Eksekutor Hukuman Mati

1065

Metrobatam.com, Jakarta – “Menarik pelatuk itu mudah tapi yang lebih sulit itu menyentuh korban langsung,” kata seorang anggota Brimob yang pernah menjadi eksekutor para terpidana mati 8 Januari 2015 lalu. Perasaan personel Brimob asal Polda Jawa Tengah (Jateng) itu tentu juga berkecambuk.

Para eksekutor eksekusi mati kala itu memang berasal dari Brimob Polda Jateng. Mereka mendapat perintah menjadi algojo terpidana mati di Nusakambangan, Cilacap, Jateng. Rasa tak enak menyelimuti hati. Sebab bukan perkara mudah menjadi eksekutor sebuah hukuman mati. Sebelum mengeksekusi, dia bahkan harus mengikat tubuh calon korbannya di sebuah tiang dengan tali.

“Beban mental yang lebih berat itu adalah petugas yang harus mengikat terpidana, ketimbang algojo penembak,” kata dia, seperti dilansir surat kabar The Guardian.

“Soalnya mereka bertanggung jawab untuk membawa terpidana dan mengikat kedua tangan mereka sampai akhirnya mereka mati,” imbuhnya.

Sang algojo yang enggan mau disebutkan namanya ini mengaku dibayar kurang dari Rp 1,3 juta untuk menjalani tugasnya.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika menjadi salah satu algojo penembak, dia terdiam beberapa saat. Dia mengaku hal itu akan menjadi rahasianya seumur hidup. Tetapi, ketika didesak lagi, dia pun menjawab. “Sebagai seorang anggota Brimob saya harus melakukannya dan saya tak punya pilihan,” kata dia seraya mengusap matanya dan menatap ke arah langit.

“Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup,” kata dia, seperti dilansir news.com.au.

Dalam pelaksanaan hukuman mati ini ada dua tim yang ditugaskan. Tim pertama adalah yang membawa terpidana ke tiang buat diikat. Sedangkan tim kedua merupakan eksekutor atau penembak. Anggota Brimob itu mengatakan dia sudah pernah berada di kedua tim itu.

Diakui personel Brimob itu, hal yang dirasakannya sulit ketika berhadapan dengan terpidana mati. “Kami melihat terpidana itu dari dekat, dari saat mereka masih hidup, berbicara, hingga mereka mati. Kami tahu persis semua kejadian itu.”

Lima anggota Brimob ditugaskan untuk mengawal setiap terpidana, dari mulai membawa mereka keluar sel hingga menggiring mereka ke tiang. Petugas mengatakan terpidana bisa memilih untuk menutup wajah mereka sebelum diikat supaya posisi mereka tidak bergerak saat berdiri di tiang.

Dengan tali tambang mereka mengikat terpidana ke tiang dalam keadaan berdiri atau berlutut sesuai keinginan mereka. Sebisa mungkin dia tidak mengadakan komunikasi dengan terpidana. Namun, dia mengaku memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri.

“Saya hanya bilang, maaf, saya hanya menjalankan tugas,” cerita sang algojo.

Para terpidana mati itu akan memakai baju berwarna putih dan jika mau mata mereka bisa ditutup. Di tengah kegelapan malam, cahaya obor akan menerangi lingkaran berdiameter 10 sentimeter tepat di jantung mereka.

Pasukan penembak yang terdiri dari 12 orang akan berdiri sekitar lima hingga sepuluh meter dan menembakkan senapan M16s saat diperintah.

Para algojo itu dipilih berdasarkan kemampuan menembak dan kondisi mental serta kebugaran fisik. Mereka menembak secara bergiliran.

“Semua beres kurang dari lima menit,” kata dia. “Setelah ditembak, terpidana itu akan lemas karena sudah tidak bernyawa.”

Seorang dokter memeriksa korban untuk memutuskan apakah dia sudah mati atau belum. Jika belum maka petugas akan menembak terpidana di kepala dalam jarak dekat. Korban kemudian akan dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti mati.

Algojo itu mengatakan dia hanya menjalankan tugas berdasarkan aturan hukum. “Saya terikat sumpah prajurit. Terpidana sudah melanggar hukum dan kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak kami serahkan kepada Tuhan.”

Setelah melaksanakan eksekusi, petugas menjalani bimbingan spiritual dan psikologi selama tiga hari. Seorang algojo juga diberi batas maksimal jumlah eksekusi yang bisa dilakukannya.

“Kalau cuma sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau harus berkali-kali bisa mempengaruhi secara psikologi,” kata dia.

“Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja.”

Suatu hari dia berharap bisa melupakan semua ini. “Saya harap mereka beristirahat dengan tenang,” kata dia. “Begitu pula saya.” terangnya. (mb/merdeka)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

KPK Lelang Berlian Ahmad Fathanah hingga Lukisan Sanusi

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menggelar lelang barang-barang rampasan dari hasil tindak pidana korupsi yang telah berkekuatan hukum tetap ((inkracht), pada...

Polisi Tangkap Pengguna Foto Iriana Jokowi untuk Sebar Hoax

Metrobatam, Jakarta - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menangkap pemilik akun media sosial Facebook Fajrul Annam, Hazbullah (38) di kediamannya, Jalan Suka Aman, Cicadas,...

Khofifah-Emil Dardak Resmi Terima Rekomendasi Golkar

Metrobatam, Jakarta - DPP Partai Golkar resmi merekomendasikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak sebagai bakal pasangan calon gubernur...

Viral! Sepasang Pengantin Bersanding di Atas Perahu Klotok Menyusuri Sungai Kalimantan

Metrobatam, Amuntai - Jika lazimnya sepasang pengantin bersanding di atas pelaminan, lain halnya dengan pasangan pengantin di Desa Padang Tanggul, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten...

Liga Champions: PSG Hancurkan Celtic 7-1

Paris - Paris Saint-Germain tetap bermain ngotot meski sudah lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Les Parisiens menghancurkan Celtic dengan skor mencolok 7-1. Meski...

Heboh! Buaya 5 Meter Nongol di Permukiman Warga, Ditembaki Masih Saja Melawan

Metrobatam, Bintan - Warga Sungai Enam Laut, Kecamatan Bintan Timur, Kepulauan Riau (Kepri) digegerkan dengan kemunculan buaya besar pada Sabtu 18 November 2017 lalu....

Kadernya Digaet Golkar di Pilgub Riau, PDIP: Semua Putusan Ada di Tangan Megawati

Metrobatam, Pekanbaru - Partai Golkar resmi mengusung Arsyadjuliandi Rachman sebagai calon gubernur Riau. Petahana itu akan diduetkan dengan kader PDI Perjuangan Suyatno selaku calon...

ICW Desak KPK Usut Dugaan Cuci Duit Setya Novanto

Metrobatam, Jakarta - Indonesian Corruption Watch (ICW) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjerat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto dengan Undang-Undang Nomor 8/2010...

Tebang Kayu di Tanah Ulayat, 2 Masyarakat Adat Malah Dipenjara

Metrobatam, Padang - Ernita dan Aslinda tak bisa menahan isak tangisnya saat menyambangi Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang di Jalan Pekanbaru, Ulak Karang...

DPR RI Gelontorkan Anggaran Rp34 Miliar untuk Pemeliharaan Jembatan 1 Barelang Batam

Metrobatam.com, Batam - Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengelontorkan anggaran Rp34 miliar untuk pemeliharaan jembatan Raja Haji Fisabillah guna mengantisipasi hal-hal yang...

Isdianto Terkejut, 3 Partai Pengusung Pilih Mantan Ketua BP Batam Mustofa Widjaja sebagai Cawagub...

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Langkah Isdianto untuk dapat menduduki kursi Kepri 2 nampaknya cukup berat. Setelah tiga partai pengusung, yakni PPP, PKB dan Partai Demokrat...

Iskandarsyah Siap Maju Meskipun Tanpa Ayah Syahrul

Metrobatam.com, Tanjungpinang - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Ing Iskandarsyah menegaskan akan maju baik sebagai Calon Walikota maupun Wakil Walikota Tanjungpinang...
BAGIKAN