Din Syamsuddin: Pengemis Jabatan Tak Direstui Islam

Metrobatam, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengkritik orang-orang yang berambisi mengincar jabatan. Menurut Din ajaran Islam tak merestui orang yang gila jabatan.

“Karena hadits mengatakan jangan beri jabatan kepada yang ambisius apalagi yang minta-minta jabatan,” tukas Din saat ditemui di bilangan Darmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (10/7).

Din menolak mencontohkan orang yang ambisius mengejar jabatan. Namun Din memberi indikasi bahwa orang yang ia maksud muncul di banyak spanduk.

“Sangat mungkin sekali,” imbuhnya.

Din sendiri mengaku senang bila ada tawaran sebagai kandidat cawapres atau bahkan capres. Menurutnya sudah sifat manusia tersanjung bila mendapat tawaran demikian.

Dalam sebuah survei publik terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu masuk dalam bursa cawapres potensial dari kalangan agama.

Din menyatakan siap dan sanggup menerima pinangan yang datang jika nanti benar ada. Ia merasa pengalamannya memimpin sejumlah organisasi dan lembaga cukup membuat dirinya kompeten.

Kendati demikian, Din merasa tidak layak mengajukan diri karena yang berhak mendorong capres atau cawapres hanya partai politik atau gabungan partai politik.

“Silakan kalau partai politik mencalonkan, kalau tidak ya sudah enggak apa-apa, sudah takdir demikian. Jadi jangan ambisius seperti…,” pungkas Din tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Hati-hati Mengatasnamakan Umat

Din Syamsuddin juga menyinggung penggunaan istilah ‘umat Islam’ oleh sejumlah kelompok tertentu. Pengklaim sebagai wakil umat itu pun makin santer digunakan jelang Pilpres 2019.

Din meminta tak ada pihak yang asal mengklaim terkait pengatasnamaan umat Islam dalam memperjuangkan kepentingan. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu berpendapat adu klaim dalam arena politik sebenarnya bukan hal yang baru. Namun akan menjadi generalisasi dan reduksionis ketika klaim itu dipakai sembarangan.

Ia pun mencontohkan penggunaan istilah umat Islam dengan realita bangsa Indonesia saat ini.

Dari sekitar 200 juta lebih penduduk muslim yang ada di Indonesia, Din memperkirakan hanya setengah yang bergabung dengan partai politik dan ormas berhaluan Islam. Sementara itu, sekitar 70 juta darinya ia taksir berada di level organisasi berskala nasional.

Din lantas menyatakan sekitar 100 juta muslim yang tak bergabung dalam partai atau ormas Islam itu juga bagian dari umat Islam.

“Jadi ketika ada sekelompok orang yang mengatasnamakan umat Islam, tadi saya berpendapat (memang baik-baik saja) tetapi perlu diketahui itu belum mewakili umat Islam,” ujar Din yang mengaku tahu angka-angka itu dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) di mana ia menjabat Ketua Dewan Pembina.

Din mengaku melihat gejala tersebut belakangan ini. Gejala itu bisa menguat ketika pemilu berlangsung. “Jangan terjebak klaim-klaiman dan akhirnya memecah belah di antara kita,” imbuhnya.

Din bahkan menilai muslim yang bekerja di partai atau ormas non-Islam bisa jadi bekerja lebih keras ketimbang mereka yang berada di partai atau ormas Islam. Padahal menurutnya mereka yang ada di sana sedang berdakwah dengan kadar kesulitan yang lebih tinggi.

“Jadi kalau ada yang bergabung di partai-partai lain itu jangan dikira mereka tidak berdakwah. Justru dakwahnya bisa lebih sulit dari ulama, dai, yang berada dikatakanlah di partai Islam atau kelompok yang menyebut dirinya Islam,” pungkasnya.

Sebelumnya imbauan mendinginkan suasana panas terkait Pilpres 2019 pun disampaikan dai asal Bandung, Abdullah Gymnastiar saat berdakwah di Masjid Istiqlal, Jakarta, 8 Juli 2018. Pria yang karib dengan sapaan Aa Gym itu menyorot sapa-sapaan sinis yang mendikotomi pendukung capres jelang Pilpres 2019 yakni ‘kecebong’ dan ‘kampret’.

“Allah memuliakan kita menjadi manusia. Jangan memanggil dengan gelaran-gelaran yang buruk,” katanya.

Sebutan kecebong dan kampret kerap ditemui di media sosial. Sebutan itu mengidentifikasikan kelompok pendukung politik tertentu.

Menurut Aa Gym, selain dilarang memanggil sesama manusia dengan gelar yang buruk, larangan lainnya adalah tidak boleh mengolok, mengejek, atau meremehkan orang yang berbeda sikap.

Sementara itu di Serang, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten AM Romly meminta para tokoh dan pemuka agama agar tak turut membuat panas kondisi masyarakat jelang tahun politik.

“Di tengah suhu politik yang semakin memanas, para tokoh agama dan tokoh masyarakat hendaknya dapat mengingatkan dan membimbing masyarakat agar tidak melakukan perbuatan tercela, sehingga merusak kerukunan dan kedamaian,” kata Romly di Serang, Banten, Selasa (10/7) seperti dikutip dari Antara.

Romly mengatakan, diantara perbuatan tercela sehingga merusak kerukunan dan kedamaian saat ini seperti penyebaran berita palsu, kabar bohong (hoaks) fitnah, ujaran kebencian, adu domba saling hujat dan perseteruan. (mb/cnn indonesia)

Metrobatam.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

BERITA TERKINI

Anggota DPR RI Dwi Ria Latifa Apresiasi Halal Bi Halal Warga Punggowo

Metrobatam.com , Batam - Anggota DPR RI Fraksi Partai PDIP, Dwi Ria Latifa mengapresiasi atas pelaksanaan halal bi halal Keluarga besar Punggowo Kota Batam...

Ocarina Batam Fasilitas Segala Permainan dan Hiburan Nyaman Sambil Mengadakan Gebyar Undian Hadiah Pemenang

Metrobatam.com - Batam Agus supryanto general manager ocarina menerangkan "dengan adanya memumumkan gebyar mega wisata new ocarina sudah ada pemenang nya, pemenang hasil undian...

Lantamal IV Gagalkan Penyeludupan TKI Ilegal ke Malaysia

Metrobatam.com - Tanjungpinang, 14 Juli 2018,…. Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Pangkalan Utama Angakatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang kembali menangkap 12 Tenaga Kerja...

Penindakan Satwa Dan Tumbuhan Kpu Bea Dan Cukai Tipe B Batam

Metrobatam.com - Batam Batam, KPU BC Batam konferensi pers kepada awak media mengenai hasil tindakan satwa dan tumbuhan, Jumat (13/07). Susila Brata Kepala Kantor KPU BC...

Hanura: Yang Sering Komporin Masyarakat Amien Rais

Metrobatam, Jakarta - Presiden Jokowi menilai ada 'politikus kompor' yang memanas-manasi suasana politik jelang pemilu 2019. Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir menyebutkan...

Geledah 5 Lokasi, KPK Sita Dokumen Keuangan Proyek PLTU Riau

Metrobatam, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) total menggeledah lima tempat terkait kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 yang menjerat Wakil Ketua DPR Komisi...

Polisi Periksa Sejumlah Saksi Terkait Pembantaian Ratusan Buaya di Sorong

Metrobatam, Jakarta - Polisi akan memeriksa sejumlah saksi terkait pembantaian terhadap 292 ekor buaya di penangkaran milik CV. Mitra Lestari Abadi, Provinsi Papua Barat....

Bagikan Bahan Pakaian untuk Menangkan Cagub Riau, Timses Ini Dibui

Metrobatam, Pekanbaru - Pihak Sentra Gakkumdu (Penegagakan Hukum Terpadu) Provinsi Riau memutuskan untuk melakukan penahanan terhadap warga berinisial DS. Pria tersebut ditahan karena diduga...

Modric: Tak Ada Penyesalan, Kroasia Lebih Baik dari Prancis

Moskow - Luka Modric berpendapat bahwa Kroasia bisa bangga sekalipun dikalahkan Prancis di final Piala Dunia 2018. Kroasia bermain lebih baik sekalipun gagal juara. Kroasia...

Wakapolri Klaim Punya Alat Canggih Tangkal Terorisme

Metrobatam, Jakarta - Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan saat ini Polri telah memiliki alat canggih guna menangkal aksi terorisme di Indonesia. Menurutnya, saat ini Polri...

Keluarga Lalu Zohri Tak Pernah Menolak Renovasi Rumah

Metrobatam, Jakarta - Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri, Baiq Fazila, menyangkal jika keluarganya menolak bantuan renovasi rumah mereka di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pihaknya...

Pertimbangan PD Merapat ke Jokowi, Cawapres Harus Bersahabat

Metrobatam, Jakarta - Partai Demokrat (PD) menanti pengumuman dari Presiden Joko Widodo untuk menentukan siapa sosok cawapresnya di Pilpres 2019. Sosok cawapres Jokowi akan...
BAGIKAN